
Shea melihat seluruh keluarga yang berada di sana. Ada kedua mertuanya, kedua orang tua Regan, Selly, Regan, Erik, dan Felix.
Mereka mengingatkan aku pada hari pernikahanku dengan Bryan dulu.
Saat sedang membatin tentang pernikahan, Shea mengingat jika hari ini tepat dirinya menikah dengan Bryan.
Shea mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling. Dia mendapati dekor cantik yang sama persis dengan pernikahannya dulu.
Akhirnya Shea menemukan jawaban atas semua keanehan Bryan dua hari ini. Pesta yang dimaksud suaminya adalah pesta ulang tahun pernikahannya bukan pesta kerabatnya.
Saat sedang memikirkan semuanya, tiba-tiba ada yang menghampirinya. Mereka adalah adalah Alex dan Chika.
Mata Shea berkaca-kaca. Dia sudah menebak jika semua pasti ulah Bryan. Dia ingat bagaimana dulu dia hanya sendiri saja, tanpa teman dan tanpa saudara, dan kini dia menghadirkan orang terdekatnya.
Alex dan Chika mendampingi Shea untuk ke pelaminan. Mengapit Shea dan menemani menuju ke tempat sang suami berada.
Shea hanya bisa menggeleng, sejak kapan suaminya itu sudah ada di pelaminan? Padahal belum lama tadi dia ada dibelakangnya. Mungkin saat Shea sedang sibuk merasakan keterkejutannya, Bryan pergi ke depan.
Melangkah ke depan menuju pelaminan yang sama persis dengan pelaminannya dulu, Shea melewati baby Al dan El yan berada di gendongan nenek mereka. Dengan setelah jas, dua jagoan kecil itu tampak begitu mempesona, tak kalah dengan para pria dewasa di sekitarnya.
Sampai di pelaminan, Bryan mengulurkan tangannya. Membawa Shea, tepat di hadapannya. Wajah Shea dihiasi senyuman. Tak ada kata selain kata bahagia yang bisa menggambarkan perasaannya.
Bryan berlulut di hadapan Shea, membuka sebuah kotak berisi cincin dan menunjukannya pada Shea.
"Hari ini tepat setahun kita menikah. Dulu tidak ada kebahagiaan dalam pesta kita," ucap Bryan.
Shea memutar ingatannya. Bagaimana dulu dirinya menikah karena terpaksa. Karena dirinya yang sudah hamil duluan, dan mau tidak mau dia harus menikah.
"Hari itu tidak ada teman atau saudara yang datang menemanimu." Bryan melanjutkan kembali ucapannya.
Mata Shea beralih pada Alex dan Chika. Orang tua Shea yang memang sudah tidak memiliki saudara, membuat Shea tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya Alex dan Chika yang ada di hidupnya, sebelum bersama Bryan.
"Kini, aku ingin mengulang sejarah dengan yang lebih indah," ucap Bryan, "Olivia Shea, maukah kamu menemaniku dalam suka dan duka, menemaniku melihat anak-anak yang akan tubuh dewasa, dan menemaniku sampai akhir hayatku."
Bryan menatap penuh damba pada Shea. Melihat dengan segala cinta yang ada di hatinya.
Air mata Shea mengalir di wajah cantiknya. Dia tidak menyangka jika Bryan akan melakukan semua ini.
__ADS_1
"Aku mau." Dulu, Shea begitu takut menyerahkan hidupnya pada Bryan, tetapi kini tanpa keraguan, dia menyerahkan seluruh hidupnya pada Bryan.
Bryan tersenyum, dan memasangkan cincin pada jari tengah Shea. Jari yang tampak kosong karena cincin pernikahan yang lama sudah disimpan oleh Shea. Tubuh Shea yang sedikit gemuk pasca melahirkan, membuat cincin sudah tidak muat lagi.
Bryan berdiri dan mendaratkan ciuman pada Shea. Menyesap manis bibir wanita yang begitu dicintainya.
Jika biasanya Shea akan menolak berciuman di depan banyak orang, kali ini dia mengabaikan sekeliling dan membalas ciuman dari Bryan.
Felix yang berada di samping Chika, spontan menutup mata wanita di sampingnya itu, agar tidak melihat pemandangan indah antara Bryan dan Shea.
"Tidak baik melihat," ucap Felix polos.
