My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Membangunkan Macan Tidur


__ADS_3

Bryan menelan salivanya saat melihat Shea menatapnya. Nyalinya ciut seketika melihat tatapan tajam dari Shea.


Felix yang masih merasakan pusingnya, semakin tambah pusing saat melihat Chika ada di rumah Bryan. Dalam keadaan kacau seperti sekarang, membuat pesonanya seketika menghilang.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada suamimu dan Felix," bisik Chika pada Shea. Matanya melihat ke arah Felix. Tampilan pria itu benar-benar kacau. Rambut acak-acakan, mata merah, dan baju yang kusut.


"Mereka habis berpesta," jawab Shea ketus.


Melihat Shea yang begitu tampak kesal, Chika mengerti. Apalagi tampilan Bryan dan Felix sudah menjelaskan apa yang sedang terjadi pada mereka. Aroma alkohol yang tercium pun ikut menjelaskan jika pesta yang dimaksud adalah pesta disertai dengan acara mabuk.


"Sayang," ucap Bryan. Dia melangkah menghampiri Shea.


"Berhenti di tempatmu, dan jangan mendekat!" Dengan tatapan tajam, Shea mengancam Bryan.


Sepertinya aku sudah membangunkan macan tidur.


Bryan benar-benar merutuki kesalahannya yang mabuk. Namun, semua sudah terjadi, dan kini dia harus mempertanggung jawabkan semuanya.


"Chika, berikan berkasnya padanya," ucap Shea pada temannya.


Chika berdiri, dan menghampiri Bryan. "Maaf, Pak, kemarin saya ke kantor ingin meminta tanda tangan, tetapi Pak Bryan tidak ada di tempat." Dengan menyerahkan berkas Chika menjelaskan pada Bryan.


"Kemarin?" tanya Bryan bingung, "Bukannya kita ada di kantor kemarin?" tanya Bryan pada Felix.


"Iya, kita ada di kantor, dan sorenya kita bertemu Farhan," jawab Felix.


"Ini hari selasa" Suara Shea yang dingin terdengar saat Bryan dan Felix tampak kebingungan.


Mata Bryan dan Felix yang lesu seketika membulat, diiringi dahi yang berkerut. Otak mereka berputar memikirkan kenapa bisa hari ini adalah hari kamis.


"Acara kemarin hari apa?" tanya Bryan pada Felix.


"Em … sabtu … eh … minggu," jawab Felix bingung.


"Yang benar hari apa?" Bryan memastikan pada Felix. "Sebenarnya dirimu sudah sadar belum, kenapa tidak bisa berpikir?" tanya Bryan dengan nada menyindir. Suaranya sengaja dia rendahkan agar anaknya tidak mendengar.


"Kamu sendiri, sudah sadar belum? Kalau sudah, pikirkan saja sendiri," jawab Felix malas.


"Acaranya hari minggu," ucap Shea yang mendengar perdebatan suaminya dan Felix.


Bryan dan Felix saling pandang. Mereka merasakan bingung dengan penjelasan dari Shea.


Bryan beralih menatap tangannya. Menggenggamnya, dia membuka jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis seraya berkata. "Minggu … senin … Selasa." Dia menghitung hari yang diberitahu oleh Shea

__ADS_1


Felix melihat jari Bryan. "Jika acara hari minggu" ucap Felix menunjuk jari telunjuk Bryan. "Dan hari ini, hari selasa," ucapnya kembali seraya menunjuk jari manis milik Bryan. "Jadi satu hari ini kita kemana?" tanya Felix menunjuk jari tengah milik Bryan.


Bryan yang bingung mengangkat jari tengahnya dan menatapnya. "Hari ini kita kemana?" tanyanya.


Chika yang berada di depan Bryan menahan tawanya. Dia melihat kebingungan Bryan yang menghitung hari. Namun, bukan itu saja yang membuatnya ingin tertawa, karena bagaimana Bryan menaikan jari tengahnya seolah dia sedang mengumpat.


Shea yang berjarak cukup jauh sebenarnya sangat kesal, tetapi melihat tingkah bodoh suaminya, rasanya dia benar-benar merasa gemas. "Kalian tidur seharian, dan baru bagun pagi ini." Akhirnya Shea menjelaskan pada suaminya dan Felix.


Bryan menurunkan tangannya, dan menelan salivanya kasar. Dia tidak menyangka jika ternyata dirinya dan Felix tidur seharian setelah mabuk. Dia menatap Shea, tetapi istrinya itu menatapnya tajam. Akhirnya dia memilih mengalihkan pandangan.


