
Waktu menjelang sore hari, burung-burung liar kembali ke sarangnya untuk istirahat. Sementara di dalam rumah, Bryan tengah bermain dengan baby El.
Bayi kecil itu sudah pintar membalas setiap ucapan dari daddy-nya, walaupun hanya dengan gumaman tidak jelas. El seperti paham dan merespon apapun yang Bryan ucapkan.
Setiap kata yang keluar dari mulut kecil anaknya itu membuat Bryan begitu senang.
Dari dapur, Shea mendengar suara Bryan dan anaknya yang sedang asik bermain. Akan tetapi dia tidak bisa ikut bermain, karena dia sibuk menyiapkan makanan untuk acara yang diadakan oleh Bryan, Felix, dan satu temannya yang Shea belum kenal.
Beberapa makanan sudah Shea siapkan untuk menyambut tamu istimewa tersebut.
Suara bel rumah terdengar saat Bryan masih asik bermain dengan anaknya. Shea yang di dapur pun berteriak meminta Bryan membukakan pintu, karena dia dan asisten rumah tangga sedang sibuk.
"Itu pasti tamu kita, Sayang," ucap Bryan pada anaknya. Dia menggendong dan melangkah ke pintu depan untuk membuka pintu.
Meraih handle pintu, Bryan membuka pintu sambil menggendong baby El. "Akhirnya yang ditunggu datang juga."
Bryan menatap pria yang ada di depan, wajahnya tidak berubah dari tahun ke tahun, masih saja datar dan nampak cuek.
"Selamat sore." Lisa menyapa Bryan, matanya tersenyum ke arah bayi kecil yang sedang digendong pria itu. Sementara Farhan masih diam kaku di samping Lisa.
"Selamat sore," sapa Bryan membalas sapaan wanita cantik di samping Farhan. "Adikmu?" tanya Bryan pada Farhan.
"Dia istriku," jawab Farhan datar tanpa tambahan kata apapun.
Bryan tercengang, Lalu memandangi Lisa dari atas kaki ke ujung kepala. "Jadi dia Lisa yang kau ceritakan waktu itu?" bertanya pada Farhan dengan mata yang belum mau lepas dari menilai Lisa.
"Iya, saya Lisa, istrinya mas Farhan," jawab Lisa sambil tersenyum. Farhan memasang pandangan tidak senang melihat ekspresi wajah Bryan yang nampak terkejut.
Bryan masih saja tidak percaya. "Bagaimana mungkin? Aku tidak menyangka kamu suka yang unyu-unyu ala anak remaja begini." Mata Bryan masih menyusuri penampilan Lisa.
"Hanya gayanya saja yang seperti bocah. Umurnya sudah 23 tahun, beda dua tahun dengan istrimu," balas Farhan agak jengkel. Seolah tidak istrinya dianggap masih bocah. padahal, usia mereka memang terpaut sembilan tahun.
"Oh maaf … aku pikir dia lebih muda dari pada Shea," elak Bryan. Dia mengulurkan tangan pada Lisa sedikit kikuk. "Bryan," ucapnya memperkenalkan diri.
Lisa menerima uluran tangan Bryan sambil tersenyum. "Saya Lisa. Ini siapa?" Lalu mencubit pipi El dengan gemasnya. Bayi imut itu tertawa, seakan menyambut kedatangan Lisa dengan riang gembira.
"Athu El tanteh," jawab Bryan sambil menirukan gaya anak kecil bicara."
"Hallo El," sapa Lisa. Tanga baby El diangkat ke atas. kakinya menendang udara dengan tawanya yang semakin lepas.
"Ayo, masuk!" Bryan mengajak Farhan dan Lisa masuk ke dalam rumah. Dia menuju ke ruang keluarga karena merasa lebih nyaman mengobrol di sana. Namun, Bryan lupa jika ruang keluarga sudah beralih fungsi jadi playground. Playmat di lantai, mainan di mana-mana membuat sedikit susah untuk dipakai duduk.
"Maaf ya, sejak kehadiran El, rumahku setara dengan taman bermain anak TK," ucap Bryan sambil mengajak Farhan dan Lisa duduk di sofa. Ia menyingkirkan mobil-mobilan bekas mainan baby El yang tak sengaja tergeletak di sofa.
"Tidak masalah. Rumah kami juga sering berantakan jika sudah kedatangan si kembar," balas Lisa.
__ADS_1
"Silakan duduk. Biar kupanggilkan istriku Shea agar membawakan minuman untuk kalian berdua."
Bryan segera pergi membawa baby El ke dapur untuk memanggil istrinya.
"Sayang, tamunya sudah datang," ucap Bryan memberitahu Shea.
"Oh ... mereka sudah datang." Shea melepaskan apron yang dipakainya, dan meraih El dari gendongan Bryan. Dia keluar bersama Bryan untuk menemui temannya.
