
Sementara di dalam kamar, Lisa sedang mencoba tutorial menidurkan bayi. Ia menggendong baby El yang baru saja selesai minum susu. Lisa tersenyum gemas melihat tingkah bocah imut yang merem melek menahan kantuk.
Antara ingin bercanda dengan Lisa, tapi matanya sudah tidak tahan lagi menahan beban kantuk dan perut kenyang khas bayi yang selalu ingin tidur sehabis minum susu.
"Kamu belum ada rencana menjadi sepertiku, Lis?" tanya Shea sambil merapikan tempat tidur untuk baby EL. Tangannya cekatan menyibakkan selimut dan bantal untuk anaknya, tidak mau ada debu atau kotoran kecil sedikit pun agar buah hatinya merasa nyaman.
"Rencana apa, Kak?" tanya Lisa agak canggung.
"Eh, jangan panggil aku kakak. Panggil Shea saja." Wanita itu berjalan ke arah Lisa setelah box tempat tidur milik baby El siap.
Lisa tersenyum memamerkan deretan giginya, sifat kalem dan anggun yang ada di dalam diri Shea membuat wanita itu semakin kikuk. "Iya Shea. Maaf ... tadi maksudnya rencana apa?" ulang Lisa sekali lagi.
"Tentu saja rencana memiliki bayi dengan suamimu. Dari caramu memperlakukan El, aku lihat kamu sangat menyayangi anak kecil. Pasti kamu akan senang jika ada bayi di antara kalian," ucap Shea menyarankan. "Atau jangan-jangan kamu sengaja menunda ya?" tambahnya menebak-nebak.
Lisa tertunduk sambil melipat bibirnya dalam-dalam. Wajahnya bersemu-semu, malu. "Aku tidak menunda, sedikasihnya saja, tetapi jika boleh minta, aku ingin fokus bekerja dulu sampai pernikahan kami genap setahun."
"Oh begitu. Memangnya kamu sudah menikah berapa bulan, Lis?"
"Baru dua bulanan. Masih seumur jagung," ux
"Oh, pengantin baru ya? Sudah bulan madu ke mana aja?" tanya Shea iseng-iseng.
"Bulan madu?" Lisa menatap Shea jengah. Pikirannya melayang memikirkan bulan madu, merencanakan saja tidak berani.
"Hmm ...." Shea mengangguk, menunggu jawaban Lisa berikutnya. Wanita itu duduk di atas kepala baby El sambil ikut mengelus-elus kening anaknya yang sedang di pangku Lisa.
"Suamiku sibuk, Shea. Mana mungkin ada waktu bulan madu."
"Waah ... padahal kamu belum punya anak kecil yang merepotkan seperti aku begini. Kamu tahu tidak, dari dulu aku ingin sekali bulan madu, tapi terkendala oleh kehadiran si El," ucap Shea dengan muka sedihnya.
"Hah? Kok bisa begitu, memangnya El langsung jadi, Se." Mode mulut bobrok Lisa diaktifkan. Shea terkekeh melihat ekspresi Lisa.
"Bukan begitu, aku dan Bryan menikah karena insiden kecelakaan. Bayi kami sudah hadir sebelum kami menikah. Bryan membuat aku hamil karena kebodohannya." Wajah Shea berubah sedih kembali.
"Oh begitu ...." Lisa tersenyum dengan tatapan hangat. Dia tidak menyangka bahwa Shea akan sejujur ini pada orang baru sepertinya. "Bulan madu tidak penting Shea, melakukan bisa di mana saja. Rasanya pun sama saja," ucap Lisa menggoda Shea.
"Dasar! Kamu bisa saja."
"Ini sudah lelap belum?" tanya Lisa dengan mata yang mengarah pada wajah baby El.
"Belum, dia akan bangun kalau sudah di taruh di box bayi. Apa kamu lelah, biarkan aku saja yang memangkunya," tawar Shea.
"Tidak usah, aku suka memangku anak ini." Mengelus rambut El dengan penuh kasih sayang.
"Makannya cepat buatlah yang seperti itu."
__ADS_1
"Sudah setiap saat, tapi belum jadi-jadi." Lisa tergelak. Hilang sudah janjinya pada Farhan agar menjadi wanita anggun untuk sementara. Sementara Shea juga ikut-ikutan tertawa, rasanya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Karakter Lisa begitu lucu dan menghibur.
"Oh ya, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Mau tanya apa?" Shea memangku dagu dengan antusias.
"Apa kamu kenal dekat dengan Helena? Aku penasaran sekali, secantik apa wajahnya."
Helena? Shea sedikit bingung kenapa Lisa tiba-tiba menanyakan tentang Helena.
"Aku tidak kenal dekat, tetapi karena Bryan ada kerja sama dengannya aku bertemu beberapa kali dengannya. Dia wanita yang cantik, berkulit putih, tinggi semampai dan tubuhnya langsing," jelas Shea.
"Apa seperti model?" tanya Lisa.
"Bryan bilang dia memang seorang model," jawab Shea, "memang kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya penasaran saja pada wanita yang pernah membuat suami kita jadi cekcok."
"Ah, gara-gara Farhan lebih terlihat perkasa dan memuaskan dari pada Bryan?" Shea terkekeh geli.
"Rupanya kamu tahu juga cerita ini." Lisa seperti menemukan jantung hatinya yang hilang setengah.