"Chika mana yang harus aku tanda tangani?" tanya Bryan.


"Ini, Pak." Chika menyodorkan kembali berkas dan pulpen pada Bryan.


Bryan langsung menerima berkas dan menandatangani. Kemudian dia memberikan kembali pada Chika.


"Terima kasih, Pak," ucap Chika. Dia berbalik dan menghampiri Shea. "Aku pamit dulu ya, Se, karena aku harus kembali ke kantor," ucapnya pada Shea.


"Baiklah, hati-hati," ucap Shea seraya menautkan pipinya.


"Da … El," ucap Chika seraya membelai lembut pipi El. Dia beralih menatap Bryan terlebih dahulu sebelum pergi. "Saya permisi dulu, Pak," ucapnya.


"Iya."


Melihat Chika yang pergi, Felix pun ikut berpamitan. Atmosfir kemarahan Shea sudah begitu sangat panas, jadi dia lebih memilih untuk segera pergi. "Kalau begitu aku pamit sekalian," ucapnya.


"Iya, pergilah, dan jangan kembali!" ucap Shea ketus.


Nyali Felix pun ciut saat mendengar ucapan Shea. Dia beralih pada Bryan. "Selamat berjuang," ucapnya lirih seraya menepuk bahu Bryan.


Dalam hati Bryan mengumpat untuk temannya itu. Bagaimana tidak, saat temannya yang menjerumuskannya, kini dia harus menanggungnya sendiri.


Felix buru-buru mengejar Chika sebelum gadis itu pergi jauh dari rumah Bryan.


Di ruang keluarga tinggal Bryan dan Shea saja. Suasana begitu dingin. Tatapan tajam Shea menandakan jika dirinya begitu kesal.


Karena anaknya masih belum tidur, Shea tidak mau berdebat dengan suaminya itu. Akhirnya dia berlalu meninggalkan Bryan menuju ke kamar bayi.


Bryan yang melihat istrinya pergi langsung kalang kabut. Dia benar-benar takut istrinya itu marah. Dia langsung mengejar istrinya itu.


Shea yang dikejar mempercepat langkahnya, agar suaminya itu tidak dapat mencapainya. Namun, langkah Shea yang cepat dan Bryan yang mengejar seolah membuat mereka sedang kejar-kejaran.


Baby El yang di dalam gendongan Shea dan menghadap ke belakang, melihat daddy-nya yang sedang mengejar. Bayi kecil itu justru berteriak senang, karena merasa daddy-nya sedang menggodanya dengan mengejarnya. Suara tawanya terdengar riang saat melihat daddy-nya yang mengejar.

__ADS_1


Shea sempat kewalahan karena tubuh kecil El justru bergerak-gerak karena tertawa girang.


Bryan yang berada di belakang anaknya justru tertawa saat melihat anaknya menganggap dia sedang mengejar bayi kecil itu.


Sampai di kamar bayi, Shea masuk dan langsung mengunci pintu, dan membuat Bryan berhenti di depan pintu. Bryan mendesah frustrasi melihat pintu kamar bayi dikunci.


Namun, dia buru-buru beralih pada pintu penghubung di kamarnya. Dia memilih untuk lewat di sana saja. Masuk ke dalam kamar, dia membuka pintu penghubung, tetapi dia harus kecewa karena pintunya dikunci juga. ''Sayang, aku bisa jelaskan," ucapnya seraya mengetuk pintu.


Sayangnya Shea tidak membukakan pintu. Kepala Bryan yang masih pusing pun bertambah pusing saat mendapati kemarahan Shea.


"Aku akan temui dia nanti saat tubuhku sudah tidak bau alkohol saja," gumamnya. Dia memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum kembali menemui istrinya.


***


Felix yang mengejar Chika akhirnya mendapati gadis itu sedang hendak memesan taxi. Menanyakan apakah Chika bisa mengendarai mobil, akhirnya dia meminta gadis itu mengantarkannya pulang setelah mendapat jawaban jika dia bisa menyetir.


Di dalam mobil, Felix yang pusing memijat kepalanya. "Nanti bawa saja mobilku, aku akan turun di depan apartemen," ucapnya.


"Tapi - "


"Kamu akan semakin kesiang ke kantor jika menolak,"potong Felix.


Chika menimbang-nimbang ucapan Felix, dan akhirnya dia mengangguk untuk membawa mobil Felix.


Sesampainya di apartemen, Felix turun dan Chika melajukan kembali mobilnya menuju ke kantornya.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa...


...💮Like💮...


...❤️Vote❤️...


...🎉Komentar🎉...

__ADS_1


__ADS_2