My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

Menarik tengkuk Shea, Bryan membenamkan bibirnya di bibir Shea. Menciumnya lembut dan memberikan sesapan di dalamnya.


Shea yang sudah cukup lama tidak merasakan ciuman Bryan pun, membalas ciuman lembut dari suaminya. Pertemuan dua bibir itu menciptakan suara kecapan yang mengisi keheningan kamar.


Kerinduan keduanya membuat ciuman kali ini penuh gairah. Mereka bergerak saling membalas, memberikan kenikmatan satu dengan lain.


Saat napas mulai terengah-engah, karena oksigen dalam paru-paru sudah mulai berkurang, Bryan melepaskan ciumannya. Dia beralih menangkup tubuh Shea, dan membawanya dalam gendongan. Mengendong Shea ala bridal style.


Shea yang terkejut berteriak. "Mau kamu bawa kemana aku?" tanyanya.


"Mandi." Bryan menjawab seraya melangkah ke kamar mandi.


"Aku sudah mandi tadi sebelum makan malam," elak Shea.


"Tapi itu berbeda," jawan Bryan seraya mengedipkan mata.


Shea tahu apa yang dimaksud Bryan. Apalagi jika bukan memanfaatkan dengan kegiatan berdua. Mencari sela-sela kenikmatan diantara pertemuan dua tubuh.


Bryan yang sampai di kamar mandi, menurunkan Shea dan mulai melepas satu-satu yang melekat pada istrinya. "Kapan lagi bisa melakukan kegiatan di rumah dengan leluasa," ucapnya.


Shea tersenyum. Sampai saat ini mereka berdua memang masih tidur dengan El dan belum membiarkan bayi kecil itu tidur sendiri, karena setiap malam dia masih terbangun. Alhasil kegiatan mereka berdua memang sedikit berkurang.


Bryan memulai mengecup tubuh Shea yang polos, memulai kegiatannya yang akan memberikan kenikmatan untuk mereka.


Shea pun tak pernah bisa menolak sentuhan dari suaminya yang selalu membuatnya menggila.


***


Shea yang keluar dari kamar mandi, menekuk wajahnya. Jam menunjukan pukul dua belas malam, dan itu menandakan jika dia sudah sekitar tiga jam berada di kamar mandi dan berendam di dalam bath up.


"Jangan kesal begitu," ucap Bryan tersenyum seraya menurunkan tubuh Shea di atas tempat tidur.


"Lihat tanganku sudah berkerut semua," keluh Shea dengan suara lirih. Dia yang berendam cukup lama membuat tubuhnya kedinginan. Belum lagi tubuhnya yang lelah, membuat tubuhnya begitu lemas.


Bryan hanya bisa tersenyum mendengar keluhan istrinya. Baginya menikmati semua itu tidak hanya cukup sekali, hingga dia mengulang lagi dan lagi. Jadi wajar jika mungkin membuat tubuh istrinya itu lelah.


"Aku sudah bilang bukan, di kamar saja." Shea yang tadi meminta untuk melakukan di kamar pun di abaikan begitu saja oleh Bryan.


"Oke … kita akan lakukan di kamar," jawab Bryan mengedipkan mata.


"Hah …." Shea terkejut saat mendengar Bryan akan melakukannya lagi. Tubuhnya yang lemas membuatnya benar-benar tak berdaya.


Bryan tertawa terbahak melihat ekspresi istrinya. "Sekarang istirahatlah!" Bryan menaikan selimut untuk menutupi tubuh istrinya dan menghangatkan kembali tubuh istrinya.


Shea yang sudah mengantuk dan lelah pun hanya pasrah dan mengangguk. Dia memejamkan matanya, dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Bryan yang melihat Shea pun tersenyum. Dia beralih ke sisi tempat tidur dan menyusul Shea untuk tidur. Pelukan hangat Bryan berikan pada Shea agar tubuh istrinya itu tidak kedinginan lagi.


Satu kecupan dia berikan sebelum memejamkan mata. Namun, yang mendapatkan kecupan sudah tidak sadarkan diri karena mungkin sudah sampai ke alam mimpi.


***

__ADS_1


Sinar matahari yang masuk ke dalam celah-celah jendela kamar, membuat Shea yang sedang asik tertidur mengerjap.


Membuka matanya, Shea tidak mendapati Bryan di sebelahnya. Mengedarkan pandangannya, dia melihat jam dinding yang berada di kamarnya.


Matanya membulat sempurna saat melihat waktu menunjukan jam sembilan pagi. Shea pernah bangun kesiangan, tetapi tidak pernah sesiang ini.


"Aku mungkin sangat lelah, hingga tidak sadar jam segini baru bangun." Shea mengingat jika Bryan masih mengulang kegiatannya menjelang pagi. Suaminya itu beralasan sayang jika tidak memanfaatkan kesempatan berharga tidak adanya El di rumah.


Menyibak selimutnya Shea menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sepanjang mandi, dia memikirkan bagaimana anaknya yang sedang dengan mertuanya.


Menyelesaikan kegiatan mandi dan menganti bajunya, Shea buru-buru keluar kamar. Dia mengedarkan pandangan mencari Bryan. Namun, dia tidak menemukan suaminya itu.


