My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Menjadikanmu istrinya!


__ADS_3

"Iya, Pak Bryan apa yang bisa saya bantu?" tanya Jessie.


"Bisakah kamu mengirim saya beberapa data. Saya akan kirimkan list datanya."


"Maaf Pak, saya tidak bisa, karena sekarang saya sudah tidak bekerja di perusahaan Pak Regan lagi." Senyum licik tertarik di wajah Jessie.


"Memangnya kenapa kamu tidak bekerja lagi?" tanya Bryan.


"Saya dipecat Pak."


"Kenapa memang kamu dipecat?" Bryan ingin tahu kenapa sekertaris kakak iparnya itu dipecat. Padahal dia tahu jika kakak iparnya sedang ada di luar negeri dan tidak mungkin memecat.


"Kemarin saya hanya menyampaikan gosip pada Ibu Shea, tetapi sepertinya Ibu Shea tidak terima dan melaporkan pada Pak Regan." Dia mengambil kesempatan agar membuat Bryan dan Shea bertengkar.


"Gosip? Gosip apa maksud kamu?" Bryan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jessie, dan terlebih lagi Jessie membawa nama Shea.


"Jadi kemarin saya ke rumah, Pak. Di sana saya melihat Bu Selly, saya sangat kasihan. Lalu saya menceritakan pada Bu Selly jika di kantor sedang ada gosip Bu Shea yang akan mengantikan Bu Selly menjadi istri Pak Regan nanti, setelah Bu Selly meninggal, karena selama ini anak Pak Regan dirawat oleh Bu Shea. Namun, sepertinya Bu Shea merasa tidak suka saya menceritakan itu dan meminta Pak Regan memecat saya."


Jessie bersorak hore saat bisa menghasut Bryan. Paling tidak dia masih bisa membalas sakit hatinya pada Shea.


"Kamu pikir aku akan percaya ucapan darimu itu? Bagus jika kak Regan memecat dirimu. Karena jika aku jadi kak Regan aku akan melaporkanmu atas tuduhan pencemaran nama baik!" Suara Bryan terdengar tegas.


Jessie menelan salivanya. Dia tidak menyangka jika dia justru akan mendapatkan ancaman. Padahal niatnya tadi ingin membuat prahara di rumah tangga Shea. "Maaf, Pak," jawab Jessie.


"Ingat baik-baik. Jika kamu melakukan tindakan merugikan untuk keluarga kami. Aku tidak akan segan-segan melaporkan dirimu ke polisi dan menjebloskan dirimu ke dalam jeruji penjara." Bryan tidak akan membiarkan orang-orang seperti Jessie itu mengganggu keluarnya.


"Baik, Pak. Saya tidak akan melakukannya." Jessie tidak punya kuasa saat yang di hadapinya adalah seorang CEO.


Bryan langsung menutup teleponnya sedangkan Jessie yang ketakutan buru-buru merapikan barang-barangnya. Dia ingin segera berlalu dari kantor Regan karena sudah tidak mau berurusan dengan Regan dan Bryan.


Jessie menyadari jika kekuatan uang masihlah sangat berpengaruh, dan melawan kedua CEO perusahaan besar bukalah ide yang baik.


***


Bryan yang menutup sambungan teleponnya, merasakan geramnya. Dia benar-benar muak mendengarkan bualan Jessie. Namun, walaupun hanya sebuah bualan, tetapi membuat pikirannya terusik. Apalagi memang sudah beberapa waktu ini pikirannya di penuhi dengan bayangan Shea dan Regan.


Aku benar-benar sudah gila. Mereka tidak akan melakukan hal sejauh itu. Apa lagi mereka orang-orang setia.


Menguatkan hatinya. Bryan berusaha menyingkirkan pikiran buruk tentang Shea dan Regan.


Akhirnya dia pun melanjutkan pekerjaannya. PIkirnya data yang dia butuhkan akan dia minta nanti saat Regan datang.

__ADS_1


***


Setelah Melisa pulang, Shea menemani baby Al dan El yang masih memasang mata beningnya, seolah mereka belum mengantuk.


Cukup lama Shea menidurkan kedua bayi kecil itu. Hingga akhirnya mereka benar-benar tertidur pulas.


Kini, dia tinggal menunggu suaminya pulang. Beberapa hari ini memang Bryan pulang larut malam.


Shea bangkit dari tempat tidur dengan perlahan, agar tidak membangunkan dua bayi kecilnya. Dia ingin pergi mengecek keadaan Selly terlebih dahulu, karena terakhir dia mengecek adalah sebelum menidurkan anak-anaknya.


Keluar dari kamarnya dia menuju ke kamar Selly. Dia meminta perawat keluar karena dia akan menjaga sebentar sebelum Bryan pulang.


Waktu menunjukan jam sepuluh malam. Shea yakin kakaknya pasti tidur. Namun, sejenak dia menertawakan dirinya sendiri, saat menyadari jika saat koma mungkin Selly tidak tahu mana siang, mana malam.


