My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Aku Kecewa Denganmu


__ADS_3

Shea yang selesai menidurkan anaknya menuju ke kamarnya. Dia ingin mengecek apa yang dilakukan oleh suaminya. Saat masuk ke kamar dia tidak menemui suaminya di dalam kamar. "Kemana dia?" gumamnya.


Satu tempat yang dituju Shea adalah kamar mandi. Dia melangkah menuju ke kamar mandi. Di depan kamar mandi, dia menempelkan telinganya di pintu, memastikan jika ada suara air dari dalam.


Namun, saat meresapi setiap suara yang masuk ke gendang telinganya, dia tidak menemukan suara gemericik air sama sekali. Karena begitu penasaran akhirnya Shea membuka pintu kamar mandi, dan kebetulan juga Bryan tidak menguncinya.


Matanya membulat saat melihat Bryan yang berada di bath up dengan mata terpejam dan tubuhnya sudah hampir tengelam di dalam air.


"Sayang," teriak Shea. Dia berlari menghampiri Bryan dan membangunkannya. Rasa takut seketika menghinggapinya. Dia pernah mendengar berita artis yang mabuk dan tenggelam di bath up, dan kini dia melihat suaminya yang berada di bath up setelah mabuk, membuatnya ketakutan.


"Sayang," ucap Shea khawatir. Tangan kirinya melingkar di tengkuk leher Bryan dan tangan kanannya menepuk pipi suaminya. "Sayang, bagun," ucapnya kembali.


Byur ….


Tubuh Shea masuk ke air yang berada di dalam bath up karena Bryan menariknya.


Shea yang terkejut pun langsung berteriak. "Kamu mengerjai aku?" tanyanya kesal. Tubuhnya yang berada di dalam pelukan Bryan menjadi basah. Karena kesal, Shea memukul-mukul tubuh Bryan.


Bryan tidak menjawab ucapan Shea justru mengeratkan pelukannya. "Iya, maaf," jawabnya, "kamu jangan marah," pintanya.


"Lepaskan aku!" Shea mendorong-dorong tubuh suaminya dan berusaha melepaskan diri.


"Jangan banyak bergerak, kamu membangunkannya," ucap Bryan seraya menempelkan bagian bawah tubuhnya.


Seketika Shea menghentikan aksinya. "Lepas!" ucapnya dengan tatapan tajam.


"Tadi kamu khawatir sekali." Bryan tidak mengindahkan permintaan Shea, tetapi justru mengingatkan istrinya itu akan reaksi yang ditujukan oleh Shea.


"Aku hanya tidak mau jadi janda muda saja," elak Shea.


Mata Bryan membulat sempurna saat mendengar ucapan Shea. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Mendengar ucapan istrinya, Bryan benar-benar tidak suka.


"Oh, ya?" tanya Shea memastikan. "Aku pikir dengan minum banyak, kamu sengaja membuatku menjadi janda muda," ucapnya.


"Sayang … " panggil Bryan frustrasi. "Aku kemarin ingin minum sedikit saja, tetapi Felix memaksaku minum lagi dan lagi." Dia menjelaskan alasannya minum banyak.

__ADS_1


Mendengar nama Felix, darah Shea langsung mendidih. Dia benar-benar kesal dengan teman sekaligus asisten suaminya itu, karena dialah semua hal ini terjadi.


Namun, pikiran Shea tidak sebodoh itu. Kesalahan tidak semua murni pada Felix, karena suaminya pun juga bersalah. "Jangan menyalahkan orang lain, jika memang niatmu tidak minum, sekalipun ada yang menawari, kamu tidak akan mau."


Bryan menelan salivanya. Memang dia sendiri juga yang mau karena sudah cukup lama dirinya tidak minum. Terakhir minum, waktu Shea memeluk Regan dan itu juga dia tidak sebanyak kemarin.


Shea mendorong tubuh Bryan dan bangun dari bath up. Bryan yang sedang tidak fokus membuatnya melepaskan Shea dari pelukannya. Shea melepas bajunya yang basah, dan meraih handuk untuk menutupi tubuhnya.


Namun, belum sempat memakai handuk, Bryan memeluknya dari belakang. Tubuh mereka yang polos menempel sempurna.


"Maaf." Satu kata yang terucap dari mulut Bryan.


