
Semua anggota keluarga berkumpul di rumah Melisa dan Daniel. Kali ini semua anggota keluarga lengkap. Ada kedua orang tua Regan yang secara khusus datang yaitu Lana dan Andrew. Keadaan Andrew yang sudah jauh lebih baik, membuatnya ingin merasakan juga kebahagiaan anak-anaknya.
Lana dan Andrew merasa sangat senang saat mengetahui menantunya sudah bisa jalan. Itu menandakan jika kesedihan anaknya sudah selesai.
Bersama-sama, mereka semua makan malam. Di meja makan tampak wajah-wajah bahagia dari semua anggota keluarga. Sesekali mereka bercerita dan menyelipkan
"Kalian sudah melewati kesulitan ini, jadi kalian berdua harus merayakan kebahagiaan kalian," ucap Melisa pada Regan dan Selly di sela-sela makan.
"Maksud Mama apa?" Selly yang mendengar ucapan mamanya merasa sangat bingung.
"Maksud Melisa, kalian bisa pergi jalan-jalan berdua," timpal Lana yang mengerti maksud dari besannya.
"Iya, itu maksud mama. Kalian bisa pergi jalan-jalan ya semacam bulan madu." Melisa menjelaskan pada Regan dan Selly.
"Tapi - "
"Masalah Al, kalian tenang saja, biar mama dan Shea yang menjaga," potong Melisa sebelum Selly menyanggah.
Bryan yang mendengar ucapan mamanya terkejut. Dia merasa heran kenapa istrinya yang harus menjaga keponakannya.
"Iya, Kak Regan dan Kak Selly pergi saja, nanti biar aku yang menjaga Al." Dengan senyum merekah di wajahnya Shea menjelaskan kembali.
Selly dan Regan menimbang-nimbang tawaran Shea dan mamanya. Sebenarnya mereka tidak perlu takut karena Al berada di tangan yang tepat.
"Kami akan pikirkan, Ma," jawab Selly.
Dari pembicaraan mereka semua hanya Bryan yang terlihat kesal, karena kakaknya akan pergi jalan-jalan atau bulan madu.
"Kalian pergilah, tapi nanti setelah kalian pulang, kami gantian yang akan pergi, dan kalian gantian menjaga El." Bryan yang tidak terima pun akhirnya memikirkan cara untuk dia pergi juga.
Bryan juga ingin merasakan pergi berdua dengan Shea, karena jujur waktu mereka berdua memang sangat kurang.
Mata Shea membulat sempurna saat mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka jika suaminya mengatakan akan hal itu. "Memangnya kita mau kemana?" bisiknya.
"Bulan madu," jawab Bryan berbisik juga.
Shea semakin terkejut dengan jawab Bryan. Dia tidak menyangka jawaban Bryan seperti itu. Melanjutkan makannya, Shea memilih diam dan tak melayangkan pertanyaan lagi.
"Iya, nanti aku akan gantian menjaga El," jawab Selly tersenyum. Dia tahu jika sebenarnya Bryan ingin pergi berdua saja dengan Shea.
Melisa merasa senang saat melihat anaknya saling membantu. Anak dan menantunya begitu akur, hingga tak ada drama di dalan keluarganya seperti di film-film.
"Kalian pergi saja, nanti mama akan menjaga Al dan Melisa akan menjaga El." Lana pun ikut memberikan ide pada Bryan, Shea, Regan, dan Selly.
Seperti mendapatkan durian runtuh, Bryan begitu senang. "Benarkah Mama Lana akan membantu menjaga anak-anak?" Bryan memastikan kembali ucap Lana.
__ADS_1
"Iya, kalian pergi saja, nikmati waktu kalian," ucap Lana menatap Bryan, Shea, Regan dan Selly bergantian. "Apalagi kalian berdua. Kalian sudah banyak membantu Selly dan Regan, jadi kalian pun juga berhak untuk berlibur," imbuh Lana lagi menatap Bryan dan Shea.
Shea tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dia sendiri bingung. Dia benar-benar tidak tega meninggalkan El. Pergi bersama Bryan sebentar saja, dia memikirkan anaknya, apalagi sekarang pergi dan mungkin untuk dua sampai tiga hari.
Lana dan Melisa saling menatap tersenyum. Mereka yang sudah tahu betul perjalanan rumah tangga, mengerti jika anak dan menantunya butuh ruang untuk berdua setelah perjuangan mereka yang panjang, dan memberikan ide jalan-jalan adalah ide bagus.
