
Shea dan Lisa terlalu sibuk menyiapkan sarapan pagi sampai tidak ingat pada tiga manusia yang masih tepar di halaman belakang. Shea pikir … Bryan pasti membawa mereka tidur di paviliun karena tidak kembali ke rumah sampai pagi. Baby El juga masih tidur karena semalam agak rewel. Mungkin karena daddy-nya tidak ikut di tidur bersamanya seperti biasa.
Asisten rumah tangga yang sedang menyapu di ruang tamu datang ke dapur agak buru-buru. "Bu, di depan ada tamu …."
"Siapa?" tanya Shea sambil meletakan ayam goreng ke meja makan.
"Saya kurang tahu, Bu. Wajahnya mirip oppa Korea tercemar orang Bule. Dia membawa anak kembar."
"Kembar?" Lisa menyerngitkan dahinya, terkejut. "Itu pasti anakku," lanjutnya.
"Tolong suruh masuk saja, Bi." Shea langsung berlari begitu mendengar suara tangis El dari dalam kamarnya. Sementara Lisa langsung melepas apron, lalu ke depan untuk memastikan siapa yang datang.
"Bunda!" teriak dua bocah itu. Benar dugaan Lisa, Rico datang bersama dua anak piranha. Mereka berdua langsung berlari ke arah Lisa.
"Pak Rico ngapain ke sini?" tanya Lisa dengan tatapan menghardik. Sedikit kesal juga melihat kedatangan Rico. "Kau merindukan suamiku, ya?" lanjutnya kesal.
"Jangan sembarangan bicara, aku di sini ada perlu dengan penghuni rumah ini."
Tak lama kemudian, Shea datang sambil menggendong baby El. Si kembar langsung bersembunyi di balik tubuh Lisa saat melihat kehadiran orang baru yang nampak asing.
"Siapa ya?" tanya Shea dengan suara lembut. Ia melirik dua bocah kembar di samping Lisa. Shea memutar memorinya sedikit. Ia ingat cerita Bryan, bahwa Farhan merawat dua anak kembar yang sekarang menjadi anak yatim piatu karena orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dia merasa miris melihat nasib dua bocah kembar itu. Sampai tak sadar tangannya langsung mengerat seolah takut dipisahkan dengan buah hatinya, El. Reflek naluri seorang ibu.
Setelah itu, Shea mengajak tiga tamu tak diundang itu untuk duduk. Shea juga memberikan mainan milik El agar si kembar anteng bermain tanpa mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
Pria asing itu tersenyum ke arah baby El. Lalu kembali menatap Shea dengan bahasa tubuh sopan. "Perkenalkan, nama saya Rico, asisten Tuan Farhan. Saya datang kesini untuk memberikan hadiah kepada anak kalian dari tuan Farhan."
Shea melirik map coklat yang baru saja Rico sodorkan ke arahnya. Dia menyerngit bingung. "Hadiah apa ya?"
Wanita itu semakin bingung. Karena biasanya, hadiah untuk bayi yang baru lahir lebih ke bentuk barang. Bukan map coklat yang tidak tahu isinya apa.
"Itu hanya saham Revical Group senilai 0,2 persen, Nona."
"0,2 persen?" Lisa yang duduk di samping Shea melongo tidak percaya. Karena Shea merasa tidak enak, dia langsung berbisik di telinga Lisa, lalu bertanya berapa nilai saham tersebut.
Lisa ikut berbisik juga untuk memberi tahu jumlah saham 0,2 persen tersebut.
"200 Milyar?" Shea melongo takjub. Buru-buru dia menyodorkan mam coklat itu kembali. "Maaf, saya tidak bisa menerimanya, Pak Rico. Hadiah ini terlalu banyak untuk El."
__ADS_1
"Terimalah, saham itu sudah dijanjikan oleh Tuan Farhan sejak bayi Nona belum lahir. Tuan Farhan berjanji, jika suami Nona berhasil menghentikan kebiasaannya meniduri setiap wanita, Tuan Farhan akan memberikan kado itu untuknya. Tuan Farhan rasa, bayi kalian adalah bukti taubatnya suami Anda, Nona."
Shea nampak ragu-ragu. "Tapi—"
Rico menyela cepat. "Kado itu sudah disepakati secara bersama. Nona tidak perlu sungkan menerimanya."
Shea masih menimbang hadiah yang diberikan oleh Farhan. "Sebaiknya saya tanyakan dulu kepada suami saya." Shea tidak mau menerima tanpa seizin Bryan.
