My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Jangan ragukan aku


__ADS_3

"Kenapa terkejut seperti itu?" tanya Regan.


Shea mengedarkan pandangan mencari jam yang berada di ruang tamu. Waktu menunjukan jam empat, dan Regan sudah pulang. "Kak Regan kenapa sudah pulang?" tanyanya.


"Iya. tadi Bryan mengabari jika kalian akan ke luar kota, jadi aku sengaja pulang cepat agar bisa bermain dengan Al, sebelum besok pagi kalian bawa dia." Regan pun menjelaskan pada Shea maksud kepulangannya lebih cepat.


"Oh … " jawab Shea yang mengerti. "Ayo masuk kalau begitu!" Shea melebarkan pintu rumahnya dan mempersilakan Regan masuk.


Mereka berdua pun masuk ke menuju ke ruang keluarga di mana tempat dua bayi lucu itu berada. Regan menyempatkan diri mencuci tangan sebelum dirinya menyentuh anak-anaknya.


"Wah … jagoan daddy sedang apa?" tanya Regan. Dia benar-benar gemas melihat dua bayi kecil itu sedang tidur dengan bantal gajah. Kaki gajah seolah menjadi guling mereka, dan dua bayi itu pun asik memainkan kaki gajah.


Regan pun menggoda baby Al dan El hingga membuat dua bayi itu tertawa. Shea yang melihat pemandangan itu, merasa sangat senang, karena ternyata Regan jauh lebih banyak berubah. Suami kakak iparnya itu lebih banyak senyum saat bersama anaknya.


"Rencananya berangkat jam berapa?" tanya Regan. Matanya yang tadi menatap baby Al dan El beralih menatap Shea.


"Sekitar jam enam pagi, Kak, agar tidak terkena macet," jelas Shea, "jadi nanti biarkan Al tidur di sini," lanjutnya.


"Iya, baiklah. Nanti aku akan pulang sendiri." Regan menyelipkan senyum di bibirnya. Dia beralih pada baby Al dan El kembali. "Nanti harus pintar ya, jangan merepotkan mommy Shea dan daddy Bryan ," ucap Regan pada baby Al.


Bayi kecil itu hanya membalas dengan gumaman dan membuat Shea dan Regan tertawa bersama karena mendengar gumaman tidak jelas dari baby Al.


Bersamaan dengan tawa Shea dan Regan, Bryan masuk ke dalam rumah. Asisten rumah tangga yang sedang berada di depan rumah, membuat Bryan bisa langsung masuk karena pintu tidak di kunci. Saat masuk ke dalam rumah, Bryan mendengar suara Regan dan Shea yang tertawa sangat riang dan itu membuat perasaanya bergejolak.


"Emm …." Bryan berdeham untuk menghentikan suara tawa Shea dan Regan.


Mendengar suara deham, Regan dan Shea menoleh. "Sayang, kamu sudah pulang," ucap Shea. Dia berdiri dan menghampiri suaminya. Tangannya meraih tas yang Bryan bawa.


Bryan mendaratkan satu kecupan di dahi Shea seraya menjelaskan kepulangannya. "Aku pulang lebih awal, agar bisa mempersiapkan untuk kepergian kita besok." Matanya beralih pada Regan yang sedang asik duduk di depan baby Al dan El. "Kak Regan sudah pulang?" tanyanya.


"Iya, karena besok kalian akan pergi jadi aku ingin bermain dulu dengan Al."

__ADS_1


"Oh …." Bryan mengangguk-anggukan kepalanya. "Sayang temani aku di kamar sebentar," ucap Bryan menatap Shea.


"Aku titip Al dan El sebentar ya, Kak," ucap Bryan beralih pada Regan.


"Ya sudah, pergilah! Aku akan menjaga mereka," Jawab Regan seraya menggoda kedua bayi kecil di hadapannya.


Mendapati jawaban kakak iparnya, Bryan menarik tangan Shea lemhut dan masuk ke dalam kamar.


Bryan langsung menutup pintu sesaat setelah masuk. Shea pun langsung meletakan tas milik Bryan, tetapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Bryan.


Satu hentakan saja membuat tubuh Shea limbung dan masuk ke dalam pelukan Bryan. Tanpa menunggu aba-aba, Bryan membenamkan bibinya pada bibir Shea. Dia menyesap manis bibir istrnya.