Bagi Melisa dan Lana perjuangan bukan hanya milik Regan dan Selly saja, tetapi milik Bryan dan Shea. Bagaimana sepasang orang tua itu menjaga keponakannya di saat sang kakak sakit, perlu mendapatkan hadiah liburan juga.
***
Selesai makan malam, Lana dan Andrew berpamitan untuk pulang, sedangkan dua pasang suami istri memutuskan untuk menginap, mengingat waktu sudah malam.
Di dalam kamar Shea yang masih bingung terus terdiam. Dia masih memikirkan untuk pergi atau tidak. Melihat ke arah El yang sedang menyusu dia memikirkan rasa tidak teganya meninggalkan bayi kecilnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bryan yang melihat Shea terdiam. Dia menyusul Shea ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di samping El, dia mengapit bayi kecil itu di antara dirinya dan Shea.
"Apa kamu yakin akan meninggalkan El?" Satu pertanyaan langsung terlontar dari mulut Shea.
Bryan baru mengerti apa yang membuat istrinya terdiam. "El berada di tangan yang tepat, apa yang kamu takutkan?" Tangannya membelai lembut lengan Shea.
"Apa seperlu itu kita jalan-jalan?" Shea masih saja berusaha untuk Bryan membatalkannya.
"Kamu tahu bukan kita jarang punya waktu berdua. Bukan tidak menganggap El atau menganggap El penghalang, tetapi menurut aku sebagai sepasang suami istri kita perlu waktu berdua." Bryan mencoba menjelaskan pada istrinya itu.
Mata Shea menatap lekat wajah El. Menimbang lagi apa yang dikatakan oleh suaminya. "Baiklah."
"Tetapi jangan lama-lama," pinta Shea merajuk.
"Tergantung padamu."
"Aku?" tanya Shea memastikan. Dia bingung kenapa dirinya yang menentukan semua.
"Iya, karena saat aku puas, kita akan segera pulang," ucap Bryan menyeringai. Senyum licik tertarik di ujung bibirnya.
Shea langsung memanyunkan bibirnya. Dia mengerti kemana arah pembicaraan suaminya itu.
"Jangan seperti itu." Bryan yang gemas mencubit pipi Shea. Tawanya terdengar dan membuat El yang sedang asik mengejap-ngerjapkan mata tersentak kaget.
"Husttt … " ucap Shea seraya memberi isyarat jari di depan bibirnya.
Seketika Bryan terdiam, karena dia tidak mau menganggu bayi kecilnya.
***
Di kamar yang lain, Regan yang melihat anaknya sudah tertidur, membalikkan tubuh Selly untuk menghadapnya. "Aku senang kami sudah bisa jalan," ucapnya menatap penuh damba.
__ADS_1
"Belum sempurna, aku masih memakai tongkat."
"Iya, tetapi sebentar lagi pasti kamu akan cepat jalan tanpa mengunakan tongkat."
Selly mengangguk. Tangannya meraba dada Regan. "Apa kamu yakin kita akan pergi?"
"Apa kamu tidak suka?" Regan kembali bertanya.
"Bukan begitu," elak Selly.
"Lalu?"
"Aku belum sempurna berjalan dan bergerak pun masih kesulitan. Jadi - " Selly bingung mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
Regan tersenyum. Sebagai suaminya, dia tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya itu. "Tak perlu banyak gerak, aku yang kendalikan permainan," ucapnya.
Pipi Selly merona, dia tahu suaminya mengerti apa yang dimaksud. Pergi berdua tidak mungkin tidak ada agenda melepaskan kerinduan mereka akan sebuah kehangatan.
"Yang terpenting aku ingin mendengar suara merdu darimu," bisik Regan.
"Kamu." Selly yang malu langsung membenamkan kepalanya di dada Regan.
"Jangan memintaku untuk menunda lagi," ucapnya dengan nada berat.
Selly mengangguk. Dia sadar penantian suaminya sudah panjang. Jadi tidak ada alasan untuk menolak.
"Aku akan menunggu waktu itu tiba." Regan mengeratkan pelukannya. Memberikan kehangatan dalam dekapannya.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa ...
...Beri Like...
...Beri Komentar...
...Beri Vote...
__ADS_1
...Beri Hadiah...
... ( ambil poin gratis di pusat misi)...