My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Hari Daddy


__ADS_3

Di sebuah tempat spa bayi, dua pria dengan setia menunggu antrian bersama ibu-ibu dan suami mereka.


"Apa hanya kita yang datang tanpa istri?" bisik Regan bertanya pada Bryan. Dia mengedarkan pandangan dan mendapati dia hanya berdua saja dengan Bryan yang datang tanpa istri.


"Sepertinya begitu," ucap Bryan seraya mengelap liur El yang menetes.


Regan ikut memperhatikan anaknya. Dia beralih pada Bryan yang mengelap liur El. "Dulu waktu Shea hamil makanan apa yang tidak kamu turuti?" tanyanya pada Bryan.


Bryan menoleh pada Regan. "Kenapa memangnya?"


"Itu liur El banyak sekali," jawab Regan seraya menunjuk ke arah El. "Kata orang jika anak bayi mengeluarkan air liur, berarti waktu hamil ibunya menginginkan sesuatu dan tidak terpenuhi," lanjut Regan lagi.


"Oh … ya?" Dahi Bryan berkerut dalam, saat mendengar ucapan tidak masuk akal dari Regan. Namun, Bryan memikirkan apa yang tidak Shea makan selama hamil. "Entah." Dia merasa bingung mengingat kapan Shea tidak makan makanan yang sedang dia inginkan.


"Mungkin waktu kamu belum jatuh cinta dengan Shea.'


Mendengar ucapan Regan, Bryan membenarkan jika mungkin saja saat itu. "Coba nanti aku tanya Shea saja." Dia memilih menanyakan pada istrinya saja dari pada pusing memikirkannya.


Saat sedang asik bercerita, Bryan dan Regan di dekati oleh ibu-ibu paruh baya. "Bapak-bapak ini sedang mengantar spa juga?" tanya seorang ibu paruh baya pada Bryan dan Regan.


"Iya, Bu," jawab Regan.


"Istrinya kemana?" tanya ibu paruh baya. Dia melihat ke arah baby Al dan El.


"Istri kami di rumah." Regan menjawab kembali pertanyaan ibu-ibu yang sekarang duduk di sampingnya.


"Kenapa tidak ikut?"


"Hari ini, hari libur, jadi mereka istirahat, dan kami yang menjaga anak-anak." Bryan yang tadi diam saja, akhirnya berbicara.


"Wah … ayah idaman," ucap seorang wanita yang berada di depan Bryan dan Regan.


"Kalau semua suami memberikan libur istrinya, aku rasa istri pasti akan tambah sayang," timpal seorang ibu. Dia melirik pada suaminya, seolah memberi kode.


Suami ibu-ibu tadi langsung menatap tajam pada Bryan dan Regan. Dia merasakan kesal karena memberikan ide pada istrinya.

__ADS_1


"Sepertinya dia tidak sejalan dengan kita," bisik Bryan.


"Mungkin dia sibuk." Regan membalas dengan berbisik.


"Aaron Alexander Maxton dan Justin Elvaro Adion." Seorang petugas spa memanggil Al dan El.


Bryan dan Regan bersyukur Al dan El dipanggil, karena mereka terhindar dari tatapan para suami yang tidak setuju dengan mereka. Bryan dan Regan mendorong stroller mengikuti petugas yang menunjukan tempat spa.


Saat masuk, mereka melihat dua orang yang siap memijat Al dan El. Mereka berdua mengangkat tubuh Al dan El yang berada di dalam stroller. Karena dua bayi itu baru melihat orang baru, akhirnya mereka menangis.


Dengan cepat Bryan dan Regan mengambil kembali anak mereka. Menenangkan tangis kedua bayi itu yang terkejut melihat orang asing.


Akhirnya setelah mereka tenang, dan sudah mulai nyaman dengan para terapis, akhirnya mereka dipijat.


Tubuh mungil mereka dipijat lembut, dan membuat dua bayi itu tampak senang. Mereka berdua seolah menikmati setiap pijatan.


"Kalian menikmati sekali," ucap Bryan menggoda dua bayi itu. Dia beralih pada Regan. "Rasanya aku pengen cepat pulang," ucapnya berbisik pada Regan.


"Mau apa?" tanya Regan


"Bukannya semalam sudah?" Regan sudah menebak jika semalam Bryan pasti memanfaatkan kesempatan seperti halnya dirinya. Walaupun sebenarnya dia dan Selly tidak melakukan hubungan suami istri.


