
Sudah seminggu ini Bryan bersikap aneh. Setiap pagi Bryan berangkat siang setelah berangkat. Atau kadang sesekali Bryan menjemput baby Al ke rumah Regan jika dia akan berangkat lebih pagi.
Shea pun dibuat bingung dengan sikap Bryan yang tiba-tiba berubah. Berkali-kali juga Shea menanyakan sikap Bryan, tetapi jawaban Bryan tetap sama, jika dia tidak ingin Shea dekat pria manapun.
Pagi ini setelah Bryan menjemput baby Al dan membawanya pulang, Bryan berangkat ke kantornya.
"Al sudah di rumah?" tanya Felix pada Bryan. Dia menebak jika Bryan datang lebih pagi, itu artinya baby Al sudah di rumahnya.
"Iya," jawab Bryan.
"Sampai kapan kamu sensitif begitu?" Felix tahu alasan Bryan mengambil Al atau berangkat siang itu agar frekuensi Regan dan Shea berkurang.
"Aku bukan sensitif, tapi aku sedang berusaha mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," jawab Bryan, "cinta ada karena terbiasa dan aku tidak mau Shea yang terbiasa bertemu dengan Regan berubah mencintai."
Kali ini Felix tidak bisa menasehati apa-apa, mengingat ini soal cemburu dan dia menyadari tahap dan kadar masing-masing orang berbeda. Termasuk pada Bryan yang mungkin kadarnya sudah banyak.
"Besok kita harus ke proyek pembangunan hotel, apa kamu akan pergi dengan aku atau akan membawa mobil sendiri?" Felix mengalihkan pembicaraan mengenai Regan dan membahas pekerjaan dengan Bryan.
"Astaga!" pekik Bryan seraya menepuk dahinya. Dia lupa jadwal kunjungan proyek. Belum lagi, dia belum memberitahu Shea.
"Jangan bilang kamu lupa?" Felix menebak saat melihat pekikan Bryan.
"Iya, dan aku juga belum bilang Shea."
Felix mendesah frustrasi mendengar ucapan Bryan. "Aku tidak mau tahu, Bry, kamu harus pergi ke sana, karena kamu sudah menundanya berkali-kali." Dia menatap tajam pada atasannya itu.
"Iya-iya, aku akan ke sana." Bryan menatap malas teman sekaligus asistennya itu. "Sekarang pergilah! Aku akan mengabari Shea." Dengan mengerakkan tangannya dia mengusir Felix.
Dengan mencibirkan bibirnya, Felix berdiri dan meninggalkan Bryan dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
Bryan meraih ponselnya dan mengusap layar ponselnya. Mencari nomer telepon istrinya dia mengusapnya sesaat kemudian.
Cukup lama dia menunggu Shea mengangkat sambungan telepon dari dirinya. Dia tahu, istrinya pasti sedang sibuk dengan kedua bayi di rumahnya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya suara Shea terdengar menyapanya. "Halo, Sayang, maaf tadi aku sedang menganti popok," ucapnya.
"Iya, tidak apa-apa."
"Kenapa kamu menghubungi aku?" Shea merasa aneh karena suaminya baru saja pergi ke kantor dan belum lama meninggalkan rumah.
"Aku mau mengabari jika besok aku akan ke puncak untuk mengecek proyek." Bryan pun menjelaskan pada Shea rencananya.
"Oh … ya sudah kalau begitu, pergilah!" Dengan suara yang lembut Shea memberikan izin pada Bryan.
"Kamu mengizinkan?" tanya Bryan memastikan.
__ADS_1
"Iya, aku mengizinkan kamu, memangnya kenapa?" Shea merasa heran dengan suaminya.
Bukankah dia tadi meminta izin, kenapa saat sudah diizinkan kenapa dia justru bertanya?
"Iya, maksud aku, apa kamu tidak ada niatan melarang?" Suara Bryan tampak frustrasi saat mendapati izin Shea.
"Kenapa aku harus melarang?" tanya Shea. Dia benar-benar dibuat semakin tidak mengerti.
"Aku akan bertemu dengan Alex dan Helena besok."
"Ya memang kenapa jika kamu bertemu dengan Helena dan Alex?" Shea justru balik bertanya pada Bryan.
"Memang kamu tidak cemburu?" Bryan tidak mau berlama-lama basa-basi dengan Shea.
"Aku tahu suamiku tidak akan macam-macam, jadi untuk apa cemburu?"