Shea yang mendapatkan ciuman merasakan hal aneh, karena sesapan yang dilakukan Bryan terasa kasar dan tidak lembut seperti biasa. Dia pun mendorong tubuh Bryan. "Kenapa kamu kasar sekali?" tanyanya.


Bryan mendesah frustrasi. Rasa cemburunya membuatnya memperlakukan dengan kasar istrinya. "Maaf." Satu kata yang terlontar dari mulut Bryan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku melihatmu berubah?" Pertanyaan itu memang sudah sering Shea ucapkan, tetapi dia selalu tidak mendapatkan jawaban pasti dari Bryan.


Dahi Shea berkerut dalam. Dia tidak mengerti kenapa suaminya bisa berkata seperti itu. "Apa kamu tidak sadar, setiap hari Al bersama kita, bagaimana bisa aku menjauh dari kak Regan?"


"Aku sudah berusaha membuatmu jauh dengan menjemput Al dan menunggu kak Regan berangkat kerja, tetapi kenapa kamu justru tertawa bersamanya."


Shea baru mengerti jika suaminya cemburu saat dia bersama Regan. Tawa yang mungkin Bryan artikan dengan kedekatan dengan Regan, membuat Bryan begitu kesal.


Mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bryan, tangan Shea merengkuh pinggang Bryan. "Lihat aku!" pinta Shea.


Bryan yang masih begitu diliputi emosi tidak mau melihatnya. Dia malas harus menatap istrinya dengan kemarahan.


Tangan Shea meraih pipi Bryan, membuatnya agar menatapnya. "Aku mencintaimu, apa kamu meragukannya?" Satu kalimat yang terdengar lembut tapi begitu tajam dari mulut Shea.


"Bukan begitu," elak Bryan. Dia mendesah frustrasi.

__ADS_1


"Jika kamu percaya aku mencintaimu, untuk apa kamu takut?"


"A-ku …." Bryan tidak kuat melanjutkan ucapannya. Dia memilih memeluk Shea. "Aku hanya takut kehilanganmu."Akhirnya dia dapat melanjutkan ucapannya.


"Aku tahu, tapi bukankah kamu tahu aku begitu mencintaimu, dan lagipula kak Regan begitu mencintai kak Selly. Jadi apa yang kamu takutkan?"


Bryan hanya membalas dengan anggukan kepala. Dia sendiri sadar kecemburuannya benar-benar membuatnya emosi.


"Jangan ragukan aku, karena itu membuatku terluka." Tangan Shea membelai lembut punggung Shea.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Bryan ucapkan.


Shea tersenyum dibalik punggung Bryan. "Kata orang cemburu adalah tanda sayang, tetapi jika dilakukan berlebihan akan menghilangkan rasa sayang," ucap Shea, "kali ini aku akan memaafkanmu, tetapi jika kamu meragukan rasa cintaku, aku tidak akan memaafkan kamu," imbuh Shea seraya melepaskan pelukannya dan menjangkau wajah Bryan.


"Iya, aku tidak akan meragukan kamu."


Satu kecupan mendarat di bibir Bryan. Shea berharap dengan kecupannya, dapat meredakan emosi suaminya. Namun, sayangnya kecupannya berubah menjadi sebuah ciuman, karena Bryan menarik tubuh Shea dan memperdalam ciumannya.


Setelah emosinya mereda, Bryan melepas tautan bibirnya itu. Kelembutan Shea memang ampuh meredakan emosinya. Dia beruntung, istrinya begitu lembut padanya terkecuali di saat-saat tertentu.


"Bersihkan dirimu, aku akan menyiapkan bajumu." Shea melepas pelukannya dan membantu Bryan melepas bajunya. Bryan mengangguk dan berlalu membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, Bryan kembali menemui Regan di ruang keluarga. Shea dan Bryan tampak biasa saja setelah pertengkaran mereka. Shea sudah meminta Bryan tidak melibatkan orang lain, karena masalah mereka bersumber dari diri mereka sendiri.


Shea pun memilih sibuk di dapur dan membiarkan dua daddy bermain dengan anak mereka. Membiarkan Bryan membuang cemburunya dengan selalu dekat dengan Regan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2