
Pagi ini setelah sarapan Bryan dan Shea pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terkenal di London. Rencananya mereka akan bertemu dengan Regan, Selly, Felix dan Chika.
Sampai di pusat perbelanjaan, Bryan mendorong stroller El dan mencari kakak dan temannya berada.
Setelah bertemu mereka semua berkeliling untuk melihat-lihat. Selly dan Regan berada di baris paling depan dengan Regan yang mendorong stroller Al.
Di belakang ada Bryan dan Shea dengan Bryan yang mendorong stroller El. Di paling belakang ada Felix dan Chika yang mengekor di belakang.
Tangan Shea melingkar di lengan Bryan. Sesekali Shea menunjuk beberapa toko yang juga ada di Indonesia dan sering dia kunjungi.
Berbelok ke salah satu toko tas terkenal, para wanita melihat-lihat koleksi tas. Para pria asyik menunggu para bayi.
"Cepatlah menikah, jadi paling tidak kita bertiga bisa jadi hot daddy," ucap Bryan pada Felix.
Felix langsung tertawa. "Sebutan itu menggelikan sekali," cibirnya.
"Apa kamu tidak iri dengan aku yang sudah punya anak dan istri?" ledek Bryan kembali.
"Aku tidak iri denganmu. Aku justru iri dengan Kak Regan."
Dahi Bryan berkerut dalam. "Kenapa Kak Regan?"
__ADS_1
"Karena Kak Regan dan Kak Selly bisa menikmati waktu berdua lebih banyak sebelum punya anak," jelas Felix, "jadi paling tidak aku ingin seperti dia, tidak seperti dirimu," telak Felix.
Bryan mendengus kesal. Dia tahu jika kakaknya begitu lama menanti buah hati jadi mereka bisa mengunakan waktu berdua dengan puas. Tidak seperti dirinya yang tiba-tiba Shea hamil. Hingga susah mengajak Shea jalan-jalan. Baru ke puncak saja Shea sudah lahiran.
Regan yang mendengar perdebatan dua orang di sebelahnya, menggeleng. "Jangan seperti aku juga yang terlalu lama menunggu. Berharap saja kamu bisa punya waktu yang puas untuk bersama Chika sebelum anak kalian lahir." Regan yang cukup lama menunggu Al lahir, merasa sangat sedih dulu. Perjuangan Selly dan Regan tak bisa dianggap remeh. Untung keduanya saling memahami jadi tak pernah menjadikan semua masalah.
"Iya, juga. Aku akan tentukan waktu hamil yang pas," ucap Felix dengan bangga.
"Mana bisa begitu?" tanya Bryan mencibir.
"Bisa saja. Sekarang jaman sudah canggih. Anak bisa diprogram."
"Cih ... aku doakan programnya gagal dan kalian akan mendapatkan anak segera."
"Aku hanya mendoakan yang baik. Seperti doa-doa untuk orang sudah menikah," elak Bryan membela diri.
Regan memijat kepalanya mendengar dua pria di dekatnya berdebat. "Sudahlah, Felix juga belum menikah. Kenapa kalian bahas sekarang?" Kesal karena perdebatan tak selesai-selesai Regan menengahi perdebatan.
Dari kejauhan tiga wanita menghampiri tiga pria yang sedang menunggu anak-anak. "Kalian kenapa?" tanya Selly yang menghampiri tiga pria. Shea dan Chika di belakang juga dibuat bingung dengan Regan yang tiba-tiba kesal.
"Tidak apa-apa. Kami tadi hanya memperdebatkan ke mana kita akan makan siang." Felix menjawab lebih dulu, tidak mau sampai Bryan atau Regan berbicara karena pasti Chika merasa malu jadi bahan pembicaraan.
__ADS_1
Selly mengangguk. Dia kemudian menyampaikan niatnya pada Regan untuk membeli tas. Shea pun juga begitu mengatakan apa yang dia ingin beli. Akhirnya dua pria itu menitipkan anak-anak pada Felix dan pergi melihat tas.
Selly memilih tiga tas sedangkan Shea memilih dua tas. Dua wanita itu begitu senang saat mendapatkan tas pilihan mereka. Setelah puas melihat-lihat tas mereka berpindah toko lain untuk melihat baju-baju.
Melihat dress cantik Selly kalap membeli. Dia membujuk Shea dan Chika untuk membeli juga. Mau tak mau dua wanita itu ikut membeli.
Bryan menatap tajam pada Regan selaku suami dari kakaknya itu. "Istrimu benar-benar racun," keluhnya.
"Istriku adalah kakakmu jadi kamu juga semacam racun," jawab telak Regan.
Kali ini giliran Felix yang tertawa. Menyaksikan dua daddy itu saling berdebat. "Al, El, nanti jika kalian besar jangan suka berdebat ya," ucap Felix. Kalimat itu, suatu saat akan Felix ulang ketika dua pria kecil itu akan bertengkar nanti.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kok Chika ga beli?
Yuk baca Wedding Project