
Regan menurunkan Selly perlahan di atas tempat tidur. Matanya tak lepas memandangi wajah cantik istrinya yang selalu membuatnya jatuh cinta.
Tangannya dengan lembut menyingkirkan rambut yang sedikit menutup wajah cantik Selly. "Apa kamu sudah memotong kuku?" Pertanyaan konyol terlontar dari mulut Regan.
Selly yang kesal langsung memukul lengan Regan. Suaminya itu benar-benar tidak bisa romantis. Selalu kaku dan terkadang merusak suasana yang sudah dibangun susah payah, seperti halnya sekarang.
Regan tertawa. Tawa yang hanya akan terlihat jika bersama istrinya, dan sekarang bertambah saat bersama anaknya.
"Aku mencintaimu," ucap Selly membelai wajah Regan dan itu membuat Regan menghentikan tawanya.
"Aku sangat … sangat … mencintaimu." Regan membenamkan bibirnya di bibir Selly, menyesapnya dengan lembut. Suara pertemuan dua bibir itu menciptakan suara decakan di keheningan kamar.
Melepas ciumannya, Regan beralih menyusuri leher Selly, mendaratkan kecupan di setiap tempat yang dilaluinya. Tangannya pun mulai bergerilya meraih sesuatu di balik baju Selly.
Suara Selly terdengar melenguh, merasakan sentuhan dari suaminya. Sentuhan yang membuatnya tak berdaya. "Sa-ya-ng," panggilnya terbata.
Regan tersenyum saat mendengar suara istrinya yang begitu sexy baginya. Perlahan, dia melepas baju yang melekat di tubuh istrinya dan tubuhnya. Menyisakan tubuh tanpa penghalang pada keduanya.
Kerinduan yang telah lama ditahan kini di salurkan, melalui pertemuan dua tubuh tanpa penghalang itu.
Saat Regan memulai semuanya, suara Selly yang terkejut membuat Regan mengehentikan sejenak kegiatannya. "Apa sakit?" tanyanya seraya membelai rambut Selly.
"Mungkin karena terlalu lama," jawab Selly.
"Rileks, jangan tegang, aku akan melakukannya pelan." Regan tersenyum menatap istrinya yang tampak ketakutan karena sudah lama tidak melakukannya.
Selly mengangguk, dan menenangkan dirinya. Mengikuti irama yang diciptakan oleh suaminya.
Memulai kembali kegiatannya, Regan menciptakan iramanya. Mencari kepuasan dengan setiap gerakan yang diciptakan.
Tangan Selly mencengkram erat punggung Regan. Kuku-kuku panjangnya mencengkeram erat, sehingga akan melukai punggung mulus suaminya.
Bagi Regan sakitnya tak sebanding dengan kenikmatannya. Jadi dia membiarkan jari lentik Selly meninggalkan bekas luka di punggungnya. Suara sexy penuh desahan terdengar dari mulut Selly dan membuat Regan semakin menggila.
Ritme gerakan yang semakin cepat membuat mereka semakin sampai pada puncak pelepasan. Hingga semburan vanila yang masuk ke dalam rahim Selly, mengakhiri penyatuan dua insan yang saling merindu itu.
Tubuh Regan yang melemas, jatuh tepat di atas istrinya. Keringat yang membanjiri tubuh keduanya, menandakan jika olahraga yang baru saja mereka lakukan, membakar kalori yang cukup banyak.
"Terima kasih," ucap Regan dengan terengah-engah.
Selly hanya mengangguk, karena dia cukup lelah karena kegiatan yang baru saja dia lakukan.
Regan yang merasa tenaganya sudah cukup terisi kembali, bangkit dari tubuh istrinya. Dengan satu gerakan dia mengangkat tubuh Selly. "Aku akan membersihkan tubuhmu," ucap Regan membawa Selly dalam gendongannya menuju ke kamar mandi.
***
Mata Selly mengerjap. Tadi setelah membersihkan tubuhnya, dia memilih untuk tidur.
Kegiatan yang masih dilanjutkan di kamar mandi oleh Regan membuatnya begitu kelelahan, dan akhirnya membuatnya memilih untuk beristirahat.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" tanya Regan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Iya," jawab Selly. Dia melihat Regan yang membawa nampan berisi makanan. Bangkit dari tidurnya, dia bersandar pada headbord tempat tidur.
"Makan siang dulu," ucap Regan. Dia meletakan nampan di atas nakas, dan mengambil piring yang berisi makanan. Tangannya bergerak menyuapi Selly.
"Yang sakit kakiku, bukan tanganku," elak Selly saat suaminya hendak menyuapinya.
