
Shea membantu Selly berjalan. Sebenarnya tidak dalam artian membantu sebenarnya. Dia hanya berjaga-jaga karena takut kakak iparnya itu jatuh.
Masuk ke dalam butik, mereka sudah di sambut oleh para pelayan. Pelayan langsung mengantarkan mereka menuju ke galeri.
Selly memilih duduk agar tidak lelah, karena dia belum lama bisa jalan. Dia memilih untuk meminta pelayan datang dan membawakan contoh gaun.
Berbeda dengan Selly, Shea berkeliling untuk mencari gaun. Mengingat pesan Bryan yang mengatakan jika para tamu undangan memakai black and white, Shea memilih di galeri gaun pengantin.
Pilihan warna putih memang di dominasi oleh gaun pengantin. Jadi dia berharap bisa menemukan salah satu gaun, yang bisa dipakai untuk pesta.
Mata Shea terus memandangi setiap gaun. Gaun-gaun memang memiliki potongan ekor yang panjang, karena memang gaun yang dijual untuk pesta pernikahan.
"Maaf Nyonya, apa bisa saya bantu." Salah seorang pelayan menghampiri Shea dan berniat membantu.
"Aku mencari gaun untuk pesta, tetapi yang warna putih." Shea menjelaskan pada pelayan butik.
"Baiklah, saya akan mencarikan." Pelayan berlalu dan mengambil beberapa gaun yang sesuai dengan permintaan Shea.
Sesaat kemudian pelayan datang dengan beberapa gaun yang di gantung. Dia memberikan pada Shea untuk dipilih.
Shea melihat-lihat gaun yang diberikan oleh pelayan. Hingga pilihannya satu pada gaun berbahan dasar chiffon dengan aksen lace di leher v-nya. Potongan yang ruffle ke bawah hingga ke kaki, membuat gaun tidak terlalu mirip dengan gaun pernikahan.
"Aku coba dulu yang ini dulu." Shea mengambil gaun yang disukainya dan membawanya ke dalam fitting room. Dia melepas pakaiannya dan menggantinya dengan gaun yang dibawanya.
"Sepertinya ini lebih cocok untuk pesta." Shea memutar tubuhnya dan melihat dari pantulan cermin. Panjang gaun yang pas, membuat Shea yakin jika gaun itu cocok untuk pesta.
Karena merasa sangat cocok, akhirnya Shea memutuskan untuk membeli gaun yang dicobanya.
Keluar dari fitting room, Stela menghampiri Selly. Tampak Selly masih kesulitan untuk memilih gaun.
"Kakak belum dapat?" tanya Shea.
"Ini." Selly menunjukan satu gaun pada Shea. "Atau ini?" tanyanya pada Shea menunjukan gaun satunya lagi.
"Yang ini saja." Shea menunjuk gaun pertama yang ditunjukan padanya.
"Baiklah, aku pilih yang ini," ucap Selly. Dia memberikan pada pelayan butik untuk membungkus gaun yang dipilihnya.
Shea dan Selly menuju ke kasir, untuk membayar pembelian gaun mereka. Mendapatkan gaun yang mereka inginkan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Namun, sebelum pulang Selly meminta Shea untuk makan terlebih dahulu, karena sudah memasuki jam makan siang. Selly meminta supir untuk berbelok di restoran yang berada di dekat butik.
Shea dan Selly langsung memesan makanan dan menunggu pesanan makanan datang.
"Apa kalian jadi jalan-jalan?" tanya Selly saat sedang menikmati makanan.
"Belum tahu, Kak." Shea belum bisa memastikan mengingat El yang baru akan ditinggal saja demam. Bagaimana jika sampai benar-benar dia pergi?
"Kalau mau pergi, biarkan El bersama aku dan Regan."
"Iya, Kak. Nanti akan aku kabari."
Selesai makan, Shea dan Selly akhirnya memilih untuk pulang. Selly menurunkan Shea di rumahnya, dan berpamitan untuk langsung pulang dan tidak mampir.
Shea pun berterima kasih dan keluar dari mobil Selly. Dia masuk ke dalam rumah untuk menemui Bryan dan anaknya. Namun dia tidak menemukan anaknya di kamar bayi mau pun kamarnya.