Asisten rumah tangga juga ikut membawakan minuman yang sudah di siapkan oleh Shea sedari tadi.
Dari kejauhan, Shea melihat wanita cantik dan seorang pria tampan.
"Sayang, kenalkan ini Farhan teman kuliahku, dan ini istrinya," ucap Bryan pada Shea.
Istri? Sepertinya dia lebih pantas menjadi adiknya, batin Shea.
"Shea," ucap Shea seraya mengulurkan tangannya pada Lisa dan beralih pada Farhan.
Ini adalah kali pertamanya Shea melihat Farhan. Teman yang pernah membuat Bryan kalah saing karena wanita yang dia kejar lebih memilih Farhan.
Shea tertawa dalam hatinya. Dia begitu penasaran ingin tahu seperkasa apa pria itu sampai suami yang sering membuatnya kuwalahan, ditolak mentah-mentah oleh wanita yang disukainya
"Oh ya, di mana bocah itu?" tanya Farhan.
"Felix?" Bryan memastikan orang yang dimaksud oleh Farhan.
Bryan teringat dengan temannya satu lagi yang belum datang. Pria itu tidak ada kabar dari tadi siang.
"Dia yang membuat rencana, tetapi dia belum datang. Dasar Felix," gerutu Bryan. Dia pun mengambil ponsel untuk menghubungi Felix
Mencari nomor ponsel Felix, dia mengusap layar ponsel dan menempelkannya di telinganya. "Di mana kamu?" Tanpa berbasa-basi dia menanyakan keberadaan asisten sekaligus temannya itu.
"Sebentar, ada yang ingin aku beli." Felix yang sedang di swalayan berdiri di lorong khusus minuman beralkohol. Dia memilih-milih jenis minuman yang akan dibawanya ke tempat Bryan.
Felix sudah merencanakan jika malam ini akan dia nikmati dengan minum bersama dengan teman-temannya. Tak jadi di kelab, minum di rumah pun tak apa.
"Baiklah, cepat kemari, Farhan sudah di sini," ucap Bryan.
"Siap," jawab Felix.
Bryan mematikan sambungan teleponnya. "Dia akan segera kemari."
Farhan mengangguk. Dia menunggu temannya yang satu itu datang.
***
__ADS_1
Bryan sedang asik mengobrol untuk menunggu Felix. Sebenarnya, hanya tanya jawab, karena si batu bernapas itu hanya menjawab tanpa bertanya balik pada Bryan. Sudah sama persis seperti anak sekolah dan gurunya.
Suara bel terdengar dan membuat asisten rumah tangga langsung membukakan pintu dan mempersilakan tamu masuk.
"Wah ... ternyata kalian sudah berkumpul," ucapnya pada Bryan dan Farhan.
Bryan yang melihat Felix merasa heran. Karena ternyata temannya itu tidak membawa apa-apa. Namun, Bryan menyingkirkan pikirannya karena dia tahu temannya itu pasti sedang merencanakan sesuatu.
Felix mengulurkan tangannya pada Farhan. "Apa kabar junjungan kita?" tanya Felix dengan gaya menggoda.
"Baik," jawab Farhan datar.
Mata Felix beralih pada wanita yang bersama dengan Farhan. "Ini ...."
"Istriku," potong Farhan saat melihat Felix tampak ingin bertanya siapa wanita yang di sampingnya.
"Sepertinya kamu akan awet muda jika istrimu sebelia ini. Heran, kenapa jaman sekarang banyak gadis yang suka dengan om-om? Kasihan pria muda memposana sepertiku," gurau Felix memuji diri sendiri.
Farhan mendengus kesal. Namun, ia tidak menyangkat tentang tuduhan om-om yang Felix ucapkan. Setelah Bryan, satu temannya itu mengatakan jika Lisa sangat muda.
"Sudah-sudah sebaiknya kita makan malam dulu, setelah itu kita bisa lanjutkan mengobrol." Bryan mengakhiri perdebatan yang akan dimulai oleh double F itu.
Bryan dan Shea mengajak mereka untuk makan malam. Mereka makan malam sambil saling bercerita tentang masa-masa kuliah.
Lisa dan Shea hanya mendengarkan tiga pria itu bercerita.
Selesai makan, Shea mengajak Lisa untuk ke kamar bayi karena Shea akan menidurkan anaknya, sedangkan Bryan mengajak Felix dan Farhan untuk ke taman belakang.
.
.
.
.
...Kita kedatangan tamu kali ini....
...Yang udah kenal pasti sudah tahu, yang belum yuk kenalan....
...Farhan dan Lisa...
...Tokoh novel dari...
...Hello,My Boss!...
__ADS_1
...Karya Anarita...