"Tentu saja aku tahu jelas sejarah itu, gara-gara Helena, suamiku berubah menjadi seorang cassanova. Tapi aku tidak marah ataupun menyesal, karena kelakuan Bryan yang seperti itulah yang akhirnya mempertemukan kami berdua."
"Apa?"
"Seberapa hebat Farhan di ranjang?" tanya Shea ragu-ragu. Dia ingin tahu suaminya yang membuatnya kewalahan itu bisa kalah dengan Farhan.
Seketika wajah Lisa merona. Dia sungguh tidak percaya bahwa Shea memiliki sisi barbar di balik wajah kalemnya. Sampai penasaran ingin tahu kehebatan gagang gayung suaminya.
"Memangnya kenapa, Se?"
"Aduh … maaf Lisa, tolong jangan tersinggung. Aku hanya penasaran saja. Kamu 'kan tahu sendiri, kalau suamiku pernah ditolak Helena gara-gara lebih memilih Farhan yang katanya lebih perkasa. Jadi aku penasaran karena hal itu."
Lisa memasang wajah sedih ala drama ikan diskoan. Matanya menatap Shea lekat, mengunci pandangan wanita itu agar lebih serius mendengarkan curhatannya.
"Tidak semua yang dilihat orang itu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan Shea. Jika Helena tahu seperti apa kehebatan suamiku Farhan, mungkin dia akan jungkir balik di tengah lapangan sambil nangis-nangis," ujar Lisa penuh keyakinan.
Dahi Shea mengkerut-kerut tidak paham. Merasa bingung dengan penjelasan Lisa yang terdengar ambigu. "Kenapa dia harus jungkir balik, Lisa?"
Wanita itu terkekeh geli melihat wajah polos Shea yang semakin penasaran. "Karna aku seperti itu, di malam pertama kami saat menikah. Aku ingin menjerit sekencang-kencangnya di tengah lapangan. Kamu tahu, Shea? Keperawananku yang selalu kujaga selama 23 tahun amblas ditelan durasi tragis. Tiga menit … Aku tidak akan pernah melupakan peristiwa tragis itu seumur hidupku."
"Tiga menit? Jadi suamimu hanya mampu bertahan tiga menit?" Shea ternganga tak percaya. Bola matanya nyaris copot, sampai Lisa tidak paham dia sedang terkejut apa menghina. Dua kemungkinan itu terlalu masuk akal soalnya.
Lisa mengangguk tanda mengkonfirmasi. "Ya tiga menit, lebih pendek dari durasi lagu dangdut," jawab Lisa agak nyeleneh. Wajahnya jenaka membuat Shea masih setengah tidak percaya.
__ADS_1
"Mana mungkin Lis. Bukan aku mengagumi suamimu, tapi aku akui tubuh suamimu sangat bagus dan terlihat perkasa."
"Yaps! Benar sekali, tubuh Farhan Budiman memang menipu. Ibarat cangkang telur saja. Tapi hasilnya sangat mencolok mataku sampai aku mogok membaca novel halu tentang CEO perkasa yang kaya raya. Nyatanya, suamiku tidak sama dengan yang ada di cerita-cerita."
Keseriusan dari ucapan dan wajah Lisa membuat Shea percaya. "Pasti kamu sangat kecewa ya, Lis?"
"Bukan kecewa lagi, jiwa psikopatku langsung ngamuk. Ingin menyunati barang bobrok suamiku sampai habis."
"Astaga Lisa! kamu sadis sekali, tetapi jika itu aku, mungkin saja aku juga melakukan hal yang sama." Shea tertawa, tetapi sesaat kemudian dia menutup mulutnya, malu.
"Tapi sekarang gelar tiga menit itu sudah punah. Sejak dibawa ke klinik Mister Tong Jay, barang bobrok suamiku bisa normal kembali. Katanya, karena tidak pernah dipakai sampai 32 tahun lebih, kualitas milik suamiku jadi menurun. Apalagi dia masih original. Jadi perlu diservis biar tidak gampang muntah pelangi."
Shea tergelak kencang sekali. "Ya ampun Lisa, kamu kualat nanti sama suamimu, tapi tidak apa, yang penting sudah diservis."
Air mata Shea sampai mengalir karena kebanyakan tertawa. Demi apapun, bertemu dengan Lisa membuat giginya mendadak kering.
"Iya, sudah 30 menit ke atas. Lumayan, aku sudah bisa merem melek sekarang. "
"Ya ampun! Hentikan Lisa, kasian pipiku diajak senam terus dari tadi." Shea menyeka air matanya yang sudah banjir tawa.
"Tapi ngomong-ngomong seperti apa rasanya bercinta dengan durasi tiga menit ya? Aku yang main cepat karena takut El bangun saja belum pernah sesingkat itu."
"Rasanya ya?" Lisa memutar memori otaknya. "Seperti tutorial makan oreo, diputar, dicelupin, end!"
Shea tergelak kencang mendengar ucapan Lisa, sampai baby El yang sudah pergi ke alam mimpi ikut menjadi korban. Bayi itu terperanjat dengan tangan mengepang ke udara.
Detik berikutnya, sudah tidak dapat dijelaskan menggunakan kata-kata. Mungkin Shea sudah pingsan karena terlalu banyak tertawa dengan tubuh setengah kelojotan.
.
.
.
.
.
...Ini kolaborasi Myafa & Anarita...
...Antara My Perfect Daddy & Hello, My Boss!...
...Akan ada satu bab lagi, tapi akan di up besok...
...Jangan lupa like dan vote. ...
__ADS_1