My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Membuat Huru Hara


__ADS_3

Bryan, Felix dan Farhan berada di taman belakang melanjutkan kegiatan yang sudah mereka rencanakan. Mereka bertiga mulai menyiapkan aneka makanan yang sudah disiapkan oleh Shea tadi siang.


Felix pun pamit pada Bryan untuk mengambil belanjaan yang dia masih simpan di mobil. Dia mengambilnya setelah Shea masuk ke kamar.


Dengan membawa kantung belanjaan Felix masuk kembali dan memberikan pada Bryan.


Bryan membuka kantung belanjaan Felix dan mengeluarkan beberapa bawaan termasuk anggur merek dan yang siap menemani mereka malam ini. Dia tidak kaget saat melihat apa saja yang Felix beli, karena temannya itu sudah merencanakan dari jauh-jauh hari.


Di bawah sinar rembulan mereka menikmati malam yang begitu indah di gazebo rumah Bryan. Pantulan bulan di kolam renang pun menambah suasana menjadi lebih indah.


Saat hendak membuka botol anggur Bryan teringat pada istrinya. Dia pun meminta Felix untuk mengecek keberadaan Shea terlebih dahulu.


***


Felix mengurung diri di kamar mandi selama setengah jam hanya untuk terbahak sedari tadi. Entah mengapa, tawanya tak mau berhenti seperti orang kesurupan jin penunggu kamar mandi.


Tadi, saat Bryan menyuruh mengintip Shea dan Lisa di kamar untuk memastikan dua mereka sedang apa, telinga Felix tak sengaja mendengar curhatan Lisa tentang durasi tiga menit itu. Tanpa melanjutkan acara menguping percakapan mereka berikutnya, Felix langsung pergi ke kamar mandi karena sudah tidak kuat. Pria itu nyaris mati lemas karena terlalu banyak tertawa.


Aku yakin, kamu akan menyesali separuh hidupmu jika tahu kelemahan Farhan, Bry.


Felix bisa membayangkan jika Bryan tahu, temannya itu pasti menyesali dirinya yang memilih menjadi cassanova.


Kembali ke taman belakang, dia menuju gazebo di mana Farhan dan Bryan sedang menunggunya.


"Dari mana saja kamu?" sungut Bryan kesal karena lama menunggu Felix. Dia sengaja menikmati koleksi anggur bermerk petrus 1993 milik Felix agar pria itu marah. Namun, Felix sama sekali tidak peduli melihat anggur mahal koleksinya nyaris habis oleh dua orang itu.


Breaking news tiga menit jauh lebih berharga daripada anggur itu, pikir Felix.


"Aku habis dari kamar mandi," jawab Felix. Pria itu mengalihkan pandangannya kemana pun asal tidak melihat Farhan. Dia tidak mau mati tragis karena terlalu banyak tertawa. Apalagi Felix belum menikah.


"Aku menyuruhmu mengintip Shea dan Lisa untuk memastikan kegiatan kita aman. Kenapa kamu jadi main solo di kamar mandi?" sergah Bryan kesal. Tangannya menuding-nuding Felix dengan gelas anggur kosong.


"Siapa yang main solo? Tidak berkelas sekali. Seperti wanita sudah punah saja," jawab Felix tidak terima. Dia mengambil posisi duduk agak membelakangi Farhan agar jangan sampai melihat wajahnya. Karena tawa Felix lepas lagi kalau melihat wajah Farhan.


"Cepat minum!" Bryan menyodorkan segelas anggur ke hadapan Felix. Dia meminumnya secepat kilat agar cepat lupa dengan peristiwa tiga menit itu.


Tak cukup segelas anggur, Felix meraih sebotol Wine dengan kadar alkohol tinggi. Dia meminumnya dengan tegukkan cepat agar segera lupa dengan peristiwa tiga menit yang meresahkan jiwa raganya.


Felix memang jahat, tapi ia tidak mau merusak acara malam ini dengan berita panas tiga menit si batu bernapas. Biarlah Bryan tahu sendiri dari istrinya. Semoga saja temannya itu tidak ingin mengakhiri hidupnya karena berita Farhan.

__ADS_1


Sesaat meminum anggur, mulut Felix mulai meracau, walaupun sebenarnya kesadarannya masih lumayan penuh. "Apa kalian ingat jika dulu Helena menolak Bryan karena Bryan yang terlihat tidak perkasa? Dan dia lebih memilih Farhan yang lebih perkasa," ucapnya.


Bryan hanya mendengus kesal saat Felix mengingatkan jadian pertengkarannya dengan Farhan dulu. "Mau apa kamu mengungkit masa lalu di acara bahagia kita?" Bryan mulai sensitif akibat pengaruh alkohol yang mulai bereaksi.


"Aku ingin tahu, seberapa hebat kalian sebenarnya? Mumpung dua-duanya sudah menikah," lanjut Felix bertanya.


"Karena aku sudah banyak meniduri wanita, jadi aku yang paling hebat pastinya," jawab Bryan. Shea adalah bukti nyata bahwa dirinya sangat perkasa.


"Oh ... ya?" tanya Felix memastikan. Dia beralih pada Farhan. "Kamu? Seberapa hebat dirimu Tuan Farhan?" Sebenarnya ingin rasanya Felix tertawa, tetapi dia menahannya karena ingin tahu jawaban Farhan


"Aku tidak suka membahas hal seperti ini," jawab Farhan datar.


Felix semakin terpancing ingin menggoda. "Ah, payah! Katanya sahabat, masa hal seperti itu saja ditutup-tutupi," pancing Felix. Bibirnya menyungging tipis ala Red Devil.


