My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Demi Maaf Dari Shea


__ADS_3

Felix yang dihubungi Bryan langsung meluncur ke rumah Bryan. Dia sudah tidak sabar untuk mendapatkan maaf dari Shea. Karena dengan dapat maaf dari Shea, dia akan bisa mendekati Chika.


Sampai di rumah Bryan Felix menekan bel dan menunggu sesaat pintu dibuka. Perasaannya begitu senang, karena paling tidak tujuannya akan segera tercapai


Saat pintu dibuka, dia melihat Bryan di balik pintu. Bryan mempersilakan Felix untuk masuk ke dalam rumah.


Masuk ke dalam rumah, Felix tidak menemukan Shea di ruang keluarga. Hanya ada dua bayi kecil di dalam stroller. "Apa yang akan aku lakukan?" tanyanya.


"Tinggalkan mobilmu di sini, karena kita akan berangkat satu mobil!" perintah Bryan.


"Iya," jawab Felix seraya mengangguk, mendengarkan perintah Bryan yang pertama.


"Ayo kalau begitu," ajak Bryan. Dia mendorong Stroller menuju keluar rumah.


Felix terpaku dan masih belum beranjak dari sofa. Dia bingung kenapa Bryan mengajaknya berangkat, tetapi mendorong stroller anaknya.


"Apa kamu mau diam saja di sana?" tanya Bryan dengan suara tegas.


"Hah … iya." Felix berdiri dan mengikuti Bryan untuk ke mobilnya.


Di dalam mobil, Felix melihat car seat sudah ada di kursi belakang. Belum lagi beberapa barang berada di bagasi. Felix semakin bingung mau kemana dia dan Bryan. "Kita mau kemana?" Akhirnya dia bertanya pada Bryan untuk mengusir rasa penasarannya.


"Ke kantor." Bryan menjawab seraya memindahkan dua bayi itu ke kursi mereka, dan beralih menaruh stroller ke bagasi belakang.


Felix hanya bisa terpaku melihat apa yang dilakukan Bryan dan jawaban Bryan kemana mereka akan pergi.


"Kamu yang menyetir," ucap Bryan seraya melemparkan kunci mobil pada Felix.


Felix menangkap kunci dari Bryan dan melangkah menuju ke sisi kemudi. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke kantor.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan di kantor dengan membawa dua anak?" Felix benar-benar dibuat pusing dengan apa yang akan dilakukan oleh Bryan.


"Shea sedang sakit, jadi aku harus membawa mereka." Bryan menjelaskan pada asistennya itu.


"Kenapa tidak menjaganya saja di rumah?" tanya Felix kembali.


"Apa kamu lupa hari ini aku ada meeting dengan para manager, jadi aku tidak mungkin tidak bekerja."


"Lalu mereka, siapa yang mejaga?" tanya Felix seraya melihat ke arah kursi belakang. Melihat dua bayi yang sedang asik bergumam, seolah mereka tidak perduli jika dua pria dewasa di depan mereka sedang membicarakan mereka.

__ADS_1


"Kamu," jawab Bryan santai.


Mata Felix membulat sempurna mendengar jawaban Bryan. Dia tidak menyangka ternyata ini yang dimaksud oleh Bryan dengan mendapatkan maaf dari Shea. "Kamu licik sekali," ucapnya melirik tajam pada Bryan.


Tawa Bryan pecah melihat kekesalan Felix yang merasa ditipu. "Cinta harus berjuang, jadi perjuangkan."


"Awas saja jika sampai ternyata Shea tidak memaafkan dan membantu aku, kamu yang akan aku cincang!"


"Kamu pikir aku daging," elak Bryan tersenyum meremehkan.


"Bagaimana nanti aku akan menjaga mereka? Kamu tahu bukan aku tidak bisa menjaga bayi." Felix tidak bisa membayangkan apa saja yang akan dilakukannya nanti dengan dua bayi kecil itu.


"Tenanglah, aku akan hanya akan memintamu menjaga di saat aku meeting saja, selebihnya nanti aku yang akan tangani, terkecuali jika nanti pekerjaanku tidak banyak."


Felix mendengus kesal. Jawaban Bryan seolah mengatakan jika ternyata dirinya akan menjaga dua bayi itu di saat Bryan bekerja.


Sesampainya di kantor. Bryan menurunkan stroller dan memindahkan anak-anak ke stroller. Menurunkan barang-barang milik kedua bayi, dia meminta Felix untuk membawanya.


