My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Akhir Pertemuan


__ADS_3

Setelah membujuk dua anak kembar itu, Lisa membawa Cello dan Cilla pulang bersamanya. Karena Rico sudah terlebih dulu membawa Farhan pulang ke apartemen agar tidak ketahuan si kembar. Rico tidak mau anak-anak sampai melihat ayahnya yang tepar akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Takutnya akan menjadi contoh buruk untuk mereka.


"Aku pamit dulu ya, Se," ucap Lisa yang berpamitan dengan Shea.


"Terima kasih sudah berkunjung. Senang bisa berkenalan denganmu," ucap Shea. Dia menautkan pipinya pada pipi Lisa.


Lisa dan Shea sama-sama senang, karena pertemuan mereka membuat mereka bisa berbagi cerita. Termasuk video Bryan yang akan Shea jadikan senjata pamungkasnya nanti.


Saat sedang asik berpamitan, baju Lisa ditarik-tarik oleh si kembar. "Bunda, ayah mana?" tanya Cillo.


Gara-gara terlalu asik bermain dengan baby El, si kembar sampai lupa bahwa tujuan utama datang ke rumah ini ingin menyusul ayah dan bundanya. Saat hendak pulang, barulah mereka tersadar bahwa sedari tadi si kembar tidak melihat batang hidung Farhan.


"Ayah sudah berangkat bekerja bersama om Rico, jadi kita pulang bertiga aja ya." Lisa terpaksa berbohong agar kedua anaknya tidak bertanya lagi.


Dua anak kembar itu mengangguk, percaya.


Shea tersenyum melihat kedua anak kembar itu yang tampak begitu menyayangi ayahnya hingga menanyakan keberadaan ayahnya. Padahal Farhan bukanlah ayah kandung. Itu semua menandakan jika Farhan sangat menyayangi mereka.


Shea berjongkok dan mendaratkan kecupan di pipi kedua anak kembar itu. "Jangan lupa berdoa ya," ucapnya mengingatkan kembali.


Dengan senyum polos dua anak kembar itu mengangguk. Mereka akan melaksanakan apa yang dibilang Shea.


Lisa hanya bisa mendengus kesal. Rasanya dia akan dapat masalah baru setelah ini.


Setelah berpamitan, Lisa dan si kembar masuk ke dalam mobil. Meninggalkan rumah Shea dan Bryan.


Shea masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil Lisa sudah hilang dari jangkauan. Dia membawa baby El ke ruang bayi untuk menemani anaknya itu untuk bermain.


Saat sedang asik bermain dengan baby El, suara ponsel milik Shea berdering. Melihat ke layar ponselnya, dia melihat nama kakak iparnya yang tertera. Mengusap layar ponselnya, dia menempelkan ponselnya.


"Halo, Kak," ucap Shea.


"Halo, Se," jawab Selly, "kamu tidak kemari?" tanya Selly. Pagi ini dia tidak mendapati adik iparnya itu ke rumah.


"Maaf, Kak, sepertinya aku tidak bisa ke sana," jawab Shea.


"Kenapa? Kamu sakit?" Selly merasa khawatir saat adik iparnya.


"Bukan, aku sedang menunggu Bryan." Shea menjelaskan alasannya pada Selly.


"Memang Bryan kenapa?" tanya Selly yang bingung.


"Bryan mabuk semalam. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya di rumah." Dengan nada sedikit kesal, Shea menceritakan pada Selly.


Selly langsung tertawa. "Untuk apa kamu menunggu? Dia pasti akan sadar besok atau paling cepat nanti malam," jelasnya Selly.


"Oh, ya?" tanya Shea tidak memastikan. Dia memang tidak tahu berapa lama orang mabuk akan bangun.

__ADS_1


"Kalau dia hanya minum sedikit, paling cepat malam ini, dia akan bangun, tetapi jika dia minum banyak, dia akan bangun besok pagi." Selly menjelaskan pada adik iparnya.


Shea mengerutkan dahinya saat mengetahui selama itu orang mabuk.


"Tapi tidak apa jika kamu ingin menunggunya. Kamu bisa kemari besok saja," ucap Selly.


"Iya, Kak, sebaiknya aku besok saja ke rumah Kakak."


"Baiklah."


Shea mematikan sambungan telepon dan melanjutkan bermain dengan anaknya. Dalam hatinya dia memikirkan seberapa banyak Bryan minum dan akan bagun kapan suaminya itu.


***


Malam ini Shea makan malam sendirian. Di temani dengan El yang sedang bergumam di stroller, dia menikmati makanan di hadapannya.


"Bi, tolong jaga El sebentar, aku akan mengecek daddy-nya." Selesai makan, Shea meminta asisten rumah tangga untuk menjaga El.


"Baik, Bu."


Shea menuju ke paviliun untuk mengecek keadaan Bryan. Dia ingin tahu apakah suaminya itu sudah sadar apa belum.