"Hari ini kamu adalah ratu, jadi aku akan melayani kamu," ucap Regan tersenyum penuh arti.
"Bilang saja, kamu tidak ingin membuatku lelah dengan makan sendiri," sindir Selly tersenyum.
"Benar sekali, aku tidak mau melihatmu lelah, karena aku yang akan membuatmu lelah." Senyum Regan semakin lebar.
"Bersama Bryan sepertinya kamu sekarang pintar merayu."
"Tapi tetap saja kaku."
"Tidak apa, aku tetap suka dengan gayamu."
Regan tersenyum dan mulai menyuapi Selly. Dia tidak mau istrinya itu kelaparan setelah banyak energi yang dihabiskan.
Suapan demi suapan Regan berikan pada Selly. Sesekali dia menyuapi dirinya sendiri. Sampai akhirnya satu piring makanan, dihabiskan oleh mereka berdua.
Selesai menyuapi, Regan mengembalikan tempat makan ke dapur villa. Kemudian dia kembali ke kamar menghabiskan waktu bersama dengan istrinya.
"Aku merindukan Al, sebaiknya kita hubungi Bryan dan Shea," pinta Selly.
"Hai mommy." Suara Shea terdengar saat menerima sambungan teleponnya. Ponsel diarahkan ke wajah Al dan membuat wajah bayi kecil itu terlihat di layar ponselnya.
"Anak mommy," ucap Selly saat melihat wajah anaknya. "Anak mommy pintar, bukan?" tanyanya lagi.
"Anak mommy pintar, tenang saja." Shea yang mendapati pertanyaan Al, menjawab pertanyaan tersebut.
"Bagus, anak mommy pintar," jawab Selly, " mommy merindukan kamu, Sayang," imbuhnya.
"Ya ampun, Kakak. Kakak tenang saja, Al akan baik-baik saja," jawab Shea yang mendengar ucapan Selly. Dia mengarahkan layar ponsel padanya
"Iya, aku yakin anak aku akan aman denganmu." Selly tersenyum mendengar Shea kesal.
"Iya, sudah, sebaiknya kalian nikmati saja bulan madu, anak-anak akan aman denganku."
"Baiklah." Selly pun mematikan sambungan telepon pada Shea. Kemudian dia memberikan ponselnya pada Regan.
"Dia aman, bukan?" tanya Regan.
"Sudah jangan pikirkan, Al akan baik-baik saja saat bersama dengan Shea dan Bryan.
"Iya." Selly hanya merasa sangat takut karena ini pertama kalinya dia jauh bersama dengan Bryan dan Shea.
__ADS_1
***
"Siapa?" tanya Bryan yang baru saja menghangatkan susu.
"Kak Selly."
"Untuk apa dia menghubungi?" Bryan merasa heran, kakaknya itu sedang berbulan madu, tetapi sempat-sempatnya menanyakan anaknya.
"Dia merindukan Al," jawab Shea.
Terkadang Bryan merasa bingung dengan pikiranya pada wanita. Karena begitu rumit. Padahal jelas saja, kakaknya sedang menikmati bulan madunya.
"Oh suruh saja di jangan pergi, jika dia merindukan anaknya," ucap Bryan polos.
"Kamu, mereka juga butuh waktu berdua, apalagi Kak Selly baru saja sadar dari koma setelah berbulan-bulan."
"Iya, aku tahu," jawab Bryan pasrah. Dia ikut duduk di samping Shea dan melihat ke arah anaknya yang sedang asik bergumam.
"Memberikan kesempatan orang lain untuk bahagia, akan mendatangkan kebahagiaan padamu," ucap Shea menenangkan suaminya.
"Kamu selalu saja bisa membuatku tenang," ucap Bryan mendaratkan kecupan di pipi Shea seraya memeluknya.
Shea tersenyum melihat Bryan.
Bryan beralih pada Al dan El. "Cepat sembuh, Sayang," Bryan mendaratkan kecupan di pipi gembul El.
Agar Daddy cepat bisa berduaan, bergantian dengan Mommy Selly dan Daddy Regan.
Saat asik mengecup El, tangan mungil Al meraih pipi Bryan, seolah dia meminta untuk dikecup juga. Satu kecupan pun mendarat di pipi Al, agar tidak membuat bayi kecil itu iri.
"Kapan mereka akan pulang?" tanya Bryan pada Shea.
.
.
.
.
...Jangan lupa kasih...
...like...
...komentar...
...vote...
...( vote ambil tiap Senin)...
__ADS_1
...Hadiah...
...( Hadiah bisa ambil dipusat misi gratis)...