Bryan menghela napasnya mendengar ucapan istrinya. Dia membenarkan ucapan Shea, jika dia tidak akan macam-macam.
"Sayang, aku percaya kamu, jadi pergilah!" Suara Shea terdengar kembali.
Kalau aku pergi, Shea akan di rumah sendiri. Bisa-bisa kak Regan ke rumah.
Bryan membayangkan yang tidak-tidak saat dia memilih pergi dan meninggalkan istrinya. Apalagi ada kakak iparnya di rumah. Dia pun memutar otaknya agar bisa menjaga Shea.
Bryan memikirkan ide lain agar Shea tidak bertemu kakak iparnya. Namun, dia tidak menemukan ide tepat.
"Ikutlah aku ke puncak," ucap Bryan. Saat memikirkan bagaimana menjaga Shea, ide itulah yang keluar.
"Hah … " pekik Shea.
Bryan sedikit menjauhkan ponselnya saat mendengar pekikan Shea. Suara Shea yang terdengar kencang, begitu membuat telinganya sakit.
"Apa kamu bilang? Ikut kamu?" Shea memastikan kembali ucapan Bryan.
"Iya."
"Lalu El?" Shea tidak habis pikir kenapa suaminya mau mengajaknya ke luar kota. Padahal dia sudah janji tidak akan mengajaknya jauh-jauh untuk berduaan.
"Ajak juga," jawab Bryan, "lagipula dia sudah cukup besar untuk di ajak ke luar kota,"lanjutnya.
"Tetapi apa bagaimana dengan Al? Aku tidak bisa meninggalkannya." Shea merasa ada yang kurang jika dia hanya membawa satu anak.
Kedekatan Shea dan anak Regan dan Selly itu memang sudah seperti ibu dan anak, jadi Bryan pun tidak bisa memisahkannya. "Ajak juga, kita bawa babysitter untu membantumu menjaga mereka."
"Apa kak Regan akan mengizinkan kita membawa anaknya?' tanya Shea ragu-ragu.
__ADS_1
"Aku yang akan bicara dengan kak Regan," jawab Bryan, "yang penting kamu siapkan untuk kepergian kita besok pagi."
"Iya." Shea tidak menolak. Dia berpikir ini waktunya dia menikmati liburan setelah berkutat dengan kegiatan rumah. Lagipula anak-anak bersamanya, jadi dia tidak pelu khawatir.
Bryan pun mematikan sambungan teleponnya setelah mendapat jawaban iya dari istrinya. Dia beralih menghubungi Regan untuk meminta izin kakak iparnya itu membawa anaknya bersamanya besok.
""Halo, Bry." Suara Regan terdengar menyapa.
"Halo, Kak."
"Ada apa menghubungi aku?"
"Em … rencananya aku akan ke puncak untuk meninjau proyek, dan aku berencana membawa serta Shea dan anak-anak." Bryan menjelaskan maksud dari ucapannya.
Dari ucapan Bryan, Regan sudah mengerti, anak-anak yang dimaksud oleh Bryan adalah baby Al dan El. "Berapa hari?" tanyanya.
"Sekitar dua atau tiga hari."
"Baiklah, ajaklah Al." Regan pun akhirnya mengizinkan.
"Terima kasih, Kak." Bryan mematikan sambungan teleponnya setelah memberitahu Regan.
Kini Bryan lega, karena ternyata Regan mengizinkan. Dia pun tidak perlu khawatir lagi harus meninggalkan Shea di rumah sendiri.
***
Shea sibuk menyiapkan segala keperluan anak-anaknya. Dari sejak Bryan mengabari jika suaminya itu mengajak ke ke luar kota, dia langsung menyiapkan segala. Dia pun sampai membuat list barang apa saja yang dibawanya, agar tidak ada yang terlupa. Hingga sore, ada saja yang tiba-tiba Shea ingat untuk bawa.
Saat merasa sudah siap semua, akhirnya dia kembali bermain dengan dua bayi kecilnya. Dua bayi kecil itu memang selalu membuat Shea merasa senang, apalagi jika mereka sedang bersaut-sautan bergumam.
Suara bel pintu rumah, membuat Shea menoleh. "Biar aku saja," ucap Shea pada asisten rumah tangga dan babysitter yang sedang ikut menemani dirinya bermain dengan baby Al dan El.
Shea berdiri dan membuka pintu. "Kak Regan," ucapnya kaget melihat suami kakak iparnya itu pulang lebih awal.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa like dan vote....
__ADS_1