"Baiklah."
Shea berdiri dan menuju ke paviliun melalui taman belakang untuk mencari Bryan. Dia ingin memberitahu suaminya itu tentang hadiah dari Farhan.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat taman belakang sudah porak-poranda. Kulit kacang tercecar di mana -mana. Botol minuman yang sudah kosong pun berada di meja dan beberapa berada di lantai.
"Apa-apaan ini?" tanyanya bingung. Yang lebih membuat Shea terkejut adalah tiga pria yang terkapar tak berdaya.
Matanya semakin membulat sempurna saat melihat Bryan yang tidur mendekap Farhan. Juga Felix yang tidur di rerumputan.
"Bibiiiii," pekik Shea pada asisten rumah tangganya.
Asisten rumah tangga datang dengan tergopoh-gopoh saat mendengar suara Shea yang terkesan murka.
"Baik, Bu." Asisten rumah tangga itu segera pergi untuk membawa El dan dua anak kembar yang masih berada di ruang tamu.
Lisa dan Rico bingung saat mendengar Shea meminta si kembar untuk ke kamar bayi. Wanita itu masuk ke dalam rumah lagi, lalu menggiring anak-anak masik ke ruang bermain.
"Kalian main dulu ya sama dedek El," ucap Lisa pada si kembar.
Dua anak kembar itu pun senang, dan tidak menolak. Mereka mengikuti asisten rumah tangga masuk ke dalam kamar bayi.
"Apa yang terjadi?" Lisa langsung mengikuti Shea ke ruang belakang. Sementara Rico yang sudah tahu bentuk kacaunya seperti apa hanya mengedikkan bahu. Ikut ke ruang belakang dengan gaya santai.
"Bryan … Bryan ... bagun kamu!" Tangan Shea mengoyang-goyangka tubuh Bryan. Tak ada panggilan sayang karena Shea benar-benar kesal.
Bryan yang mendengar suara Shea melenguh. "Sayang, aku masih mengantuk," ucapnya. Dia mengeratkan pelukannya pada Farhan yang dikiranya Shea.
Shea dibuat tercengang dengan kelakuan suaminya.
__ADS_1
Apa denganku dia kurang? tanya Shea dalam hati. Dia merasa geli saat suaminya memeluk Farhan seperti memeluknya.
"Bryan ... bangun!" Suara Shea sudah meninggi.
Lisa yang mendengar Shea berteriak terkejut. Dia tidak menyangka jika Shea yang tampak kalem bisa berubah garang seperti macan.
Suara Shea benar-benar tidak membuat Bryan dan bahkan dua pria lainnya bangun. Akhirnya dia yang sudah hilang kesabaran mengambil ember bekas pel, mengisi dengan air kolam yang berada di sebelah taman.
Bryur ....
Shea menguyur tubuh Bryan. Karena Farhan ada di sebelah Bryan. Pria itu pun terkena siraman air.
Mereka berdua terbatuk-batuk. Namun, Farhan dan Bryan sama sekali tidak mampu bangun lagi.
"Percuma saja Nona, mereka sudah mabuk berat. Persiapkan saja kamar khusus yang jauh dari jangkauan anak-anak, saya akan membawa suami Anda dan si biang kerok itu." Mata Rico memicing sinis ke arah Felix.
"Apakah Anda sudah sering melihat kejadian ini? Sepertinya Anda sudah paham betul tentang kegiatan tahunan mereka bertiga. Aku pikir hanya pesta biasa, tidak sampai segila ini." Shea mengepalkan tangannya kesal. "Semua ini pasti ulah Felix," lanjutnya murka.
Rico menghela pelan seraya berkata, "Tidak ada yang perlu disalahkan, Nona. Mereka memang sama-sama berubah jadi gila kalau sudah berpesta seperti ini."
"Kupastikan ini yang terakhir kalinya!" geram Shea.
Wanita itu menatap Lisa yang sepertinya tidak marah dan terlihat santai membuat dokumentasi. "Kamu tidak kesal, Lis?" tanya Shea penasaran.
"Untuk apa aku marah pada orang yang tidak sadar! Lebih baik aku membuat dokumentasi. Video gila ini bisa kujadikan senjata kapan saja," ucap wanita muda kelulusan universitas Harvard itu.
"Kalau begitu kirimi aku videonya juga. Aku benar-benar kesal." Shea membanting ember di tangannya sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai seperti bocah.
Benar yang dikatakan Lisa, marah pada orang mabuk tidak ada gunanya sama sekali.
.
.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote ya...