Aroma alkohol menyeruak saat Shea membuka pintu kamar, dan membuatnya benar-benar pusing. Dari pintu dia melihat suaminya yang masih tertidur pulas dengan Felix.


"Chika, aku mencintaimu," ucap Felix yang berhalusinasi. Sebuah gulung dia peluk seolah itu adalah Chika.


Shea yang tidak tahan mencium aroma alkohol, akhirnya memilih untuk kembali ke rumahnya. Dia merelakan Bryan yang tidur dengan Felix. Berharap saja keduanya tidak saling beradu pedang.


Kembali ke rumah, Shea mengajak baby El untuk tidur. Malam ini, mereka hanya akan tidur berdua saja, karena sang daddy tidur dengan temannya.


***


Suara tangis El membangunkan Shea yang masih tertidur pulas. Membuka matanya, dia tersenyum melihat anaknya. "Haus ya?" tanyanya. Dia pun menyusui anaknya.


Seraya menyusui anaknya, matanya melihat jam dinding di kamarnya. Menghitung waktu Bryan yang tak sadar, dia mendapati jika Bryan sudah tidak sadar selama seharian.


Selesai menyusui anaknya, Shea bangun dan bersiap untuk memandikan anaknya. Memulai aktifitasnya pagi ini.


Selesai memandikan El, Shea keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Di saat yang bersamaan, suara bel rumah terdengar. Dengan mengendong El, dia berbelok untuk melihat siapa yang datang.


Membuka pintu, Shea dikejutkan dengan kedatangan Chika." Chika," sapa Shea seraya menautkan pipinya.


"Hai, Se," sapa balik Chika, "hai bayi kecil," ucap Chika mencubit lembut pipi Chika.


"Ada apa kemari?" tanya Shea.


"Kemarin aku ke kantor Pak Bryan, tetapi Beliau tidak ada, jadi aku sengaja kemari, karena ada berkas yang belum Beliau tanda tangani."

__ADS_1


Shea mengerti. Bryan dan Felix kemarin memang tidak pergi ke kantor, jadi wajar jika Chika tidak bertemu.


"Ya sudah ayo masuk dulu," jawab Shea mempersilakan Chika masuk.


***


Di paviliun dua pria sedang saling memeluk, menyalurkan kehangatan. Merasakan nyaman dalam sebuah pelukan.


Bryan yang merasakan sesuatu yang ganjil, mengerjap. Matanya yang terbuka, terkejut saat melihat Felix yang berada di depannnya dan di dalam peluknya. Dengan cepat dia mendorong tubuh Felix dan membuatnya terjatuh.


Tubuh Felix yang di dorong Bryan pun jatuh ke lantai. "Aduh … " teriaknya saat mendapati tubuhnya terpelanting ke lantai.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Bryan. Saat melontarkan pertanyaan Bryan memegangi kepalanya yang berdenyut. Efek alkohol masih terasa begitu menyiksa.


"Aku tidur, memangnya apa lagi?" jawab Felix. Dia merintih merasakan sakit di kepalanya. Bangkit perlahan-lahan dia menuju ke tempat tidur. Dia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, karena merasa masih pusing.


"Kenapa kita di sini? Lalu siapa yang membawa kita ke sini?" tanya Bryan. Dia mengingat jika terakhir kali dia mabuk di taman belakang dan setelah itu dia tidak ingat.


"Entah, siapa yang membawa kita," jawab Felix, "mungkin Shea," imbuhnya.


"Dasar!" seru Bryan seraya memukul Felix. "Mana kuat istriku membawa kita."


"Iya juga ya."


Bryan mendengus kesal. Mabuk membuat otak Felix menjadi bodoh. Saat membahas Shea, Bryan teringat dengan istrinya itu. "Bagaimana nanti jika Shea marah?" tanyanya.


"Dia kan istrimu, jadi pikirkan saja sendiri," jawab Felix polos.


Satu pukulan mendarat di lengan Felix. "Jika bukan karena idemu ini, aku tidak akan mendapat masalah."


Felix hanya terdiam. Dia menyadari jika ini adalah kesalahannya. Karena semalam Bryan sudah memintanya menghentikan menuang minuman, tetapi dia terus memaksa dua temanya itu.


"Aku harus cepat-cepat menemui Shea." Dengan memegangi kepalanya, Bryan bagun dan menuju ke rumahnya.


Felix pun mengikuti Bryan dibelakangnya. Kepalanya yang masih terasa sakit pun dia pegang, berharap bisa meredakan rasa sakitnya.


Sampai di dalam rumah, Bryan dan Felix dikejutkan dengan kehadiran Chika. Shea yang berada di samping Chika menatap tajam pada Bryan dan Felix.


"Sepertinya akan ada perang dunia," bisik Bryan pada Felix.


.


.


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote dan berikan komentar...


__ADS_2