My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Membayar waktu


__ADS_3

Regan mengerjap. Semalaman dia tidur di kursi tepat berada di samping Selly. Membuka matanya sempurna, tangannya seraya merenggangkan otot-otot yang pegal.


Saat membuka matanya, dia melihat Selly yang terpejam. Nyawanya yang belum terkumpul sempurna, membuatnya terkejut saat melihat istrinya yang tertidur.


"Sayang," panggil Regan. Dia ingin memastikan jika yang terjadi padanya kemarin bukanlah mimpi.


Selly yang mendengar suara Regan, mengerjap. "Sayang," panggilnya.


Helaan napas terdengar saat melihat mata Selly terbuka dan suara Selly terdengar. "Aku pikir semalam yang terjadi hanya mimpi." Dia menangkup wajah Selly dengan kedua tangannya, dan menempelkan dahinya karena merasa sangat senang, saat mendapati jika semua bukanlah mimpi.


"Kamu tidak bermimpi," ucap Selly.


"Baiklah, aku akan minta perawat menyiapkan air, dan aku akan membasuh tubuhmu, setelah itu kita akan bersiap untuk ke rumah sakit."


"Em … bisakah aku meminta perawat saja yang membersihkan tubuhku," ucap Selly lirih. Jika kemarin dia tidak bisa menolak Regan yang membersihkan tubuhnya, kini saat dirinya bisa bersuara, dia memilih menolak.


"Memang kenapa?" tanya Regan dengan senyuman.


"Aku malu," jawab Selly lirih.


Regan langsung tergelak. "Kenapa harus malu?"


"Lihatlah tubuhku begitu kurus, benar-benar tidak enak dipandang mata," jawab Selly.


"Seperti apa dirimu, kamu adalah istriku. Tanggung jawabku menjagamu dan merawatmu. Jadi jangan berkata seperti itu!" Regan menatap pada Selly dengan senyuman di wajahnya, dan membuat Selly tidak bisa menolak.


Regan pun mengambil air untuk membersihkan tubuh istrinya.


Saat ke dapur dia berpapasan dengan Shea. "Apa Al masih demam?" tanyanya.


"Setelah minum obat semalam, panasnya mulai reda, dan mungkin karena dia banyak minum jadi membantu meredakan panasnya juga."


Regan bersyukur anaknya sudah lebih baik. "Terima kasih."


"Jangan seperti itu, Kak! Kita keluarga harus saling membantu."


Terkadang Regan mensyukuri saat kejadian yang dilakukan oleh Bryan, membuatnya membawa wanita baik yang sedang berdiri di hadapannya itu, menjadi bagian keluarganya.


Aku akan membantu menjelaskan pada Bryan.


Satu hal yang akan dia lakukan adalah meluruskan masalah tuduhan adik iparnya itu. Dia tidak mau membuat rumah tangga adik ipar mendapat masalah hanya karena dirinya.


"Kalau begitu aku kembali dulu ke kamar." Shea yang membawa susu hangat kembali ke kamar untuk memberikan susu pada dua bayi kecil.


"Iya." Regan juga melanjutkan langkahnya mengambil air hangat untuk di waskom untuk membersihkan tubuh istrinya.

__ADS_1


***


Shea yang masuk kamar mendapati dua jagoan kecil sedang berlomba, mengeluarkan suara tangis.


"Sayang, untung kamu cepat datang." Bryan dari tadi menenangkan dua bayi kecil itu pun akhirnya kewalahan.


Tanpa bicara pada Bryan, Shea memberikan botol susu pada Bryan, sedangkan Shea sediri juga membawa satu botol susu. Mereka berdua meriah tubuh kecil baby Al dan El dan memberikan susu, dan akhirnya dua bayi itu pun diam dan sibuk dengan dot mereka.


"Apa kamu masih marah?" tanya Bryan ragu-ragu.


Shea memilih mengabaikan suaminya dan menatap baby El yang berada di pelukannya. Jika ditanya marah atau tidak sebenarnya Shea tidak marah. Dia hanya kecewa saat suaminya menuduhnya. Padahal jauh sebelum tuduhkan itu, dia sudah berusaha meyakinkan.


"Aku tahu, aku salah, tapi mengertilah posisiku." Dengan nada frustrasi Bryan menjelaskan pada Shea.


Shea bukan tidak mau mendengarkan atau memahami suaminya, tetapi dia masih teramat kecewa saat Bryan tidak percaya cintanya. "Kamu memintaku memahami kamu? Lalu apa kamu bisa memahami aku yang kecewa saat rasa cintaku diragukan?"


Bryan menghela napasnya. Dia membenarkan ucapan Shea. Dirinyalah yang meragukan cinta Shea hingga menuduhnya.


"Jika kamu percaya jika aku mencintaimu, aku rasa tuduhan seperti kemarin tidak akan pernah terjadi."