Kali ini Shea memilih untuk tidak mudah memaafkan Bryan. Baginya apa yang dilakukan Bryan harus ada efek jera dan membuat suaminya itu tidak akan mengulangnya kembali.


"Jika semua kesalahan dengan mudah mendapatkan maaf, aku rasa semua orang akan melakukan kesalahan lagi dan lagi," ucap Shea seraya melepas pelukan Bryan. Tangannya meraih handuk dan menutup tubuhnya. Melangkah keluar dari kamar mandi, dia menuju ke lemari pakaian.


"Sayang." Rasanya Bryan benar-benar frustrasi saat kemarahan Shea begitu besar. Dengan tubuh polosnya dia mengejar Shea.


Shea mengabaikan suaminya itu begitu saja. Membuka lemari dia mengambil bra dan celana dalam.


"Sayang, aku tahu aku salah, tetapi kamu tahu bukan, jika sesama pria sedang berkumpul mereka tidak bisa menolak ajakan ataupun tawaran." Bryan mencoba menjelaskan pada Shea.


"Ya bukan begitu juga," elak Bryan.


Shea yang kesal menatap tajam Bryan, tetapi karena suaminya itu tidak memakai sehelai benangpun membuat fokus Shea beralih. "Tutup tubuhmu!" ucapnya seraya melempar handuk.


"Kenapa harus ditutupi? Bukannya kamu sudah biasa melihatnya?"


Mata Shea membelalak mendengar pertanyaan Bryan. "Aku bilang pakai."


Satu kalimat itu sudah bagai sihir yang membuat Bryan seketika melaksanakan perintah. Nyalinya ciut saat bola mata indah Shea membelalak.


Shea melanjutkan memakai baju. Walaupun tangannya bergerak memakai baju, tetapi mulutnya tak berhenti berbicara. "Kamu itu seorang ayah, apa kamu tidak sadar jika kamu memberikan contoh tidak baik untuk anak kita?"


Mulut Bryan tertutup rapat. Dia tidak tahu harus memberikan pembelaan apalagi.

__ADS_1


"Mana janji kamu ingin menjadi ayah yang sempurna?" Shea yang selesai memakai baju menatap pada Bryan.


Bryan melihat jelas sorot kecewa dari mata Shea, dan Bryan tidak bisa menyalahkan karena memang dirinyalah yang sudah sangat mengecewakan.


"Anak-anak butuh sosok yang dicontoh. Mereka belajar dengan apa yang orang tua mereka kerjakan. Apa kamu mau El melakukan hal yang sama denganmu?" Mata Shea sudah berkaca-kaca. Suaranya terdengar bergetar menahan tangisnya pecah.


'Tidak', jawaban atas pertanyaan istrinya itu. Dia pun berharap jika El tidak melakukan apa yang dia lakukan. Satu harapannya, El akan tubuh menjadi anak yang lebih baik dari dirinya. Apalagi ada darah Shea yang mengalir di tubuh El yang pasti akan menurunkan hal baik.


"Aku kecewa denganmu." Satu kalimat penutup yang Shea berikan untuk Bryan sebelum akhirnya dia pergi ke kamar bayi.


Bryan memegangi kepalanya. Kepalanya semakin berdenyut saat mendengar ucapan Shea. Belum lagi melihat bagaimana Shea memandangnya tadi. Bola matanya yang memerah menandakan jika sebenarnya istrinya itu ingin menangis.


Melangkah menuju lemari, Bryan menganti bajunya. Sepanjang menganti baju dia memikirkan bagaimana meminta maaf dan membujuk Shea.


"Belum lama aku mendapatkan maaf. Kenapa aku membuat masalah lagi?" gerutu Bryan menyalahkan diri sendiri.


"Dasar Felix, kurang ajar. Tahu begitu aku tidak menuruti idenya." Satu orang yang menjadi sasaran salah adalah temannya.


Namun, saat menyalahkan Felix, dia mengingat apa yang diucapkan Shea, jika semua bukan salah Felix, melainkan dirinya juga, karena jika bisa menjaga diri dari godaan tidak mungkin semua akan terjadi.


"Coba yang di depanku seorang wanita, aku tidak akan tergoda, karena yang di depanku minuman aku masih belum tahan menahan godaannya."


.


.


.


.


.


...Jangan lupa berikan ...


...💮Like 💮...

__ADS_1


...❤️Komentar❤️ ...


...🎉Vote🎉 ...


__ADS_2