My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Memaafkan Dari Hati


__ADS_3

Melisa dan Shea sibuk menyiapkan menu makan malam. Menyiapkan menu spesial untuk merayakan kesehatan Selly yang sudah semakin membaik.


Dua bayi kecil pun tak kalah senang. Di ruang keluarga, dua bayi itu sedang tertawa saat digoda oleh Regan dan Daniel.


Selly yang duduk di kursi roda pun tak kalah senang melihat dua bayi mengemaskan itu. Suara tawa mereka juga menular padanya.


"Apa kamu senang melihat mereka?" tanya Regan mendekati Selly. Posisi Regan yang sedang duduk di lantai, membuatnya berlutut di depan Selly.


"Tentu saja aku senang," jawab Selly, "apalagi melihat kamu yang berubah." Dia tersenyum pada Regan. Rasanya dia melihat sosok baru dari Regan. Jika dulu suaminya itu lebih banyak diam, kini dia harus banyak berceloteh di depan anaknya. "


Regan mengerti apa yang dimaksud oleh Selly. "Bryan benar-benar berhasil membuatku menjadi cerewet." Dia tertawa saat mengingat bagaimana Bryan mengajarinya bernyanyi, cara menggoda anaknya agar tertawa.


"Harusnya satu hal yang Bryan sadari yang tidak ada di dirimu, jadi dia tidak akan merasa kecil hati."


"Aku tak bisa seramah Bryan, tak bisa membuat suasana hidup dengan canda tawa." Regan tertawa saat mengingat jika dirinya tidak sesempurna itu.


"Sore." Suara Bryan terdengar saat dia memasuki rumah. Dia yang dikabari jika akan ada makan malam, dia pulang lebih awal.


Regan dan Selly tersenyum saat melihat Bryan yang baru saja datang. Padahal mereka baru saja membicarakannya.


Bryan yang datang langsung menghampiri istrinya yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Dia langsung mendaratkan kecupan di kedua pipi Shea.


"Ich … " ucap Regan dari kejauhan yang melihat Bryan mencium Shea. "Satu lagi yang tidak aku milik, yang ada di pada Bryan," ucap Regan pada Selly.


"Apa?" tanya Selly.


"Aku tidak bisa menciummu di tempat umum."


Selly tertawa. Dia membenarkan jika Regan memang jarang melakukan di tempat umum. Jika pun terpaksa, dia hanya akan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya saja. Selly juga mengingat, jika dia sudah sangat sering memergoki adiknya itu berciuman.


Shea hanya bisa pasrah saat suaminya itu mencium pipinya di tempat umum. Rasa malunya sudah hilang sejak bersama Bryan.


Bryan yang selesai mencium Shea beralih menghampiri dua bayi yang sedang tengkurap di atas playmat. Dengan posisi setengah sujud, dia mendaratkan kecupan di pipi gembul baby El dan beralih pada baby Al.


Bangkit dari posisinya, Bryan menghampiri Selly. "Aku senang Kakak bisa duduk," ucapnya, "aku sudah tidak sabar menunggu Kakak berlari mengejar aku," imbuhnya.

__ADS_1


"Dasar, anak nakal!" ucap Selly. Tangannya berusaha memukul Bryan, tetapi adiknya itu memundurkan tubuhnya dan membuat Selly tidak bisa memukulnya.


"Cepatlah jalan, dan mengejar aku," ledek Bryan saat dirinya bisa menghindar dari Selly.


"Lihat saja, jika aku bisa jalan, kamu yang akan aku kejar pertama kali." Selly menatap tajam pada Selly.


"Oh … ya, aku akan menunggunya." Bryan menatap balik Selly, dan tersenyum licik. Dia tidak mau kalah dengan kakaknya.


"Sayang … jangan goda Kak Selly," tegur Shea yang meneriaki Bryan dari dapur.


"Aku tidak menggodanya, hanya mengajaknya lomba lari nanti jika dia sudah bisa jalan." elak Bryan membalas ucapan Shea seraya berteriak.


Shea dan Melisa saling pandang. Mereka senang saat mendengar perdebatan Bryan dan Selly, karena sudah cukup lama mereka tidak mendengar akan hal itu.


