
Suara bel rumah terdengar saat Bryan dan Shea sedang sarapan. Bryan yang menduga itu adalah kakaknya. Dia berdiri untuk membuka pintu.
"Hai, Bry," sapa Regan saat pintu dibuka.
"Hai, Kak." Bryan balas menyapa kakak iparnya. Dia melihat Regan yang sedang mengendong Al.
"Aku ingin menitipkan Al," ucap Regan.
"Sini." Bryan Meraih Al dari gendongan Bryan. Dia beralih pada babysitter dan memintanya untuk membawa barang Al ke dalam rumah. "Nanti Shea akan ke rumah mama, jadi siang tidak perlu ke sini." Bryan memberitahu Regan tentang rencana Shea.
"Baiklah."
"Nanti sore kami akan antar Al pulang."
Regan mengangguk dan berpamitan untuk mengantar Selly ke rumah sakit. Melangkah kembali ke mobil, Regan masuk ke dalam.
"Sepertinya Bryan belum berangkat," ucap Selly saat melihat Regan masuk ke dalam mobil.
"Belum," jawab Regan seraya memutar kunci mobilnya. Menginjak pedal gas, dia melanjutkan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Hari ini selain terapi, Selly akan melakukan medical cek up, untuk melihat perkembangan kesehatannya.
"Tadi Bryan bilang Shea akan ke rumah mama." Regan menceritakan apa yang tadi dijelaskan oleh Bryan..
"Berarti Al juga akan ikut ke sana?"
Regan yang sedang fokus pada jalannya, menoleh sejenak pada Selly. "Iya."
"Kalau begitu setelah dari dari rumah sakit, kita ke rumah mama saja," jawab Selly.
Regan tersenyum menatap Selly. "Baiklah." Dia meneruskan menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Regan dan Selly langsung melakukan serangkaian pengecekan kesehatan. Dari hasil pengecekan, dinyatakan kesehatan Selly sudah sangat baik. Tinggal menjaga pola hidup sehat saja.
Berlanjut, Regan menemani Selly untuk terapi. Sebenarnya Selly sudah beberapa kali belajar jalan, tetapi selalu saja dia terjatuh, dan itu membuatnya takut. Namun, kali ini akhirnya dia memberanikan diri karena dia tidak mau berlama-lama di kursi roda.
Di bantu terapis, Selly belajar berjalan. Setapak demi setapak dia melangkah. Berpegang pada dua besi, dia berusaha untuk melangkahkan kakinya.
Regan yang berada di sampingnya memberikan semangat pada istrinya. Dengan setia dia menemani Selly melalui proses ini. Sampai akhirnya Selly mulai bisa tegak berdiri dan melangkah di antara dua besi.
Regan memeluk Selly saat melihat istrinya itu saat melihat istrinya itu bisa berdiri tegak. Rasanya tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat istrinya kembali sehat.
Selesai melakukan terapi, Regan mengajak Selly untuk pulang. Selly meminta Regan untuk memapahnya ke mobil.
Regan tidak ada pilihan selain menuruti keinginan Selly. Dia menuntun Selly menuju ke mobil.
"Kamu benar-benar bisa jalan." Regan tersenyum menoleh pada Selly. Dia melihat setiap langkah yang dilakukan oleh Selly.
"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mama, papa, Shea dan Bryan," ucapnya seraya melangkah lebih cepat, dan itu membuatnya sedikit terhuyung.
"Pelan-pelan," ucap Regan yang melihat Selly hampir terjatuh.
"Aku terlalu senang." Selly tersenyum memamerkan deretan giginya.
"Iya, tetapi jangan terlalu terburu-buru berjalan. Kamu masih baru sekali bisa berjalan." Regan memperingatkan dengan keras apa yang dilakukan istrinya itu.
"Iya."
Regan membawa Selly ke dalam mobil dan membantunya untuk masuk ke dalam mobil. Perawat yang membantu membawakan kursi roda milik Selly pun memberikan kursi roda pada Regan.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Regan memasukan kursi rodanya ke dalam bagasi dan beralih masuk ke dalam mobilnya. Dia buru-buru masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah mertuanya.
Di dalam perjalanan senyum Selly tergambar jelas di wajahnya. Dia amat senang saat kakinya bisa digerakkan sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Melihat senyum Selly, Regan juga tak kalah bahagia. Dia sengaja berbelok untuk membeli tongkat alat bantu jalan untuk Selly. Dia ingin istrinya tetap bisa berjalan walaupun tanpa bantuannya.
"Tunggulah di sini, aku akan membeli sesuatu."
"Baik."
Regan turun dari mobil dan membeli apa yang sudah dua pikirkan dari tadi. Setelah mendapatkan barang yang dia inginkan, dia kembali ke dalam mobil.
"Kamu membeli tongkat," ucap Selly saat melihat Regan masuk ke dalam mobil.
"Iya, jadi kamu tetap bisa berjalan tanpa aku."
Selly tersenyum. Dia beruntung suaminya selalu setia menemaninya dan tanpa lelah membantunya.
Regan melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah mertuanya. Dia pun juga tidak sabar membagi kebahagiaan dengan keluarganya.
Sesampainya di rumah mamanya, Selly dan Regan turun dari mobil. Regan dengan setia membantu Selly yang mengunakan alat bantu jalan. Bersama-sama mereka masuk ke dalam rumah.
Menekan bel rumah, mereka menunggu sejenak pintu dibuka. Hingga saat pintu dibuka, tampak Shea yang membuka pintu.