Mendengarkan suara gemericik air, Shea mendengar jika di dalam kamar mandi ada orang. Dia menduga jika itu adalah Bryan.
Meletakan paper bag berisi gaun miliknya, dia menunggu Bryan keluar dari kamar mandi. Shea ingin tahu kemana perginya anaknya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Bryan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya," jawab Shea, "El di mana?" tanyanya penasaran.
"Oh, dengan mama." Shea merasa tenang saat anaknya bersama dengan mertuanya.
"Sebaiknya kamu bersiap, dan kita jemput El untuk datang ke acara," jelas Bryan.
Shea mengangguk. Bryan memang menjelaskan jika dia akan mengajak anaknya, karena acara diadakan pada sore hari.
Menuju ke kamar mandi, Shea membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum pergi ke acara pesta.
Melihat Shea yang sudah ke kamar mandi, Bryan mengambil bajunya. Memakai kemeja terlebih dahulu, Bryan berlanjut dengan celananya.
Shea yang sudah selesai, melihat Bryan yang sedang kesulitan memakai dasinya. Dia pun menghampiri suaminya itu dan membantunya memakaikannya.
"Dulu saat waktu belum menikah bagaimana kamu memakai dasi?" tanya Shea seraya memakaikan dasi pada Bryan. Shea benar-benar heran karena suaminya selalu saja tidak bisa memakai dasinya.
"Dulu aku bisa, tetapi setelah menikah tiba-tiba aku hilang ingatan," jawab Bryan nyleneh.
__ADS_1
Shea memukul lengan Bryan sambil tertawa. Suaminya itu bisa saja menjawab pertanyaannya.
"Tadi apa yang kamu kerjakan dengan Kak Regan dua krucil?" Shea mengalihkan pertanyaan lain pada Bryan.
"Rahasia," jawab Bryan mendramatisir.
Shea memutar bola matanya malas mendengar jawab Bryan. Dia yakin ada hal aneh yang sedang dilakukan oleh suaminya.
"Aku akan memakai jas dan sepatu. Jadi kamu bisa bersiap."
Mendengar ucapan suaminya, Shea menuju ke meja rias. Duduk di meja rias, dia mulai memoles wajahnya. Riasan natural, terlihat dari pantulan cermin. Tampilan itulah yang disukai oleh Shea, karena tidak terlalu menonjol.
Beralih pada gaunnya, dia memakainya. Rambut panjangnya sengaja dia gulung ke atas dan dihiasi dengan jepit bunga.
Bryan yang melihat istrinya begitu cantik, benar-benar terpesona. Dia terpaku melihat istrinya yang sedang asik memakai giwang di telinganya.
"Kalau kamu secantik ini, rasanya aku tidak mau pergi." Bryan memeluk erat tubuh Shea dari belakang.
"Jangan macam-macam," jawab Shea melihat Bryan dari pantulan cermin.
Kali ini Bryan menuruti Shea. Dia melepas pelukan dan kembali bersiap. Setelah selesai Shea dan Bryan menuju ke rumah Selly untuk menjemput anaknya.
Saat sampai di rumah Selly. Rumah tampak sangat sepi. Mereka pun masuk lebih dalam agar dapat menemui Selly ataupun Regan. Akan tetapi mereka tidak menemukan satu orang pun.
Asisten rumah tangga yang membukakan pintu pun, hilang entah kemana, dan membuat Shea semakin bingung.
"Kemana mereka semua?" tanya Shea pada Bryan.
Suara baby Al dan El terdengar dari taman belakang, dan itu membuat Shea dan Bryan menyusul ke taman.
Namun, Shea dibuat heran saat pintu belakang tampak tertutup. Pintu kaca yang biasa tertutup gorden saat malam, terlihat tertutup sekarang. Padahal, ini masih sore.
Bryan membuka pintu dan meminta Shea untuk keluar dari dalam rumah menuju ke taman belakang.
Mata Shea membulat sempurna, saat melihat pemandangan di hadapannya.
.
.
__ADS_1
.
.