Saat menunggu Selly, suara pintu kamar terdengar. Shea menoleh untuk memastikan jika Bryan adalah orang yang datang. Namun, bukan Bryan yang dia dapati, melainkan Regan.


"Kak Regan," ucap Shea berdiri. Dia terkejut melihat Regan sudah pulang. "Kakak kenapa sudah pulang.?" Dia tahu pasti jika Regan akan ada di luar negeri selama seminggu.


"Iya, aku khawatir dengan kalian semua." Setelah mendapatkan kabar dari Melisa dan Shea, akhirnya dia memutuskan untuk segera kembali ke tanah air hari itu juga.


"Kami baik-baik saja, Kak."


Regan melangkah menghampiri Shea dan Selly yang berada di tempat tidur. "Iya, aku tahu." Matanya melihat ke arah Selly yang tidak ada perubahan dari terakhir kali dia tinggalkan. Sesaat kemudian dia beralih pada Shea. "Apa yang sudah dia lakukan padamu?"


"Apa sakit?" Tangan Regan meraih tangan Shea untuk mengecek keadaan Shea.


"Tidak apa-apa, Kak."


Shea menarik tangannya. Namun, belum sempat dia menarik tangannya sepenuhnya, Bryan sudah masuk ke dalam kamar.


"Sayang." Shea sedikit ketakutan saat Bryan masuk secara tiba-tiba. Dia pun menarik tangannya yang masih belum sempurna dia tarik dari genggaman Regan.


"Ternyata gosip itu benar?" ucap Bryan seraya melangkah menghampiri Shea dan Regan.


"Sayang, gosip apa maksudmu?" Shea tidak mengerti apa yang diucapkan Bryan.


"Gosip kedekatanmu dengan dia," ucap Bryan seraya menunjuk Regan.


"Sayang, kami tidak ada apa-apa." Shea menyadari jika kecemburuan Bryan sudah di tahap melebihi batas.


"Kamu bilang tidak apa-apa? Lalu tadi apa yang aku lihat?"

__ADS_1


"Ta-di …." Shea bingung menjelaskan karena suaminya tidak tahu kejadian kemarin.


"Tadi apa? Tadi kalian bermesraan?" tanya Bryan tajam.


"Bry, ini hanya salah paham, bukan seperti itu yang terjadi." Regan ikut menjelaskan agar adik iparnya itu tidak salah paham.


"Diamlah, aku sedang berbicara dengan istriku!" Bryan yang tidak suka Regan ikut campur, langsung memintanya untuk menutup mulutnya.


"Sayang, jangan berburuk sangka," ucap Shea menenangkan Bryan. Tangannya meraih lengan Bryan dan membelainya, berharap suaminya itu akan tenang. "Kamu tahu bukan, jika aku mencintamu dan kak Regan mencintai kak Selly. Jadi tidak ada bermesraan," ucap Shea dengan lembut.


Bryan menghempas tangan Shea. Kemarahannya sudah berada di puncak. Dia yang sudah beberapa hari memikirkan kemungkinan terburuknya saat Regan dan Shea saling bertemu. Belum lagi kakaknya yang tidak kunjung sadar membuatnya semakin dalam pikiran buruk.


"Lucu sekali kamu? Apa kamu tidak sadar, jika kak Regan sedang berusaha mendekatimu?" Bryan menatap Shea dengan tersenyum mencibir.


Mata Shea melebar, dia terperangah mendengar ucapan Bryan. Dia pikir akan mudah menenangkan Bryan, tetapi sepertinya dia salah.


"Di depan kak Selly dia menarik tanganmu dan menggenggamnya. Seolah dia sudah sangat siap mengantikan kak Selly dengan dirimu."


"Sayang, cukup, hentikan ucapanmu!" Shea benar-benar sudah tidak tahan dengan ocehan Bryan.


"Kenapa harus aku menghentikannya. Memang yang aku katakan benar, bukan?"


"Tutup mulutmu! Kamu sudah terlalu berlebihan." Suara Shea meninggi diiringi tatapan tajam pada Bryan.


"Berlebihan katamu? Aku mendengar sendiri kak Regan yang mengatakan jika kak Selly meminta suaminya sendiri menikah denganmu dulu waktu kita melakukan perjanjian kontrak!"


Shea terkejut. Dia baru tahu jika Bryan mendengar ucapan Regan tempo hari. Jadi ini awal pikiran buruk Bryan?


"Dan saat keadaan kak Selly yang tak kunjung sadar seperti saat ini, apa yang akan dia lakukan setelah kak Selly meninggal, jika tidak menjadikanmu istrinya!" Bryan melanjutkan ucapannya. Suaranya benar-benar terdengar keras. Kemarahannya terlampiaskan dari setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Shea yang tidak tahan dengan ucapan Bryan pun menghadiahi suaminya dengan sebuah tamparan. Mendengar orang membahas kematian Selly, Shea selalu saja tidak terima. "Kamu sudah keterlaluan!"


.


.


.


.


...Kira2 apa yang bakal terjadi?...

__ADS_1


...Like, komentar dan Vote dulu ya......


__ADS_2