My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Bochap 2. Menyewa


__ADS_3

Shea memasukan baju ke dalam koper. Sesekali dia melihat list di secarik kertas yang dibuatnya. Memberikan tanda centang saat barang sudah masuk ke dalam koper. 


"Apa belum selesai juga?" tanya Bryan yang keluar dari kamar mandi. Dengan mengosok-gosok rambutnya yang basah, dia menghampiri Shea. Matanya melihat tiga koper yang terbuka dan sedang diisi oleh Shea.


"Belum." Tangan Shea terus saja memasukan beberapa baju milik El. Beberapa baju hangat sengaja dia bawa agar anaknya nanti di sana tidak kedinginan. 


Bryan menggeleng. Tadi siang, dia menghubungi istrinya itu dan istrinya itu mengatakan sedang menyiapkan barang-barang yang akan dibawa, tetapi sampai saat dia sudah di rumah, istrinya belum selesai juga. Entah apa yang dibawa Shea, Bryan benar-benar tidak mengerti. 


Melanjutkan langkahnya, Bryan mengambil baju dan memakainya. Suasana kamar tampak sepi, karena El yang biasa membuat suara gaduh sedang asik tertidur. Padahal waktu masih menunjukan jam tujuh. 


"Apa nanti kita bisa bulan madu?" Bryan yang selesai memakai bajunya menghampiri Shea dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. 


Shea tertawa. Tubuhnya yang sedang membungkuk, dia tegakkan. "Kita tidak pergi sendiri. Ada mama, papa, orang tua Kak Regan, Kak Regan dan Kak Selly. Bagiamana bisa kita bulan madu hanya berdua?" 


"Aku akan atur. Yang terpenting sekarang adalah Kamu setuju dahulu."


Shea membalikan tubuhnya. Kemudian menatap Bryan. "Lalu El?" tanyanya. Tidak mungkin dia meninggalkan El hanya untuk kesenangannya. 


"Ada mama dan papa, apa yang kamu khawatirkan?" 

__ADS_1


Sesuai dugaan Shea, suaminya itu akan menitipkan pada mertuanya. Namun, Shea merasa sangat tidak enak. "Aku—"


"Aku tidak menerima penolakan. Masalah mama dan papa, aku yakin mereka tidak akan keberatan dititipi El sebentar. Lagi pula kapan lagi menghabiskan waktu bersama di luar negeri. Anggap saja jika ini adalah bulan madu yang tertunda." 


Shea menyadari sejak menikah mereka memang belum pernah pergi ke luar negeri. Yang biasa mereka lakukan adalah di dalam negeri. Itu juga hanya beberapa kali, mengingat dulu dia hamil dan saat El lahir, mereka sibuk dengan Selly dan Al.


"Baiklah." Terkadang Shea harus merelakan satu harinya untuk suaminya juga. Jangan sampai karena sibuk mengurus anak, suaminya sampai berpindah hati karena kurangnya waktu bersama. 


Bryan mendaratkan satu kecupan di dahi Shea dan melepas pelukannya. Memberikan kesempatan istrinya untuk melanjutkan pekerjaannya. 


"Besok kita berangkat jam berapa?" 


Bryan duduk di atas tempat tidur bersandar pada headboard tempat tidur. Sesaat kemudian, Shea menyusul setelah selesai merapikan semuanya. Hari terakhirnya besok akan dia gunakan untuk mengecek kembali barang yang akan dibawa. 


"Apa El akan rewel nanti?" tanya Shea sambil merebahkan tubuhnya, memeluk Bryan. 


"Kalaupun rewel dan menangis tidak akan jadi masalah bukan? Karena pesawat hanya diisi kita sekeluarga." Membelai rambut istrinya, Bryan menjelaskan. Inilah alasannya memakai pesawat pribadi.


"Punya siapa pesawat itu? Apa itu punya Kak Regan?" Berkali-kali Shea mendengar jika mereka akan naik pesawat pribadi, tetapi tidak tahu milik siapa pesawat itu. 

__ADS_1


"Bukan."


"Lalu apa itu Punyamu?" tanya Shea semakin penasaran. Dia menjauhkan tubuhnya sedikit untuk menjangkau wajah suaminya. 


"Bukan, kami hanya menyewanya," jelas Bryan.


"Oh ... sewa ... aku pikir Kamu atau Kak Regan mempunyai pesawat pribadi." 


Bryan langsung tertawa mendengar ucapan Shea. "Aku dan Kak Regan tidak sekaya itu hingga memiliki pesawat pribadi. Lagipula pengusaha di luar sana belum tentu memiliki juga. Rata-rata mereka juga menyewa sama seperti diriku. Baru jika mereka pengusaha besar, mungkin ada kemunginan mereka punya."


"Aku pikir semua pengusaha punya pesawat pribadi dan pulau pribadi seperti di dalam film." Shea menjelaskan seraya membayangkan beberapa film yang pernah ditontonnya.


"Ini dunia nyata," ucap Bryan mencubit hidung Shea. "Jangan terlalu terlalu tinggi berimajinasi karena kenyataannya tidak seperti itu. Memiliki pulau tidak semudah itu dan lagi memiliki pesawat juga memiliki biaya perawatan besar dan membuat para pengusaha memilih menyewa dari perusaahan yang menyediakan jasa sewa pesawat dari pada memiliki sendiri." 


Shea hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia baru tahu ternyata suaminya tidak sekaya di dalam film yang ditontonnya atau mungkin saja dirinya yang tidak tahu kenyataan jika sebenarnya mereka juga sama seperti Bryan menyewa. 


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2