My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Mengusir Felix


__ADS_3

"Aku sedang mogok bicara dengannya," jelas Shea.


Dari raut wajah Shea yang tampak kesal, Selly bisa merasakan perasaan Shea. "Memangnya sebenarnya acara apa?" tanyanya.


"Bryan bilang reuni, dan temannya datang ke rumah, tetapi ternyata Felix membawa minuman, dan mereka mabuk." Rasanya Shea malas sekali membahas hal ini lagi.


Selly baru mengerti kenapa bisa Bryan mabuk. "Akhirnya bagaimana? Dia bangun kapan?" Dia mengingat jika Shea tidak bisa ke rumah karena menunggu Bryan.


"Keesokan harinya," jawab Shea malas.


Selly hanya bisa tertawa mendengar cerita Shea. Dia bisa membayangkan sebesar apa emosi Shea melihat suaminya yang seharian tidur.


"Dan semalam aku menyuruhnya tidur di kamar tamu." Dengan bangga Shea menceritakan apa yang terjadi semalam.


Tawa Selly semakin kencang. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan rumah tangga Bryan dan Shea yang begitu berwarna, penuh pertengkaran. Berbeda sekali dengan dirinya, karena memang Regan bukan tipe orang yang membuat masalah.


"Lalu sampai kapan kamu akan menghukumnya?" tanya Selly mematikan.


"Mungkin, seminggu," jawab Shea, "tapi sepertinya terlalu cepat seminggu. Sepertinya sebulan saja."


"Sebulan?" Selly melongo dengan apa yang dijelaskan Shea. Dia bisa bayangkan seberapa frustrasinya Bryan jika sebulan tidak menjamah istrinya.


"Sudah jangan bahas Bryan lagi. Aku sedang malas membahasnya." Shea kembali pada dua anak bayi sedang saling beradu kekuatan itu. Tangan kecil mereka saling tarik menarik.


Saat sedang asik bermain, Shea teringat sesuatu. "Kapan terapi lagi?" tanyanya.


"Besok," jawab Selly, "jadi aku titip Al ya." Selly yang mengingat jika mamanya tidak enak badan, jadi akhirnya dia memilih untuk menitipkan pada Shea.


"Tenang saja, aku akan menjaga Al." Shea tersenyum mesra pada kakak iparnya.


Seharian Shea dan Selly bersama. Shea melihat keadaan kakak iparnya jauh lebih baik. Saat Al dan El tidur, dia menemani Selly menceritakan banyak hal.


Sore harinya, Shea pulang ke rumah sebelum Regan pulang. Sampai sekarang, dia masih membatasi kedekatannya dengan Regan karena tidak mau membuat pertengkaran dengan Bryan.


Selang beberapa saat setelah dirinya sampai di rumah, Bryan pulang ke rumah. Namun, kali ini dia pulang bersama Felix, karena mereka berdua sudah sepakat untuk saling membantu.


Shea yang melihat Felix menajamkan pandangannya. Dia masih begitu kesal melihat teman suaminya itu . "Bukankah aku bilang jangan kemari?"


Pertanyaan Shea itu membuat Felix begitu ketakutan. "Bagaimana ini?" tanyanya berbisik pada Bryan.


"Mana aku tahu, bukannya kamu yang punya ide untuk meminta maaf." Bryan kembali berbisik pada Felix.


Melihat dua pria sedang berbisik, Shea tahu jika mereka berdua sedang merencanakan sesuatu. "Pulang sana! Aku tidak mau melihatmu."

__ADS_1


Felix terkesiap mendengar pengusiran dirinya dari Shea.


"Aku bilang pulang!" ucap Shea kembali.


"Sayang, Felix kemari ini minta maaf." Bryan mencoba menjelaskan pada Shea kedatangan Felix.


"Kamu saja belum aku maafkan, sudah meminta maaf untuk orang lain."


"Benar juga kata Shea, kenapa aku yang meminta maaf untukmu?" tanya Bryan pada Felix, "harusnya kamu yang bilang maaf, seperti yang sudah kita sepakati tadi." Dia menyesali kata maaf dari Felix yang justru keluar dari mulutnya.


"Bagaimana bisa aku minta maaf, sedangkan Shea sudah mengusirku?"


"Aku tahu kalian sedang merencanakan sesuatu," ucap Shea, "dan jangan harap aku terjebak dengan permainan kalian," imbuhnya. Wajah cantik Shea berubah begitu garang. Tidak ada senyuman dan hanya ada tatapan tajam.


