
Selang beberapa saat Melisa dan Daniel datang. Mereka yang dihubungi Regan jika Selly sadar langsung datang ke rumah anaknya itu. Mereka tidak mau terlambat menikmati moment bahagia mereka.
Sesampainya di rumah Regan dan Selly, mereka masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar. Daniel membuka pintu dan mendorongnya. Saat pintu terbuka, Melisa langsung menerobos masuk.
"Selly," panggil Melisa saat melihat putrinya dengan mata yang terbuka. Dia berlari menghampiri anaknya. Satu pelukan dan kecupan bertubi-tubi dia daratkan di wajah Selly. "Kamu sadar, Nak?" Rasanya Melisa tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya.
"Mama … Papa …." Selly memanggil kedua orang tuanya. Sudah cukup lama dia tidak melihat kedua orang tuanya. Ingin rasanya dia memeluk. Namun, dia tidak bisa melakukannya.
"Pa, lihat anak kita kembali," ucap Melisa pada suaminya. Air matanya mengalir di pipinya, begitu juga Daniel yang berada di sisi seberang tempat tidur. Dia menciumi putrinya merasakan kebahagiaan melihat putrinya sudah sadar.
"Selly benar-benar merindukan kalian," ucap Selly seraya menatap Melisa dan Daniel bergantian.
"Mama dan papa juga merindukan kamu," ucap Melisa. Tidak ada kata yang bisa mewakili perasaan mereka selain kata 'bahagia' saat melihat Selly.
Melisa dan Daniel pun bertanya bagaimana kronologis Selly bisa sadar. Padahal Melisa belum lama pulang. Melisa tadi sebenarnya sudah ingin menginap mengingat Al sedang demam. Namun, dia urungkan karena suaminya sedang tidak ikut.
Regan pun kembali mengulang cerita jika Selly sadar saat melihat anaknya yang demam dan menangis. Namun, Regan tidak menceritakan Bryan yang melarang Shea untuk datang ke rumah.
Melisa sendiri pun hanya mengetahui jika Shea tidak enak badan, yang membuat seharian dia tidak datang ke rumah Selly.
"Sebaiknya kita keluar saja, biarkan Kak Selly istirahat," ucap Bryan pada semuanya.
Melisa, Daniel, Bryan dan Shea pun keluar dari kamar. Mereka membiarkan Selly istirahat ditemani oleh Regan.
Di dalam kamar tinggallah Regan dengan Selly. Selly yang menatapnya terus pun merasakan canggung. "Apa aku sekarang jelek?" tanyanya.
Tawa kecil terdengar saat Regan mendengar pertanyaan itu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Regan.
"Karena kamu dari tadi memandangi aku terus."
"Aku memandangi kamu karena kamu adalah wanita paling cantik yang ada," ucap Regan tersenyum. Tangan Regan membelai wajah Selly. "Aku benar-benar merindukanmu," ucapnya kembali. Tanpa terasa air matanya mengalir.
__ADS_1
Satu hal yang Regan tunggu selama ini adalah bisa melihat istrinya yang sadar, dan kini dia melihat istrinya sadar.
Selly pun ikut meneteskan air mata, saat melihat suaminya menangis untuknya. Dia melihat jelas, pria yang biasanya dingin itu terlihat sangat rapuh. Lingkaran hitam di bawah matanya menandakan jika dia kurang tidur. Belum lagi rambut halus terlihat menghiasi rahang tegasnya, menandakan jika suaminya itu tidak mengurus dirinya.
"Aku juga merindukanmu," ucap Selly. Ingin sekali tangannya membelai wajah Regan tetapi tangannya yang belum bisa digerakkannya
Regan menempelkan dahinya pada dahi Selly. Matanya menatap lekat pada Selly. "Jangan tinggalkan aku lagi, walaupun itu hanya sedetik pun!"
Rasanya suara Selly benar-benar tercekat di tenggorokannya. Namun, dia berusaha untuk menjawab permintaan suaminya. "Aku tidak akan pergi darimu walaupun sedetik pun."
Mendaratkan kecupan di wajah istrinya, Regan melepas kerinduannya. Dia memeluk erat tubuh kecil yang sudah mulai terlihat kurus itu. Tangisan keduanya mengisi keheningan kamar.