"Sayang, maafkan aku." Bryan menyadari sebesar apa rasa cinta Shea. Jika menelisik balik kehidupan mereka. Shea tidak akan mau menerimanya dengan segala apa yang telah dia lakukan kecuali memang karena dia mencintai dirinya.


"Maaf kali ini aku butuh waktu, untuk menenangkan diri." Shea belum bisa memaafkan Bryan semudah itu. Dia mau maaf itu benar-benar tulus dari hatinya, bukan hanya dari mulutnya saja.


Mata Bryan membulat sempurna mendengar ucapan Shea. "Apa kamu akan pergi dari rumah?" dia benar-benar takut Shea akan meninggalkannya.


Bryan hanya tersenyum. Dia memang menduga itulah yang akan Shea lakukan saat membutuhkan waktu menenangkan diri.


"Sebesar apa masalah kita, aku tidak akan melangkahkan kakiku keluar dari rumah," ucap Shea dengan tegas.


Bryan merasa lega, Shea tidak akan pergi dari rumah. Kini dia membiarkan dulu kemarahan Shea mereda, seraya dia membujuknya pelan-pelan nanti. Otaknya pun sudah terlintas beberapa ide membujuk istrinya itu.


***


Di kamar Regan membersihkan tubuh istrinya. Selly merona saat tubuhnya dibersihkan oleh suaminya. Dia teramat malu saat tangan suaminya membersihkan tubuhnya. Suaminya itu melakukan dengan hati-hati, apalagi di bagian perut Selly, di mana tempat operasi saat melahirkan Al.


Regan pun lansung memakaikan baju Selly sesaat setelah membersihkan tubuh istrinya.


"Apa kamu tidak merindukan aku? Em … maksud aku …." Selly bingung menjelaskan maksudnya.


Tangan Regan yang sedang mengancingkan baju Selly, berhenti. Dia beralih menatap Selly. "Cinta bukan hanya sekedar nafsu belaka." Dia melanjutkan mengancingkan baju yang dipakai Selly.


"Tetapi semua pria pasti membutuhkan hal itu?" ucap Selly lirih.


"Kamu benar, apalagi aku sudah merasakan kenikmatan, jadi wajar aku menginginkannya," jawab Regan.

__ADS_1


Selly menundukan pandangan, dia tahu sebesar apa kebutuhan Regan dan penantiannya.


"Aku mencintaimu, jadi aku akan berusaha menunggu hal itu. Menahannya untuk tidak melebihi batasanku." Batasan yang dimaksud Regan adalah wanita lain, yang mungkin bisa saja dia jadikan tempat untuk melampiaskannya.


Tangan Regan menarik dagu Selly, dia mendaratkan satu kecupan di bibir istrinya itu. "Cepatlah sembuh, karena kamu harus membayar waktu yang sudah aku gunakan untuk menunggu," ucapnya tersenyum penuh arti.


Selly hanya tersenyum malu mendengar ucapan suaminya.


***


Setelah bersiap, Regan membawa istrinya itu ke rumah sakit. Di temani Bryan dan kedua mertuanya dia menuju ke rumah sakit dengan mengunakan ambulan yang sudah dia pesan sebelumnya.


Di rumah sakit dokter sudah menunggu Selly untuk diperiksa. Para dokter merasa sangat senang saat ternyata Selly bisa sadar. Mereka tidak menyangka jika keajaiban akhirnya terjadi setelah hampir empat bulan Selly koma.


Para dokter mengecek keadaan Selly dan melakukan CT Scan untuk melihat keadaan Selly. Dokter jantung, dokter saraf dan di bantu oleh beberapa dokter lainnya turut ambil bagian memeriksa Selly.


Salah satu dokter menjelaskan pada Regan tentang keadaan Selly. "Sejauh ini, perkembangannya sangat bagus, Pak, hanya saja karena tubuh Ibu Selly sudah lama tidak digerakkan mengakibatkan sedikit kaku, jadi akan dilakukan terapi untuk mengembalikan keadaannya kembali normal."


Regan bersyukur, ternyata tidak ada banyak hal buruk. "Baiklah, saya akan menemani terapi istri saya."


"Saya akan buatkan jadwal khusus untuk Pak Regan membawa Bu Selly terapi. Akan tetapi tetap di rumah, Bapak juga harus membantu Ibu Selly."


"Baik, Dok."


Bryan, Melisa dan Daniel yang mendengarnya merasa senang karena keadaan Selly sangat baik dan hanya tinggal memulihkan tubuhnya yang sudah lama tidak digerakkan.


.


.


.


.


.


...Baca lagi info untuk masuk grup di bab Info...


...Bab 56...


...Jangan lupa berikan...


...Like...


...Komentar...

__ADS_1


...Vote...


__ADS_2