"Pasti dia di rumah Kak Selly." Satu tempat yang terlintas dipikiran Shea. Karena hari ini adalah hari libur, jadi tidak mungkin Bryan ke kantor.


Karena rumah Selly tidak terlalu jauh, Shea berjalan menuju rumah Selly. Namun, sampai di rumah kakak iparnya itu dia tidak menemukan mobil Regan, dan hanya mobil Bryan saja.


Shea buru-buru masuk ke dalam rumah Selly. Dia ingin segera bertemu dengan anaknya.


Namun, saat masuk ke dalam rumah terlihat sangat sepi. Tidak ada suara bayi dan suara siapa-siapa. Shea langsung masuk ke dalam kamar Selly untuk mengecek keberadaan anak dan suaminya.


"Se …." panggil Selly.


Shea mengedarkan pandangan. Di kamar dia hanya menemukan Selly di temani perawat. Perawat yang melihat Shea datang langsung pamit untuk keluar dari kamar Selly.


"Semua kemana?" tanya Shea. Dia bingung karena tidak hanya anak dan suaminya yang tidak ada. Regan, Al, dan mertuanya juga tidak ada.


"Mereka sedang pergi ke spa bayi," jelas Selly.


"Semua?" tanya Shea.


"Mama dan Papa?" tanya Shea kembali.


"Mereka sedang berbelanja, di antar supir."


"Jadi Bryan hanya pergi berdua dengan Kak Regan?" Shea memastikan kembali pada Selly.


"Mereka bilang 'hari daddy' jadi mereka akan bersama dengan Al dan El seharian." Selly tersenyum mengulang ucapan dua daddy yang berpamitan tadi.


Dahi Shea berkerut dalam. Dia tidak yakin saat anaknya pergi dengan suaminya.


"Tenanglah, mereka akan baik-baik saja." Selly yang menyadari jika adik iparnya khawatir.


"Iya, aku khawatir," jawab Shea.


"Bryan bilang kamu tidak enak badan, kenapa kemari?" tanya Selly.


Wajah Shea seketika pias saat mengetahui alasan yang berikan oleh Bryan. Dia bingung harus menjawab apa, karena dia tidak sakit.


Seketika Selly tertawa melihat wajah pias Shea. "Bryan tidak mengatakan apa-apa," ucapnya. Dia memang hanya menggoda Shea.


"Kakak mengerjai aku," ucap Shea kesal.

__ADS_1


"Berapa kali?" tanya Selly.


"Hah …." Mata Shea membelalak mendengar pertanyaan Selly.


"Berapa kali Bryan melakukannya hingga membuatmu bangun kesiangan?" Selly memperjelas pertanyaannya.


Pipi Shea langsung merona, saat mendengar pertanyaan Selly. Dia malu menjawab.


"Sudah tidak perlu dijawab." Selly yang melihat wajah malu Shea mengakhiri. "Semua pria selalu memanfaatkan kesempatan jika tidak ada anak." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Selly.


Mata Shea membulat sempurna saat mendengar ucapan Selly. Matanya beralih ke kaki Selly yang belum bisa berjalan.


"Kakak …." Dia tidak berani melanjutkan pertanyaannya.


"Tidak, sejauh itu," jawab Selly mengerti kemana arah pembicaraan Shea.


Selly mengingat jika semalam dirinya hanya di kamar dengan Regan berdua, karena Al tidur dengan mamanya.


"Aku merindukanmu," ucap Regan. Dia membenamkan bibirnya pada bibir istrinya. Sebagai seorang laki-laki dia tentu merindukan sentuhan istrinya.


Regan mencium bibir Selly dengan lembut. Tangan Selly yang sudah bisa bergerak pun melingkar di leher suaminya dan menarik tengkuk Regan, dan membuat ciuman lebih dalam.


Tangan Regan sudah bergrilya menuju tempat yang sudah lama tidak dia jamah, dan membuat Selly melenguh.


Namun, sejenak Regan menyadari jika dia akan meminta lebih jika dia memulai kegiatan ini, sedangkan dia belum tega melakukannya dengan Selly yang masih belum pulih sempurna.


Regan melepas ciumannya. "Aku akan menunggu."


"Iya," jawab Selly mengangguk.


"Tapi jika bagian atas saja tidak masalah bukan?" tanya Regan ragu-ragu kembali. Dia tetap tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh istrinya.


Selly tersenyum dan mengizinkan suaminya itu melakukannya. Mendapati izin Selly, Regan melanjutkan kegiatannya.


"Aku pikir Kakak benar-benar melakukannya," ucap Selly saat mendengar jika kakak iparnya akan melakukan hubungan suami istri.


Selly yang sedang mengingat untuk dirinya sendiri itu tersenyum mendengar ucapan Shea. "Tidak."


Shea mengangguk. Pikirannya kembali pada Bryan, Regan dan dua bayi. "Kira-kira apa yang dilakukan Bryan dan Kak Regan, ya?" tanya Shea.


"Entah," jawab Selly.


.


.


.


.


...Jangan kesel yang di skip🤭...

__ADS_1


...Aku yakin udah pada lebih jago🤣...


...Jangan lupa like dan vote ...


__ADS_2