Regan seolah belum puas menghujani kecupan di wajah Selly. Tadi, dia belum sempat melepas kerinduannya karena harus fokus pada anaknya yang demam, dan kini dia manfaatkan waktu, karena anaknya sudah ada Bryan dan Shea yang menjaga.
"Istirahatlah!" ucap Regan.
"Aku sudah terlalu banyak beristirahat," jawab Selly. Walaupun masih sulit mengerakkan wajahnya, dia berusaha tersenyum.
"Aku hanya merasa seperti di suatu tempat sendiri. Seolah mencari jalan keluar," jelas Selly, "sampai saat ada cahaya putih yang terlihat. Dari kejauhan aku mendengar suaramu memanggil. Aku berusaha mengejar, tetapi semakin aku kejar semakin kamu menjauh. Namun, aku terus berusaha hingga aku benar-benar mendengar suaramu yang meninggi, mengatakan jika aku tidak mati." Selly menceritakan apa yang dialami selama tidak sadarkan diri.
"Jadi sejak dokter mengatakan jika kamu tidak ada harapan itu kamu sudah mendengar?" Regan memastikan lagi.
"Iya, waktu itu aku berusaha untuk berteriak memberitahu jika aku masih hidup, tetapi tidak ada satu kata pun keluar dari mulutku," jelas Selly. Dia beri jeda saat berbicara. "Terima kasih sudah meyakini jika aku masih hidup," ucap Selly.
"Jangan berterima kasih, Sayang, aku melakukan karena aku benar-benar mencintaimu."
Tak perlu Selly ragukan lagi sebesar apa rasa sayang Regan. Karena dia pun tahu seperti apa perjuangan Regan yang selama ini dia dengar. Walaupun belum lama dia mendengar, dia yakin selama hampir empat bulan itu suaminya berjuang sekeras-kerasnya untuknya dan anaknya.
Mereka berdua saling bercerita, sampai akhirnya Selly lelah dan memejamkan mata kembali. Regan pun tidak mau kehilangan istrinya lagi, hingga akhirnya dia memilih untuk menunggu Selly di sampingnya.
***
__ADS_1
Di kamar yang lain sepasang suami istri berdiam diri. Tidak ada suara yang keluar dari keduanya. Shea yang sedang sangat malas dengan Bryan, memilih diam, sedangkan Bryan yang melihat istrinya diam saja merasa sangat takut.
Bryan menyadari apa yang salah dengannya, jadi ketakutannya jauh berlipat-lipat. Dari sejak baby Al dan El di pindah ke kamar, Shea seolah disibukan dengan kedua bayi kecil itu dan menutup rapat mulutnya.
Waktu keluar dari kamar Regan dan berbincang sebentar dengan mama dan papanya pun, Shea tidak berbicara pada Bryan. Dia justru berbicara menceritakan keadaan Al yang demam.
"Sayang," panggil Bryan. Dia menunggu sejenak reaksi apa yang ditujukan oleh Shea. Namun, mata Shea yang terpejam sepertinya memang benar-benar terpejam, yang itu artinya dia benar-benar tidur.
Aku memang salah menuduhnya, tetapi apa dia tidak bisa memahami perasaanku.
Bryan menghela napasnya. Rasanya dia bingung. Di satu sisi egonya yang mengatakan jika kemarahannya itu memang beralasan, dan di sisi lain dia merasa bersalah saat menuduh istrinya.
Tangan Bryan menggaruk-garukan kepalanya. Rasanya dia bingung harus bagaimana. Akan sejauh apa istrinya itu marah, karena jujur baru kali ini istrinya itu marah, dan rasanya nyali Bryan ciut membayangkannya.
Menarik selimut dan merapatkannya pada tubuhnya, Bryan pun memejamkan mata menyusul istri dan kedua anaknya tidur. Dia hanya berharap saat nanti bangun tidur istrinya menyambutnya dengan senyuman dan sudah melupakan kemarahannya.
.
.
.
.
.
...Berikan...
...Like...
...Komentar...
__ADS_1
...Vote ...