Bryan tertawa. "Itu berbeda," jawab Bryan, "aku mau yang pijat saja, tidak pakai plus-plus."


Regan hanya menggeleng mendengar jawaban Bryan. Dia pun memilih kembali fokus pada anaknya, dari pada menanggapi ucapan Bryan yang mungkin bisa saja membuat Bryan berbicara menjurus.


Dengan seksama Regan dan Bryan menemani Al dan El yang sedang dipijat. Sesekali Bryan dan Regan bertanya apa manfaatnya dipijat.


Mereka mendengar penjelasan terapis jika pijatan memberi banyak manfaat. Yaitu, menenangkan serta mengurangi frekuensi menangis pada bayi. Memperlancar pencernaan bayi, serta mengurangi sakit perut, gas dan sembelit. Membantu bayi lebih mudah beradaptasi dengan tidur malam, dan membantunya tidur lebih nyenyak.


Dari penjelasan terapi, Regan dan Bryan pun merasa puas. Mereka akan dengan bangga memberitahu pada istri mereka jika pengetahuan mereka sudah banyak.


Selesai melakukan pijat, Bryan dan Regan membawa dua bayi untuk pulang. Duduk di atas carseat, dua bayi itu tertidur pulas.


"Sepertinya mereka akan sangat nyenyak," ucap Bryan yang memasang seatbelt di tubuhnya.

__ADS_1


"Tubuh mereka sudah nyaman, jadi mereka nyenyak." Regan memutar kunci mobilnya dan menginjakkan pedal gas. Dia melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


"Semalam Kakak tidak melakukan apa-apa?" tanya Bryan penasaran pada Regan.


Regan yang sedang fokus menyetir pun menoleh pada Bryan. "Apa aku setega itu saat kakakmu belum bisa jalan," ucapnya memutar bola mata malas.


"Iya juga." Bryan membernarkan ucapan Regan. "Lagipula mana enak kerja sendiri," jawab Bryan tersenyum.


"Itu kamu tahu jawabannya."


"Tetapi sudah hampir tiga bulan, kenapa Kakak bisa betah?" Rasanya Bryan ingin tahu alasan kakak iparnya.


"Waktu Shea hamil berapa lama kamu baru menyentuhnya." Regan telak bertanya pada Bryan. Dia mengingat jika Selly pernah menceritakan jika Bryan menunggu Shea sampai enam bulan.


"Enam bulan," jawab Bryan malas.


Regan tertawa. "Dan aku rasa aku tidak akan selama itu," jawabnya meledek.


Bryan mendengus kesal saat mendapati ledekan dari Regan. "Tapi lucu juga kita bisa bertahan selama itu," ucap Bryan mengingat bagaiman dirinya dulu bertahan.


"Cinta." Satu kata yang diucapkan Regan pada Bryan.


Bryan menoleh saat mendengar satu kata ajaib yang mengubah hidupnya. "Kakak benar, terdengar klasik, tetapi memang itu yang terjadi pada kita." Dia tersenyum membayangkan jika dirinya bagian dari budak cinta itu.


"Jika membawa kita pada kebaikan, kenapa tidak?" ucap Regan, "saat keadaan Selly koma, cinta benar-benar menguatkan aku. Mungkin jika tanpanya aku bisa berbelok mencari kepuasan semata."


"Sama, dulu aku bertahan demi Shea, membuktikan pada Shea jika aku mencintainya tulus dan bukan nafsu belaka. Hingga akhirnya aku mendapatkan Shea seutuhnya."


"Tidak apa jadi budak cinta, asal kenikmatan yang didapat sebanding," ucap Regan tertawa.


Bryan pun membalas tawa Regan. "Ya … ya."


Obrolan pria dewasa itu pun membuat tawa keduanya terdengar. Hari Daddy mereka manfaatkan tidak hanya menjaga anak-anak, tetapi berbagi cerita. Namun, seketika mereka menghentikan tawa mereka saat menyadari jika tawa mereka akan membuat dua bayi itu terbangun.


Mereka melanjutkan mengobrol lagi dengan suara yang lebih rendah. Mereka tidak mau sampai membangunkan dua bayi yang sedang asik tertidur.

__ADS_1


Kedekatan mereka memang semakin terjalin. Walaupun sebelumnya ada kesalahpahaman, tetapi mereka menyadari satu sama lain, yang membuat masalah tidak sampai berlarut-larut.


__ADS_2