Bryan dan Felix tak bisa berkutik saat ternyata rencana mereka saling membantu sudah terendus oleh Shea. Nyali keduanya pun ciut saat melihat wajah garang Shea.


"Sebaiknya kita tunda saja rencana kita," ucap Felix berbisik pada Bryan.


Bryan semakin kebingungan saat ternyata Felix memilih untuk kabur dari pada berjuang melanjutkan permintaan maafnya.


"Aku pulang dulu." Felix berpamitan dan berlalu keluar dari rumah Bryan.


Bryan menatap Felix yang keluar dari rumahnya. Jantungnya berdebar-debar saat mengetahui jika kini dia sendiri menghadapi Shea. Belum lagi kini Shea tahu rencananya bersama Felix.


"Aku akan mandi dulu," ucap Bryan menghindar. Dia menghampiri anaknya dan mendaratkan kecupan. Kemudian, dia menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Shea yang melihat Bryan tersenyum. Sebenarnya dia tidak tega membuat suaminya itu ketakutan, tetapi dia ingin memberikan efek jera pada Bryan.


Aku tahu jika kamu yang suka minum alkohol akan sangat susah menjauh dari benda itu.


Satu hal yang Shea sadari jika berubah memang tidak semudah itu. Namun, Shea berharap jika suaminya benar-benar berhenti, karena sebelum kejadian ini dia sudah berhenti.


***


Malam yang begitu dingin membuat Bryan harus rela menghangatkan tubuhnya dengan selimut. Berbalik ke kanan dan ke kiri, dia tidak bisa tidur.


Menghela napasnya berat, Bryan merasakan frustrasi yang amat sangat. Biasanya dia akan tidur dengan memeluk istrinya dan kini dia harus rela tidur sendiri lagi.


"Harusnya aku tidak minum." Bryan menyugar rambutnya merasakan kesal yang begitu terasa. "Aku menukar nikmat alkohol dengan kenikmatan tubuh Shea." Dia terus menggerutu menyalahkan dirinya.


Bryan sudah tidak tahan, karena dia tidak bisa tidur. Akhirnya dia memilih ke kamarnya menyusul Shea dan El. Menyibak selimutnya, dia bangkit dan melangkah menuju ke kamarnya dan Shea.


Memegang handle pintu, Bryan membuka pintu dengan perlahan. Dia tidak mau sampai istrinya itu bangun. Masuk ke dalam kamar, dia kembali menutup pintu dengan perlahan.

__ADS_1


Berjinjit, Bryan melangkah tanpa menimbulkan suara. Sampai di tempat tidur, dilihatnya Shea yang begitu tertidur pulas. Tangannya menyibak selimut dengan sangat hati-hati. Gerakannya dimuat se-slow mungkin, agar Shea tidak merasakannya.


Perlahan dia masuk ke dalam selimut. Merasakan kehangatan selimut yang bercampur dengan kehangatan tubuh Shea.


"Aku benci kamu!"


Suara Shea terdengar dan membuat Bryan terdiam. Dia benar-benar takut istrinya itu bangun. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk mengeratkan pelukan.


"Tapi aku begitu mencintaimu." Shea berbalik dan memeluk Bryan.


Bryan terkejut dengan apa yang dilakukan Shea. Namun, dengkuran halus dari Shea menandakan jika Shea sedang mengigau.


Aku pikir dia benar-benar bangun.


"Jangan minum lagi." Suara Shea sedikit bergetar. Seolah ingin menangis.


Bryan menghela napasnya yang terasa sesak. Dia tidak menyangka jika kesedihan Shea yang melihatnya minum sampai terbawa ke alam mimpi.


Aku janji, aku tidak akan minum lagi. Aku pastikan itu yang terakhir kalinya.


Bryan berjanji dalam hatinya jika semua tidak akan terulang kembali. Mengeratkan pelukannya, dia memberikan kehangatan dan ketenangan untuk Shea.


Shea yang merasakan kenyamanan, tampak semakin tertidur pulas dalam dekapan Bryan.


Memejamkan matanya, Bryan menyusul Shea ke dalam alam mimpi. Berharap esok istrinya itu akan kembali seperti semula.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa like, koment dan vote ...


...Mampir juga ke karya lain aku....


...Terjebak Cinta Majikan...


...Jodoh Cinta Lama...

__ADS_1


__ADS_2