My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Mau Bersamaku Belajar?


__ADS_3

Suara tangis El membuat Shea yang menikmati tidurnya, mengerjap. Saat membuka matanya dia melihat wajah Bryan berada tepat di hadapannya. Melihat ke arah tubuhnya, Shea mendapati Bryan memeluknya erat.


Kapan dia kemari?


Shea merasa bingung, karena dia tidak merasakan sedikitpun kedatangan Bryan semalam.


Suara El yang semakin kencang karena lapar langsung membuat Shea melepaskan pelukan suaminya dan beralih pada anaknya. Membuka kancing piyamanya, dia menyusui El.


Bryan yang merasakan Shea lepas dari pelukannya, menggeser tubuhnya agar bisa kembali memeluk istrinya itu. Memperoleh kehangatan yang sempat hilang sesaat.


Merasakan pelukan suaminya, Shea tidak bisa mengelak, karena takut suaranya pasti akan membuat El terbangun. Akhirnya, dia membiarkan suaminya itu untuk memeluknya.


Beralih pada El, Shea melanjutkan menunggu El yang sedang minum susu. Perlahan bayi kecil itu tertidur kembali. Saat mata kecil El sudah terpejam, dia merapikan kembali piyamanya.


Karena masih jam tiga pagi, akhirnya Shea memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya. Merasakan kehangatan yang diberikan oleh Bryan.


***


Shea yang merasakan buang air kecil, mengerjap. Dia menyibak selimut dan menyingkirkan tangan Bryan. Dia bangun dari tempat tidur, karena ingin buru-buru ke kamar mandi.


Namun, belum sempat tubuhnya bangun sempurna, tangan Bryan menarik kembali tubuh Shea. "Sayang, jangan pergi," pintanya.


"Aku mau ke kamar mandi," ucap Shea berusaha melepaskan pelukan dari Bryan.


"Oh … aku pikir kamu mau pergi kemana." Bryan melepas pelukannya dan membiarkan Shea untuk ke kamar mandi.


Lepas dari pelukan Bryan, Shea buru-buru menuju ke kamar mandi. Dia ingin menuntaskan panggilan alam yang sudah dia tahan dari tadi.


Setelah selesai, Shea keluar dari kamar mandi. Saat keluar kamar, dia sudah di sambut tangis El.


"Sepertinya dia haus," ucap Bryan yang sedang menggendong El untuk menenangkan El.


Shea menghampiri Bryan, dan meminta El dari gedongan Bryan. Dia duduk di samping Bryan dan menyusui anaknya agar berhenti menangis.


Bryan memperhatikan istrinya yang membuka piyama dan mengeluarkan dadanya. "Kalau aku menangis, apa aku juga akan dapat itu?" tanya Bryan polos seraya menunjuk dada Shea.


Mendengar ucapan suaminya, Shea terkesiap. "Menangis saja …. "


"Benarkah?"potong Bryan sebelum Shea selesai bicara. Matanya berbinar mendengar Shea mengizinkan.


"Tetapi aku tidak akan memberikan seperti yang El dapatkan," lanjut Shea.

__ADS_1


Tubuh Bryan seketika lemas mendapati jawab istrinya. Karena gemas dia ingin mencium Shea, tetapi Shea memundurkan wajahnya. Tidak mendapati bibir Shea untuk dikecup, Bryan beralih pada El. Dia mendaratkan kecupan di pipi El, tetapi tidak itu saja, karena Bryan beralih pada dada Shea dan menyesapnya sedikit.


"Daddy tidak dapat yang tengah juga tidak apa-apa. Cukup pinggiran saja. Seperti pizza pinggiran juga enak, apalagi jika ada sosis atau keju," ucap Bryan pada El.


"Emm … " jawab El. Mulut kecil El yang sedang menyesap puncak dada mommy-nya tidak bisa mengeluarkan gumaman, tetapi hanya dehaman saja. Dengan cueknya bayi kecil itu mengabaikan Bryan dan fokus menyesap susu.


Bryan yang gemas diabaikan dan kesal dengan jawaban El, langsung mendaratkan kecupan di pipi El.


Shea yang melihat aksi Bryan akhirnya tertawa. Dia melihat jelas bagaimana El mengabaikan Bryan dan menjawab ucapan daddy-nya dengan dehaman.


Mendengar tawa istrinya, Bryan beralih pada melihat istrinya itu. "Dari kemarin aku tidak melihat tawa ini," ucapnya seraya membelai pipi Shea.