Selly tertawa saat adiknya itu mendapat teguran dari istrinya. Walaupun sebenarnya dia tahu jika adiknya tidak benar-benar serius dengan ucapannya.


Mereka melanjutkan bercanda seraya menunggu Melisa dan Shea yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.


Sampai akhirnya suara Melisa terdengar memanggil untuk mulai makan malam mereka.


Di meja makan, anggota keluarga sudah lengkap. Ada Bryan, Shea, Regan, Selly, Daniel dan Melisa. Dua bayi kecil pun juga ambil bagian dalam acara malam ini. Di dalam stoller, mereka berada di antara orang tuanya yang sedang duduk untuk makan malam.


Semua yang di meja makan pun mengamini apa yang diucapkan oleh Daniel. Mereka semua sama-sama berharap jika Selly akan segera bisa kembali normal.


"Terima kasih, kalian sudah ada untukku," ucap Selly. Tak ada kata yang bisa diungkapkan Selly untuk keluarganya yang luar biasa. Dia menyadari jika dirinya sangat beruntung mendapatkan keluarga yang begitu baik. Suami yang luar biasa, orang tua yang selalu mendukung dan terutama adik-adik yang begitu sangat baik.


"Kita semua keluarga, harus saling membantu." Melisa tersenyum pada Selly.


Mereka semua memulai makan, dan saling bercerita. Sesekali mereka menyelipkan semangat untuk Selly yang sedang berjuang.


***


Bryan dan Shea pulang ke rumah setelah acara makan selesai. Namun, mereka hanya pulang berdua, karena Melisa dan Daniel meminta El untuk tinggal bersama mereka di rumah Regan. Melisa dan Daniel ingin tidur dengan dua cucunya.


Karena El sudah jarang sekali menangis saat malam, dan hanya akan terbangun satu atau dua kali saja, akhirnya Shea pun mengizinkan mertuanya itu membawa anaknya untuk tidur bersama mereka.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Bryan seperti mendapatkan kesempatan emas. Dia tidak menyianyiakan kesempatan itu untuk menikmati malam bersama istrinya.


"Aku akan siapkan air untuk kamu mandi," ucap Shea sat sampai di kamarnya. Dia melangkah menuju ke kamar mandi. Dia menghidupkan air hangat untuk Bryan mandi.


Selesai menyiapkan, Shea keluar dan memberitahu suaminya. "Airnya sudah siap," ucap Shea pada Bryan. Dia beralih menuju ke lemari untuk mengambil pakaian untuk suaminya. Namun, dia menghentikan langkahnya saat tangannya ditarik oleh Bryan.


"Tunggu." Dengan satu tarikan Bryan membawa Shea ke dalam pelukannya.


"Kenapa?" tanya Shea.


"Apa kamu belum memaafkan aku?" tanya Bryan.


Shea tersenyum. "Aku sudah memaafkan kamu." Sudah seminggu ini Shea melihat bagaimana usaha suaminya itu meminta maafnya, dan dia berpikir jika tidak ada salahnya mengakhiri semuanya.


"Apa maaf ini benar-benar dari hati?" Bryan kembali memastikan kembali ucapan maaf dari Shea.


"Iya, aku memaafkan dari hati," ucap Shea, "aku ingin masalah ini selesai sampai di sini. Jika suatu saat terjadi masalah diantara kita, aku harap apa yang terjadi di masa lalu tidak akan diungkit."


"Tidak dipungkiri sebuah rumah tangga akan ada masalah, tetapi tidak mengungkit apa yang terjadi di masa lalu akan mengurangi beban masalah itu sendiri."


Satu hal yang Bryan suka dari Shea. Dia tidak mau membawa masa lalu dalam sebuah masalah baru. Tidak mengungkit apa yang terjadi dulu, dan memperkeruh masalah lagi.


"Baiklah." Bryan pun setuju dengan Shea. "Terima kasih sudah memaafkan aku."


"Aku pun juga minta maaf jika aku memiliki kesalahan." Kesalahan memang tidak hanya ada pada Bryan, dan itu Shea sadari.


Bryan mengangguk. Dia merapatkan tubuhnya pada Shea.


.


.


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan vote...


...Mampir ke karya lain aku juga ya.....


__ADS_2