"Aku tidak pandai dalam hal seperti itu, tapi aku bisa mempelajarinya," jawab Farhan jujur seratus persen.


Felix memajukan bibirnya kecewa. Farhan terlalu jujur dan lurus, membuat dia yang ingin menggodanya jadi kehabisan kata-kata. Yang Felix harap, Farhan akan menyombongkan dirinya seperti Bryan. Jadi Felix memiliki bahan amunisi untuk mengejek Farhan kedepannya.


Bryan menuangkan anggur ke dalam tiga gelas. Lalu menyodorkannya pada Farhan dan Felix "Sudah kubilang, aku yang paling hebat. Kalau tidak begitu, mana mungkin Farhan meminta tutorial video tengah malam." Bryan tergelak sambil membanggakan dirinya.


Felix teringat bagaimana dirinya juga ikut memberikan vidio aneh pada Bryan. Namun, Felix berfikir bahwa Farhan meminta video itu untuk menambah durasinya. Sedikit geli juga, karena umur Farhan tidak cocok lagi melihat tutorial seperti itu. Koleksinya saja sudah Felix milik


"Sangat membantu sekali," jawab Farhan ketus. Da jadi teringat peristiwa memalukan itu dan hanya dirinya dan Lisa saja yang tahu.


Dari jawaban Farhan, Felix sangat yakin jika temannya itu sekarang sudah lebih pintar. Dia pun tak ingin melanjutkan pembahasan hal itu lagi, karena akan merusak suasana.


Malam semakin larut, mereka bertiga melanjutkan sepertiga malam itu dengan menghabiskan gelas demi gelas anggur yang dituang.


***


Hingga pagi mulai menjelang, mereka baru saja selesai dengan pestanya. Bukan selesai, lebih tepatnya terkapar karena terlalu banyak minum. Felix benar-benar mencekoki kedua temannya itu dengan minuman. Membuat huru hara yang akan membuat dirinya kena amukan Shea nanti.


Keadaan di taman belakang sangat kacau. Kulit kacang dan botol bekas minuman berserakan di mana-mana.


Alunan musik masih terdengar mengiringi kegiatan mereka. Padahal tiga pria itu sudah terkapar di lantai dan tak berdaya lagi.


"Satu … dua … tiga … hihihi." Farhan tertawa geli sambil menghitung jari kirinya berulang-ulang. Felix sampai pusing mengdengar pria itu latihan menghitung. "Kenapa jariku tumbuh satu lagi? Bukankah semalam masih lima. Menghitung lagi ... lagi dan lagi untuk memastikannya.


Kebiasaan Farhan yang tidak pernah orang tahu. Dia akan menghitung jarinya berkali-kali di saat mabuk.

__ADS_1


Satu tepukan mendarat di kepala Farhan. Felix meraih tangan Farhan agak kasar. "Dasar bodoh! Biar aku yang menghitungnya. Mana mungkin jarimu ada enam," balas Felix.


Pria itu mulai menghitung dengan mata setengah kunang-kunang. "Satu … dua … tiga … empat … hmm … hmmm." Felix bergumam-gumam.


"Haah! Sudah kubilang, jarimu tidak mungkin tumbuh satu." Felix menyeringai bodoh. Lalu menghempaskan tangan kiri Farhan tanpa aba-aba.


"Jadi ada berapa jariku!"


"Tujuh!"


"Ah, tujuh ya? Berarti aku yang salah menghitung. Ternyata tumbuh dua. Coba hitung yang satu lagi." Farhan mengulurkan tangannya pada Felix seperti hendak minta dimanipedi.


Felix mulai menghitung. "Satu ... dua … tiga … empat. Sialan!" Tiba-tiba Felix menghentikan kegiatannya. "Itu bukan jari tangan bodoh, tapi jempol kaki."


"Hah?" Farhan terbengong-bengong menatapi tangan kanannya. "Sejak kapan kakiku tukeran tempat?"


"Mana kutahu, tanya Bryan!" ketus Felix yang sudah tidak tahan lagi menahan matanya. Pria itu memandangi tiang yang jaraknya hanya empat meter. "Bry ... Bry!" Menepuk bahu Bryan keras.


"Hmmm ... hmmm." Pria itu bergumam lirih. "A ...apaa?" tanya Bryan dengan mata setengah terbuka.


"Lihatlah! Untuk apa Chika datang kemari?"


"Mana?" Bryan bangun dari posisi tiduran, lalu duduk sambil melihat ke arah yang ditunjukkan Felix tadi. "Kau benar …" Mata Bryan mengerjap-ngerjap dengan mulut melongo. "Mau apa dia datang ke sini menggunakan baju renang?"


"Tentu saja mau berenang," timpal Farhan yang masih dalam posisi tidur sendiri.


"Aku akan menemaninya." Felix turun dari gazebo. Dia merentangkan tangannya, bermaksud hendak memeluk Chika. Namun, ia jatuh terhuyung tepat di samping tiang tersebut. Karena sudah tidak tahan lagi, Felix tertidur di atas rerumputan. Sambil berhalusinasi memeluk Chika yang hanya mengenakan baju renang seksi.


Bryan kembali menjatuhkan tubuhnya. Ia menarik kepala Farhan. Menaruhnya di lengan seolah itu adalah kepala Shea.


Satu kecupan melayang di kening Farhan. "Tidurlah, Sayang! Jangan bergerak-gerak," ucap Bryan sebelum akhirnya tak sadar diri menyusul Farhan dan Felix.


.


.


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan vote ya...


__ADS_2