
"Brrrr …."
Suara semburan terdengar dan membuat Shea yang sedang di dapur lari ke meja makan. Alangkah terkejutnya Shea melihat El sedang menyemburkan makanannya dan lebih parahnya daddy-nya yang jadi sasaran.
Shea bergegas menghampiri Bryan. "Aku sudah bilang, biarkan aku saja yang menyuapi. Lihatlah sekarang jasmu terkena makanan." Tangan Shea membersihkan dengan tisu bekas semburan makanan di jas Bryan. Tawa kecil terselip di setiap ucapan Shea. Bagaimana dia tidak tertawa jika wajah Bryan terkena makanan.
"Tidak apa-apa. Aku ganti jas saja." Bryan menghentikan tangan Shea yang sibuk membersihkan jasnya. Dia beralih mencubit lembut pipi baby El. Bryan benar-benar gemas dengan anaknya yang sudah semakin pintar. Saat dia tidak suka makanan, dia menyemburkannya. Maklum, itu adalah tanda penolakannya.
"Ya, sudah." Shea beralih pada bayi kecil yang duduk di baby chair. Mulut kecilnya sudah penuh dengan pure ubi. Shea memang sedang mencoba menu baru. Sesuai dengan infomasi di laman internet yang dia temukan,
Informasi menyebutkan ubi bisa dibuat untuk MPASI. Namun, sayangnya anaknya tidak suka. Terbukti, dia justru menyemburkan makanannya pada daddy-nya.
"Sayang, kenapa disembur?" tanya Shea. Tangannya bergerak membersihkan dengan tisu basah.
"Brrrr …." El masih menyemburkan sisa-sisa makanan yang berada di mulutnya.
Shea tersenyum kemudian memberikan air putih agar membuang sisa-sisa makanan yang masih menempel di mulut.
"Apa tidak enak?" tanya Shea dan mendapati jawaban gumaman dari El. "Nanti mommy buatkan yang baru ya. Seperti biasa wortel, kentang dan salmon." Shea berkomunikasi dengan El. Bayi kecil itu pun juga menjawab setiap ucapan mommy-nya.
Shea membuka bib apron yang melingkar di leher El. Kemudian dia menggendong El, menyusul Bryan yang sedang mengganti baju di kamar.
"Daddy … " panggil Shea seraya membuka pintu. Saat masuk Shea melihat Bryan sedang memakai dasinya di depan cermin. Suaminya itu tampak kesulitan.
__ADS_1
"Bisakah kamu membantuku?" Tatapan penuh permohonan dari Bryan terlihat dari pantulan cermin.
Shea tersenyum. Melangkah ke tempat tidur untuk meletakkan El terlebih dahulu. Kemudian dia menghampiri Bryan yang berdiri di depan cermin.
"Kamu terlalu lama bergantung padaku hanya untuk memakai dasi. Jadi akhirnya kamu tidak bisa memakainya sendiri," gerutu Shea. Tangannya terus membuat simpul di kerah baju Bryan.
"Aku memang sengaja melupakan caranya, agar aku bisa selalu memintamu memakaikannya," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di pipi Shea.
"Sayang … " elak Shea. Bryan yang menciumnya membuat tidak bisa mengawasi El. Padahal sedari tadi ekor matanya mengawasi El yang sedang di tempat tidur.
Buru-buru Shea menoleh pada El. Memastikan apa yang dilakukan bayi kecil itu. Ternyata El sedang melayangkan kakinya keatas untuk dibuat mainan. Memang semakin usia El bertambah membuat Shea semakin waspada. El sudah berguling-guling jadi wajar Shea sangat khawatir.
"Apa kamu jadi pergi dengan Kak Selly?" Bryan menengadah dan tidak bisa menatap istrinya saat berbicara.
"Memang apa yang kalian belum beli?" Seingat Bryan, Shea sudah dua minggu ini sering sekali pergi dengan Selly dengan alesan membeli barang-barang yang diperlukan ke luar negeri.
Sesuai dengan rencana keluarga Maxton dan Adion akan pergi ke Inggris. Mereka akan meresmikan apartemen Regan yang dibangun Bryan selama setahun lebih ini. Apartemen berlokasi di Bradford dekat dengan Bradford University-salah satu Universitas dengan reputasi internasional.
"Kamu tahu 'kan, ini akan jadi pertama kali aku ke luar negeri, jadi aku tidak mau sampai ada yang terlupa." Shea benar-benar merasakan takut pergi untuk pertama kali. Banyak keperluan El dan dirinya yang terkadang terlupa dan akhirnya membuatnya bolak-balik pergi ke mal.
Bryan tersenyum. Kemudian menatap Shea setelah istrinya itu selesai memakaikan dasi. Tangannya menangkup pipi istrinya. "Jika ada yang kurang kita bisa beli di sana."
"Iya, tetapi jika masih bisa disiapkan dari jauh-jauh hari kenapa tidak."
__ADS_1
"Ya sudah, pergilah, tetapi tetap hati-hati." Bryan tak mau membuat istrinya bersedih hanya karen hal sepele.
Bryan memutar tubuhnya mengambil jas dan memakainya, sedangkan Shea berbalik menghampiri El untuk menggendongnya.
"Apa nanti kita di sana akan jalan-jalan?" tanya Shea. Rasanya sayang sekali sampai di sana tetapi tidak menikmati indahnya kota di sana.
"Iya, kita akan jalan-jalan. Aku akan tujukan keindahan London padamu." Bryan mememang sudah merencanakan banyak hal, tetapi dia masih belum menceritakan pada Shea. Bryan mendaratkan kecupan di dahi Shea dan beralih pada bayi kecil yang baru saja membuatnya harus mengganti jas.
Shea tersenyum. "Aku benar-benar tidak sabar," ucapnya meluapkan perasaan senangnya.
Shea dan Bryan keluar dari kamar. Shea yang mengendong El mengantarkan Bryan ke depan. Tangan Shea melambaikan ke arah mobil Bryan.
Saat mobil sudah hilang dari pandangannya dia masuk ke dalam rumah. El yang tadi belum sempat makan, akhirnya membuat Shea kembali ke dapur untuk membuatkan makanan lagi. Sebelum pergi dengan Selly, dia ingin memastikan anaknya kenyang.
.
.
.
...Mau nunggu naik levelnya, tapi ga naik-naik😭...
...Ya sudah aku kasih dikit2 ya. Ini up bareng sama wedding project jadi harap maklum kalau dikit....
__ADS_1
...Di sini like dan komentar aja. Vote hadiah bisa kasih ke Wedding Project ya....