Tawa Shea langsung berhenti. Dia menyadari jika wajah garangnya yang ada beberapa hari ini.


"Maaf," ucap Bryan. Tatapan sendu penuh harap terlihat di matanya. Dia mengingat bagaimana kecewa Shea sampai terbawa ke dalam mimpinya.


Tangan kiri Shea membelai wajah Bryan. Niatnya untuk mendiami Bryan sebulan sepertinya sirna saat melihat wajah Bryan.


"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Bryan memejamkan matanya merasakan belaian lembut tangan istrinya.


"Mau bersamaku belajar menjadi orang tua yang baik?" Satu pertanyaan yang keluar dari mulut Shea. Dia menatap penuh damba pada Bryan.


Shea tersenyum. "Aku tahu pasti akan sulit untuk mengubah kebiasaan, tetapi aku akan menemani dan mengingatkanmu."


"Terima kasih, Sayang," ucap Bryan seraya mengecup tangan Shea.


Saat sedang asik menikmati tangan halus istrinya, tiba-tiba tangan kecil El mendarat di pipi Bryan. Walaupun tidak keras, tetapi cukup membuat Bryan terkejut. Dia langsung beralih pada anaknya, untuk melihat wajah seperti apa yang ditujukan anaknya itu.


Benar saja, wajah santai terlihat dari El. Bayi kecil itu terus saja menyesap puncak dada mommy-nya dan tidak perduli dengan apa yang baru saja dia lakukan.


Seketika tawa Shea terdengar. "Daddy anggu acu num," ucapnya mengungkapkan apa yang mungkin dirasakan oleh El.


"Kamu ya," ucap Bryan seraya menciumi pipi gembul El. Dia tertawa melihat anaknya yang begitu iseng saat dia sedang serius.


Tawa Bryan dan Shea mengisi kamar di pagi hari. Menyambut pagi yang begitu indah seindah sang surya yang menampakan sinarnya.


Saat menikmati kebahagiaan kecil itu, suara ponsel milik Bryan berdering, dan membuat Bryan dan Shea beralih ke arah nakas. Bryan pun langsung mengambil ponselnya. Melihat ke layar ponselnya, dia mendapati papanya yang menghubungi.


"Halo Pa," sapa Bryan. Dia sedikit heran kenapa tumben papanya menghubunginya.


"Bry, mama sedang sakit dan meminta Shea untuk menemani. Bisakah kamu antar Shea ke sini?"

__ADS_1


Mendengar ucapan papanya Bryan memikirkan jika memang mamanya begitu sayang dengan dengan Shea, jadi wajar nama Shea yang dicari saat mamanya sakit. "Baiklah, aku akan mengantar Shea ke sana," jawabnya.


"Baiklah. Papa tunggu."


Bryan mematikan sambungan telepon saat sudah selesai berbicara dengan papanya. Dia pun meletakan ponselnya di atas nakas kembali.


"Kenapa?" tanya Shea. Dia yang selesai menyusui El, mengancingkan kembali piyamanya.


"Mama mau kamu ke sana, jadi nanti aku akan antar kamu ke rumah mama."


"Tetapi nanti Kak Selly juga akan menitipkan Al."


"Ya sudah bawa saja Al juga ke rumah mama."


Shea menimbang-nimbang apa yang katakan Bryan. "Ya sudah aku akan membawa Al ke sana."


"Baiklah, nanti aku akan mengantarmu," ucap Bryan. Bangkit dari tempat tidur, dia menuju ke kamar mandi. Namun, dia berhenti sejenak dan kembali menatap Shea. "Kamu sudah memaafkan aku, kan?" tanyanya.


"Iya, tetapi buktikan juga jika kamu berubah."


"Aku janji akan buktikan padamu jika aku akan menjadi ayah yang baik," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di pipi Shea. Senyum tergambar di wajah tampannya. Merasakan bahagia karena bisa mendapatkan maaf dari Shea.


Melanjutkan langkahnya, Bryan menuju kamar mandi.


Melihat wajah suaminya yang begitu senang, Shea tersenyum. Baginya tak ada gunanya jika Bryan berubah tanpa dirinya, dan memaafkan Bryan adalah pintu pembuka bagi Bryan menuju kebaikan.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa like dan vote...


...Untuk info up novel kalian bisa follow...


...Instagram : Myafa16...

__ADS_1


__ADS_2