Shea yang melihat Selly berdiri, terkejut. Dia ternganga melihat Selly yang bisa berdiri dibantu dengan tongkat. Dilihatnya dari atas sampai bawah karena tidak percaya. "Kakak?" tanyanya.
"Iya," jawab Selly tersenyum.
"Kaki Kak Selly?" Shea masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku sudah bisa jalan sedikit-sedikit."
Shea memeluk Selly.
Regan yang melihat Shea akan memeluk Selly, langsung melepaskan pegangannya di tubuh Selly. Dia memberi ruang untuk Shea memeluk istrinya.
"Aku senang sekali," ucap Shea.
"Ayo, masuk, mama harus lihat ini," ucap Shea pada Selly. Dia memapah langkah Selly dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Melisa yang melihat anaknya terkejut. Dia langsung menghampiri Selly. Menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia langsung memeluknya erat menyalurkan kebahagiaan. "Kamu sudah bisa jalan?" tanyanya.
"Iya, Ma, tetapi masih perlahan dan masih butuh alat bantu."
"Mama senang sekali."
Shea terus saja masih memegangi Selly agar tidak terjatuh. Begitu pun Regan berada di sisi berseberangan dengan Shea. Dia tetap menjaga istrinya.
"Ayo, duduk." Melisa meminta Selly untuk segera duduk. Dia tidak tega berlama-lama.
Daniel yang berada di sofa pun langsung memeluk anaknya. Dia merasa ikut senang melihat Selly. "Papa tidak menyangka kamu akhirnya bisa jalan," ucapnya.
"Iya, Pa, Ma, Selly juga senang sekali bisa jalan." Selly tersenyum.
"Padahal kemarin Kak Selly masih takut saat aku pinta jalan." Shea yang mendengar ucapan Selly mengingatkan kakak iparnya itu. Selama ini memang Shea membantu Selly untuk berjalan. Akan tetapi setelah jatuh terkahir kali saat dia mencoba jalan sendiri, dia seolah kapok
"Iya, aku tidak mau berlama-lama di kursi roda."
"Ya sudah yang penting sekarang kamu sudah sehat," ucap Melisa seraya membelai rambut Selly.
Saat melihat mamanya, Selly teringat dengan kabar jika mamanya sakit. "Katanya Mama sedang sakit?" tanta Selly memastikan.
"Iya, tetapi sewaktu melihat cucu-cucu, sakit mama hilang."
Selly hanya bisa tersenyum karena ternyata mamanya sembuh saat melihat cucunya. Dia menyadari begitulah seorang nenek.
"Se, cepat hubungi Bryan agar pulang cepat, kita rayakan lagi." Melisa menatap menantunya. Memintanya untuk menghubungi Bryan.
__ADS_1
"Baik, Ma."
Shea mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Bryan. Dia menunggu sejenak sampai suara telepon tersambung.
"Halo, Sayang," ucap Bryan saat menerima panggilan telepon dari Shea.
"Sayang, Kak Selly sudah bisa jalan." Tanpa basa basi Shea memberitahu Bryan.
"Apa?" Bryan terkejut mendengar berita yang Shea sampaikan.
"Kak Selly sudah bisa jalan, dan mama meminta kamu untuk segera pulang."
Bryan begitu senang mendengar berita tentang kakaknya. "Baiklah, aku akan segera pulang."
"Baiklah."
Bryan mematikan sambungan teleponnya. Dia beralih merapikan mejanya kerjanya. "Sebaiknya kita lanjutkan saja besok pekerjaan ini," ucapnya pada Felix yang berada di di depannya.
"Kamu bahagia sekali, ada berita apa sebenarnya?" Felix yang melihat rona bahagia dari Bryan pun bertanya.
"Kak Selly sudah bisa jalan."
"Oh ya?" Felix pun ikut senang mendengar berita kakak temannya itu.
"Iya," jawab Bryan seraya merapikan meja kerjanya.
"Aku turut senang."
"Terima kasih."
"Oh ya, masalah perjanjian kita membujuk Shea sepertinya batal." Bryan yang teringat perihal perjanjian langsung memberitahu Felix.
"Apa kamu sudah baikan dengan Shea?" Felix tampak kecewa mendengar ucapan Bryan.
"Iya."
Felix mendesah frustrasi saat mengetahui jika ternyata temannya itu sudah berbaikan. Kini dia tidak ada cara lagi mendekati Chika karena Shea pasti masih marah padanya.
"Tenanglah, walaupun perjanjiannya batal, tetapi aku tetap akan membantumu." Bryan yang melihat temannya sedih langsung menenangkan.
"Benarkah?" Mata Felix berbinar mendengar ucapan Bryan.
"Iya, aku akan membujuk Shea nanti untuk membantumu." Bryan memikirkan Felix banyak membantunya, jadi membantunya mendapatkan wanita baik-baik tidak ada salahnya.
"Terima kasih. Kamu memang sahabatku." Senyum Felix merekah di bibirnya. Dia begitu senang.
"Cih … baru kali ini kamu mengakui aku sahabatmu," ucap Bryan memutar bola mata malas.
Felix tergelak saat mendengar ucapan Bryan. "Sudah sana pergi," ucapnya, "sampaikan salam dariku untuk semua."
"Kamu tidak mau ikut saja sekalian?"
"Pekerjaanku masih banyak."
"Baiklah."
Selesai merapikan meja kerjanya. Bryan bergegas pulang ke rumahnya. Dia pun tidak sabar melihat kakaknya.
.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote....