
Setelah semua pemeriksaan selesai, Regan membawa pulang Selly. Perasaanya senang karena ternyata hasil pemeriksaan semua baik. Tinggal memulihkan Selly dengan terapi saja.
Sesampainya di rumah mereka sudah di sambut oleh dua bayi kecil yang sangat mengemaskan. Baby Al berada di dalam gendongan babysitter sedangkan baby El dalam gendongan mommy-nya.
Tubuh Selly yang masih susah bergerak membuatnya belum bisa mengendong anaknya. Saat sampai di kamarnya, akhirnya Regan meminta baby Al yang sedang digendong babysitter, dan mendekatkannya dengan Selly.
Bayi kecil itu memang sering sekali dekat dengan mommy-nya, karena Regan mau pun Shea selalu menyempatkan mendekatkan baby Al pada Selly. Jadi bayi kecil itu tidak sama sekali takut dan justru sudah sangat biasa dengan wajah mommy-nya.
Saat di dekatkan, tangan mungilnya meraih wajah mommy-nya. Seperti kebanyakan bayi kecil, dia pun penasaran dengan bentuk wajah dan apa saja yang berada di wajah orang di hadapannya. Apalagi sekarang mata Selly terbuka, dan membuat Al semakin penasaran.
Selly tertawa kecil, saat wajahnya dihujani ciuman oleh anaknya. Air liurnya pun menempel di wajahnya. Rasanya begitu bahagia saat merasakannya hal itu.
Melisa, Daniel, Bryan dan Shea yang melihat merasakan atmosfir kebahagiaan yang luar biasa. Mereka tidak menyangka akan ada tawa Selly kembali di rumahnya.
"Lihat wajah Mommy basah, Sayang" ucap Regan. Dia pun ikut tertawa juga saat melihat ulah Al.
"Biarkan saja!" ucap Selly. Dia merasa senang dengan apa yang anaknya sedang lakukan.
Regan pun membiarkan anaknya melakukan apa yang ingin dia lakukan, karena Selly pun merasakan senangan saat putranya melakukan hal itu.
Melihat wajah Selly yang sudah terlalu basah pun akhirnya membuat Regan menghentikan kegiatannya. Dia pun membawa Al keluar. Di susul oleh Melisa dan Daniel.
Shea yang melihat wajah Selly basah pun langsung memberikan baby El pada Bryan. Dia ingin membersihkan wajah kakak iparnya itu.
Bryan yang menggendong anaknya juga keluar dari kamar, dan menyusul baby Al yang lebih dulu keluar.
Di kamar tinggallah Shea dan Selly. Dengan lembut dia mengusap wajah Selly yang basah. Senyuman menghiasi wajah Shea saat tangannya mengusap wajah kakak iparnya dengan tisu.
"Terima kasih," ucap Selly pada Shea.
Dahi Shea berkerut dalam. Dia tidak mengerti ucapan kakak iparnya. "Untuk apa?"
"Untuk semua yang telah kamu berikan untuk Al." Semalam Regan menceritakan bagaimana Bryan dan Shea membantunya mengurus Al. Kasih sayang yang mereka berikan sama besarnya antara baby Al dan El, tanpa membedakan mana anak sendiri mana anak kakaknya.
"Apa Kak Selly lupa, jika kita pernah berjanji akan merawat anak kita jika salah satu dari kita membutuhkan." Shea mengingatkan pembicaraan mereka waktu mereka dulu sama-sama hamil.
Selly tersenyum. Dulu saat dia mengatakan hal itu, setelah dia mengetahui penyakit jantung yang dideritanya, dan dia mengatakannya seolah dia tidak akan bisa merawat anaknya. Selly sendiri tidak menyangka jika ternyata ucapannya benar, jika dia tidak bisa menjaga anaknya.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, karena aku yang koma, kamu dan Bryan menjadi bertengkar." Selly menatap Shea. Dia merasa paling bersalah atas apa yang menimpa adiknya.
"Aku dan Bryan baik-baik saja, Kak Selly tidak perlu khawatir." Shea tersenyum, agar kakak iparnya itu tidak cemas.
"Tempo hari Bryan bercerita padaku, jika dia begitu takut kehilanganmu, dan menurutnya dia takut jika lawannya adalah Regan." Selly menceritakan tentang kecemasan apa yang dirasakan oleh adiknya. "Dia merasa rendah diri karena memiliki masa lalu buruk."
Shea tersenyum. "Kakak tidak perlu takut aku marah dengannya. Aku pun juga mengerti alasannya melakukan hal kemarin." Sejauh ini, Shea memang menempatkan diri di posisi Bryan. Dia sebenarnya tidak menyalahkan suaminya, tetap kini dia masih butuh waktu untuk rasa kecewanya.
"Baiklah. Aku harap kamu baik-baik saja."
***
Di kamar bayi Bryan dan Regan menemani anak mereka bermain, sedangkan Melisa dan Daniel menemani Lana yang baru saja datang menjenguk menantunya.
"Bry, aku minta maaf." Suara Regan terdengar saat Bryan sedang menggoda anaknya.
Bryan menoleh. Dalam hatinya memang masih merasakan kecewa pada Regan yang sudah terlalu dekat dengan istrinya.
"Aku tahu, tidak selayaknya aku memperhatikan Shea, tetapi waktu itu aku hanya ingin melihat tangan Shea yang di cengkram Jessie."
Aku akan menanyakannya pada Shea nanti.
"Aku tahu, aku dan Shea tetaplah orang asing, dan sebagai suami, kamu benar jika kamu marah. Namun, aku hanya bisa menjelaskan jika sebenarnya kami tidak memiliki hubungan apa-apa, ataupun perasaan apapun."
"Terima kasih sudah mengerti posisiku, Kak," jawab Bryan, "memang sedikit sulit jika aku harus bilang 'menjauhlah', karena kita adalah satu keluarga. Akan tetapi mungkin Kakak bisa menjaga jarak, karena jujur aku takut jika kalian saling berdekatan." Tanpa berbasa-basi Bryan meminta pada kakak iparnya itu.
Regan menepuk bahu Bryan. Dia mengerti jika kedekatannya dengan Shea menimbulkan luka untuk Bryan. "Tenanglah, aku akan menjaga jarak dengan Shea." Dia tidak mau memperkeruh rumah tangga Bryan dan Shea. Apalagi mereka sudah sangat baik menjaga anaknya.
Bryan mengangguk. Dia bersyukur Regan mengerti posisinya. Perasaanya juga lega, karena kakaknya sudah sadar, jadi perlahan Al akan diurus sendiri oleh Regan dan Selly, dan akan membuat kedekatan Regan dan Shea berkurang.
Sesaat kemudian Lana, Melisa dan Daniel masuk ke dalam kamar bayi. Mereka ingin melihat cucu mereka.
Bryan yang melihat sudah banyak orang memilih keluar untuk mencari Shea. Dia ingin menanyakan perihal Jessie yang dikatakan oleh Regan.
Mencari Shea di kamar Selly, Bryan tidak menemukan istrinya itu. Justru dia menemukan kakaknya yang sendirian. "Kemana Shea?" tanya Bryan.
"Dia bilang ingin ke toilet."
__ADS_1
"Oh ...." Bryan melangkah mendekat pada Selly dan duduk di dekat kakaknya itu. "Bagaimana keadaan Kakak?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Aku senang Kakak sudah sadar."
Selly tersenyum mendengar ucapan Selly. "Senang karena apa? Kerena Regan tidak akan menyukai Shea dan menikahinya?" goda Selly.
"Kak … " panggil Bryan memutar bola matanya malas.
Selly langsung tertawa mendengar kepasrahan adiknya. "Dasar bodoh! Mereka tidak akan melakukan hal itu."
"Tapi - "
"Aku tahu ketakutanmu karena masa lalu," potong Selly, " tapi jangan jadikan masa lalu itu alasan." Selly menatap lekat pada adiknya. "Shea mencintaimu dengan segala yang ada di dalam dirimu, bersama dengan masa lalumu. Jika dia tidak menerimamu, dia tidak akan melangkah sejauh ini denganmu."
Bryan mendengarkan dengan seksama ucapan kakaknya. Dia membenarkan setiap ucapan kakaknya.
"Sekarang sudah ada aku. Jangan takut lagi."
"Kak …." Bryan memeluk Selly. Kakaknya selalu bisa menenangkannya seperti halnya Shea.
"Kalau aku bisa memukulmu, aku akan melakukannya," ucap Selly kesal dengan adiknya itu. Namun, tawanya menyiratkan jika kata-katanya tidak serius.
"Sayangnya, Kakak tidak bisa," jawab Bryan seraya melepaskan pelukannya.
Mereka berdua pun tertawa. Rasanya sudah lama mereka tidak bertengkar untuk hal-hal sepele.
.
.
.
.
...Jangan lupa like, koment, dan Vote ...
__ADS_1