
Sudah seminggu ini, Bryan terus berusaha membujuk istrinya untuk mendapatkan maaf. Segala cara dia kerahkan. Satu hal yang dia lakukan adalah meredam cemburunya, karena itulah alasan kekesalan Shea.
Namun, usaha tidak hanya dilakukan oleh Bryan saja. Shea yang tahu jika suaminya cemburu dengan Regan, akhirnya benar-benar membatasi kedekatannya. Walaupun setiap hari Shea ke rumah Regan dan Selly, dia akan datang ke rumah Regan dan Selly, saat Regan sudah berangkat, dan akan pulang sebelum Regan pulang kantor.
Sebisa mungkin Shea akan bertemu dengan Regan saat ada Bryan. Saat Selly sudah sadar, memang membuat Shea sedikit lega saat meninggalkan Al di rumahnya. Selain ada babysitter, ada Selly yang juga mengawasi.
Pagi ini, Shea membantu Bryan untuk bersiap. Tangannya sibuk memakaikan dasi di kerah kemeja yang Bryan pakai. "Jangan bawa bunga lagi!" ucap Shea seraya tangannya bergerak memakaikan dasi pada Bryan.
Sudah seminggu ini, suaminya itu pulang dengan sebuket bunga. Sudah ada tujuh buket bunga yang Shea letakkan di beberapa vas bunga di rumahnya. Dari ruang tamu, ruang keluarga, meja makan, meja taman belakang, dan satu di lagi di kamar. Karena tujuh hari, dua bunga sudah layu dan sudah masuk ke tong sampah.
"Lalu aku harus beri apa? Aku ingin beri kamu coklat, tapi kamu tidak mau." Bryan bingung harus memberikan istrinya itu apa.
"Apa kamu mau membuatku gemuk?" tanya Shea memutar bola matanya malas.
"Tentu saja tidak mau," ucap Bryan merengkuh pinggang Shea. Dia mendekatkan tubuhnya pada istrinya. Mendaratkan kecupan di pipi istrinya.
"Kamu selalu saja tidak bisa diam jika pakai dasi." Shea mendorong tubuh Bryan yang berusaha menciumnya. "Apa kamu tidak malu El melihatmu?" tanyanya.
Mendapati pertanyaan Shea, Bryan beralih pada El yang sedang asik dengan mainannya. Dia memasukannya ke dalam mulut dan menggigitnya.
"Apa giginya sudah tumbuh?" tanya Bryan yang penasaran.
"Belum tumbuh, tetapi saat dia menggigit sakit sekali," keluh Shea seraya melirik ke arah anaknya yang sedang asik di atas tempat tidur.
"Oh … ya? Coba aku lihat!" Tangan Bryan membuka kancing baju yang dipakai oleh Shea untuk melihat hasil kenakalan anaknya. Namun, dia menghentikan aksinya saat tangannya dipukul oleh Shea.
"Kenapa dipukul?" tanya Bryan polos.
"Aku tidak yakin kamu hanya melihat," cibir Shea.
Bryan seketika tertawa. Istrinya sekarang sudah tidak seperti dulu pertama dia kenal. Jika dulu segala modusnya bisa menguntungkan dirinya, kini dia sudah kesulitan, karena Shea sudah tahu akal bulusnya.
"Kamu sekarang semakin pintar," puji Bryan.
Shea pun membalas tawa Bryan. Dia sebenarnya tidak masalah jika suaminya seperti itu, karena sebenarnya dia pun menikmati. "Sekarang El sudah mulai besar, jangan sembarang. Aku takut nanti dia mengikutimu."
__ADS_1
"Iya, aku tidak akan melakukannya saat ada El," jawab Bryan, "tapi jika tidak ada El jangan melarang aku," imbuhnya seraya mengedipkan matanya pada Shea.
"Sudah sana berangkat!" Shea yang malu mengalihkan pembicaraan.
Bryan yang melihat dasi sudah terpasang dengan rapi langsung memakai jasnya. Di bantu Shea, dia merapikan penampilannya.
Setelah mematikan penampilannya sudah rapi, Bryan keluar dari kamar bersama dengan Shea dan El. Bayi kecil yang sudah mulai berisi itu berada di dalam gendongan Shea.