Chika hanya mendengus. Tangan Felix yang menutupi pandangannya, memang tidak menempel benar di matanya, jadi dia masih melihat sedikit apa yang sedang dilakukan Bryan dan Shea.
Alex yang berada di sampingnya, tersenyum. Dia melihat tingkah konyol Felix yang menutupi mata Chika.
Erix yang kebetulan berdiri di sebelah Felix merasa kesal saat melihat apa yang dilakukan oleh Felix. Karena tidak mau merusak suasana, dia membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Felix.
Bryan dan Shea melepas tautan bibir mereka. Riuh tamu undangan, terdengar saat dua insan mencinta itu, baru saja melepas ciuman mereka.
Satu persatu kelurga memberikan ucapan selamat. Selly dan Regan adalah orang pertama yang memberikan ucapan selamat pada Bryan dan Shea.
Regan menatap Shea dan Bryan bergantian. Setahun yang lalu, dengan emosi dia memaksa sang adik ipar menikahi sekretarisnya yang diperkosa. Setahun lalu pernikahan hanyalah sebuah keterpaksaan. Namun, kini semua sudah berubah. Kini pernikahan mereka dilengkapi dengan cinta.
"Aku mendoakan untuk kalian yang terbaik," ucap Regan.
"Terima kasih, Kak," ucap Shea.
"Terima kasih." Bryan memeluk Regan. "Terima kasih sudah memaksaku menikah," imbuhnya berbisik. Shea yang sedang berpelukan dengan Selly tidak mendengar ucapan Bryan dan Regan.
Regan tersenyum. Dia menepuk punggung Bryan. "Jadilah suami dan ayah yang baik."
"Iya." Bryan melepas pelukannya dengan Regan.
Selly yang memeluk Shea beralih pada Bryan. Dia menatap dan membelai wajah adiknya. Belum sempat dia berucap satu kata pun, dia beralih memeluk Bryan. Dia teramat bahagia melihat adiknya bahagia.
"Aku bangga padamu." Satu kalimat yang keluar dari mulut Selly. Perubahan Bryan memang menjadi satu hal yang membuat keluarganya bahagia.
__ADS_1
Bryan mengangguk dalam pelukan Selly.
Melisa dan Lana menghampiri Bryan dan Shea. Dengan mengendong baby Al dan El, mereka memberikan ucapan Selamat.
"Anak mommy, ganteng sekali." Dia mendaratkan kecupan di pipi Al dan El bergantian.
Melisa adalah orang yang paling bahagia saat melihat anaknya bahagia. Sejak ada Shea dalam hidup Bryan. Putranya itu berubah menjadi lebih baik, dan itu membuat hubungannya dengan Daniel-papanya menjadi lebih baik juga.
Melisa memeluk Shea dan Bryan bergantian. Mengucapkan doa terbaik di hari pernikahan ini anak dan menantunya.
Lana yang berada di samping Melisa, memberikan ucapan selamat dan doa juga.
Bergantian dengan yang lain, semua mengucapkan doa untuk Bryan dan Shea. Berharap sepasang suami istri itu selalu dilimpahi kebahagiaan.
Kebahagiaan pesta begitu terasa, semua merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. Tawa para tamu yang didominasi oleh keluarga, menghiasi taman belakang yang disulap jadi tempat pesta.
Al dan El yang dari tadi tertawa karena digoda oleh semua yang ada di pesta, menambah semarak pesta.
Saat sang bayi sudah mulai lelah, Shea menggendong baby El. Bersama Bryan, dia menenangkan bayi kecilnya.
"Terima kasih," ucap Shea pada Bryan.
Bryan mengangguk. "Semoga ini bisa memperbaiki cerita masa lalu yang dulu pernah kita lewati." Hanya itu yang diharapkan Bryan.
"Masa lalu akan jadi kenangan indah dengan ceritanya sendiri, dan itu akan menjadi pedoman kita untuk menghadirkan cerita yang lebih baik ke depan," ucap Shea.
"Maukah kamu membuat cerita yang lebih indah denganku Nyonya Olivia Shea Adion?" tanya Bryan tersenyum.
"Tentu saja Tuan Bryan Adion. Aku bersedia." Shea membalas senyum indah pada Bryan.
Bryan mendaratkan kecupan di dahi Shea dan El. Memeluk mereka dan merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.
.
.
.
__ADS_1