Dengan santai Bryan mendorong stroller yang berisi dua bayi kecil, sedangkan Felix harus membawa dua tas milik si kecil yang berisi peralatan di kecil, dan menenteng satu cooler bag.


Semua karyawan yang melihat Bryan membawa anaknya ke kantor sangat heran, karena ini pertama kalinya Bryan membawa anaknya. Para karyawan berbisik-bisik menebak-nebak kenapa Bryan membawa anaknya. Ada yang berbisik mengatakan jika mungkin saja Bryan sudah bercerai. Ada juga yang mengatakan jika mungkin saja istri Bryan sedang sibuk.


"Bry, kamu menjatuhkan harga diriku," ucap Felix berbisik.


"Demi maaf Shea." Bryan mencoba menyemangati Felix.


Felix hanya bisa pasrah saat alasan itulah yang dipakai oleh Bryan. Dia pun tidak bisa mengelak lagi, dan menuruti semua perintah Bryan.


Sampai di ruangan Bryan, Felix menaruh tas yang dibawanya, dan menunggu perintah Bryan lagi.


"Aku akan hangatkan susu, kamu jaga mereka," ucap Bryan pada Felix. Dia mengambil alat penghangat susu yang sengaja dibawanya, dan mengambil susu yang sudah berada di cooler bag.


Mendapati susu yang sudah hangat, Bryan memberikan susu pada baby Al dan El. Bryan memegangi dot milik El sedangkan Felix memegangi dot milik Al.


"Apa setelah ini mereka tidur?" tanya Felix.


"Biasanya jam segini mereka akan tidur setelah minum susu," jawab Bryan, "jadi kita bisa bekerja saat mereka tidur," lanjutnya.


Tidak butuh waktu lama, dua bayi itu tertidur setelah meminum sebotol susu. Mereka tampak tidur pulas di dalam stroller.

__ADS_1


"Pindahkan laptop milikmu ke dalam, jadi nanti kamu bisa menjaga mereka sambil bekerja." Bryan berdiri dan memerintahkan Felix. Dia melangkah menuju ke meja kerjanya dan memulai bekerja, menyiapkan beberapa dokumen untuk meeting kali ini.


Felix mengangguk dan mengambil laptopnya di meja kerjanya. Bersama dengan Bryan, dia mulai mengerjakan pekerjaannya.


Saat jam menunjukan pukul sembilan, Bryan keluar dari ruang kerjanya, dan menuju ke ruang meeting. Dia menitipkan anak-anak pada Felix dan berpesan untuk menjaga mereka berdua. Bryan berpesan, untuk tidak menganggu meeting agar meeting cepat selesai.


Felix yang sedang asik bekerja, menikmati pekerjaannya. Dia berpikir tidak terlalu repot saat bekerja dengan sambil menjaga anak-anak.


Namun, kenikmatan itu seketika suara tangis satu bayi terdengar. Saat mengecek Felix menemukan jika baby Al yang menangis. Felix langsung buru-buru menenangkannya. Akan tetapi karena tidak pernah menenangkan anak bayi, dia kesulitan.


Felix membunyikan rattle agar baby Al berhenti menangis. Namun, sayangnya bayi itu justru semakin kencang menangis. Karena tidak mau membangunkan baby El, Felix buru-buru mengangkat baby Al.


"Cup … cup …." Felix mengoyangkan-goyangkan tubuh Al agar bayi itu terdiam.


Belum usai satu bayi menangis, tiba-tiba suara satu bayi terdengar kembali menangis. Felix dibuat bingung harus bagaimana menenangkan dua bayi yang menangis itu.


Karena keduanya menangis, akhirnya Felix meletakan kembali baby Al di dalam stroller. Matanya melihat ke arah dua bayi sedang berlomba menangis itu. Kepalanya seketika berdenyut memikirkan cara untuk menenangkan bayi-bayi itu.


Memikirkan cara, akhirnya terlintas satu benda yang bisa membuatnya tahu bagaimana caranya. Mengambil ponselnya, buru-buru dia mengetik "bagaimana cara menenangkan anak bayi" di laman pencarian.


Bersambung.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa berikan...


...like...


...komentar...


...Hadiah( gratis dipusat misi)...

__ADS_1


...Vote (setiap Senin)...


__ADS_2