"Hari ini Kak Selly terapi?" tanya Bryan saat menuruni anak tangga.
"Iya, hari ini akan terapi. Sepertinya dia akan belajar duduk." Shea menjelaskan pada Bryan.
Bryan tahu jika kakaknya baru bisa menggerakkan tangannya, dan semua itu adalah proses yang tidak mudah. Akan tetapi dia bersyukur, karena saat tangan kakaknya bisa bergerak, dia bisa memeluk anaknya.
"Semoga baik-baik saja, dan berjalan lancar."
"Iya, aku pun berharap begitu."
Bryan dan Shea menuju ke mobil. Bryan akan mengantarkan Shea terlebih dahulu ke rumah kakaknya. Karena mamanya sudah datang, Bryan tidak takut lagi jika Regan dan Shea berdekatan.
Bryan yang gemas pada anaknya langsung mendaratkan kecupan di pipi gembul El. Bagi Bryan melihat anaknya adalah satu kebahagiaan.
"Sayang, sudah nanti dia menangis." Shea yang melihat Bryan mencium dengan gemas langsung meminta suaminya berhenti.
"Kalau begitu mommy saja." Bryan beralih pada Shea dan menciumnya dengan gemas.
Shea hanya bisa pasrah. Dia tidak akan protes, tapi sayangnya tangan mungil El yang berusaha meraih wajah Bryan seolah sedang menghentikan aksi daddy-nya.
Tawa Bryan dan Shea pun terdengar saat melihat anaknya.
Setelah puas berpamitan Shea keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah sudah ada Mama Melisa dan Papa Daniel. Mereka berdua dengan setia menunggu Selly yang sedang terapi.
Mereka semua berada di kamar, menemani Selly yang sedang berusaha untuk duduk.
"Ayo semangat mommy," ucap Shea seraya menggoyangkan tangan Al yang berada digendongan mama mertuanya.
__ADS_1
Mendengar akan semua orang yang begitu menyemangatinya, Selly terus berusaha. Dia tidak mau mengecewakan semua yang sudah mendukung.
Perlahan dia bisa duduk bersandar pada headboard tempat tidur.
Regan yang menjaganya agar tubuh istrinya itu tidak jatuh. "Kamu bisa, Sayang." Satu kecupan Regan berikan di puncak kepala Selly. Dia merasa senang saat istrinya bisa duduk.
Shea, Melisa dan Daniel merasa sangat senang. Dengan cepat Melisa mendekat pada putrinya itu.
Melisa menghampiri Selly dan memberikan Al dai pangkuan Selly. Karena tangan Selly sudah bisa bergerak, dia bisa leluasa mendekap tubuh anaknya.
Kecupan mendarat bertubi-tubi di wajah El. Selly merasa sangat senang saat dia bisa memeluk anaknya.
"Untuk sementara Ibu Selly bisa memakai kursi roda untuk keluar dari kamar." Terapis pun memberitahu. "Akan tetapi harus tetap selalu diawasi."
Regan mengerti penjelasan yang diberikan oleh terapis. Melisa yang mendengar jika Selly sudah bisa mengunakan kursi roda langsung mengambil Al dari gendongan Selly.
Regan menangkup tubuh Selly dengan kedua tangannya, dan membawa dalam gendongannya untuk memindahkannya ke kursi roda. Tangan Regan beralih mendorong kursi roda dan membawa Selly keluar dari kamar.
Selly merasa sangat senang saat bisa melihat bagian rumahnya selain di kamar. Mendorong dengan perlahan, Regan membawa Selly ke taman belakang agar Selly dapat menikmati suasana baru.
Air mata Selly menetes. Dia merasa senang bisa melihat langit yang begitu indah, bunga-bunga yang bermekaran di taman, dan rumput hijau yang begitu segar. Dia tidak menyangka jika akhirnya dia bisa melihat itu semua.
"Wah … sebaiknya nanti malam kita akan adakan makan malam bersama," ucap Melisa senang. Dia tidak sabar untuk merayakan kebahagiaan ini.
"Iya, kita akan rayakan hari bahagia ini," imbuh Regan menatap Selly. Dia juga tidak mau kehilangan merayakan moment bahagia ini.
.
.
.
.
...Jangan lupa like dan vote ...
__ADS_1