
Di dalam kamar, Regan menatap Selly lekat. Perasaannya lega saat ternyata istrinya menunjukan perkembangannya. Baginya itu sudah memberikan harapan kecil untuknya.
"Sejak kapan kamu sadar?" tanya Regan seraya mengecup punggung tangan Selly.
Aku bangun saat mendengar tangis kamu, Sayang. Aku bangun saat kamu merasa tidak terima saat dokter mengatakan aku sudah tidak ada harapan. Aku bangun saat kamu yakin aku masih hidup.
Telinga Selly mendengar semua ucapan Regan. Namun, dia hanya bisa menjawab dalam hatinya. Suaranya benar-benar tidak bisa keluar dari tenggorokannya, padahal dia sudah berusaha mengatakan dengan sekencang-kencangnya.
Walaupun tidak mendapati jawaban dari istrinya, Regan terus saja berbicara. "Sejak kapan pun kamu sadar, yang terpenting aku akan selalu menunggumu untuk bangun."
Terima kasih kamu sudah mau menunggumu. Aku pun juga ingin segera bangun. Menjalani hidup bahagia bersama kamu dan anak kita.
Selly sendiri tidak tahu kapan dirinya akan bangun. Dia hanya bisa berharap Tuhan bisa memberikannya kekuatan untuk membuka matanya.
"Kamu tahu, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa menerima jika kamu pergi." Regan kembali mengingat bagaimana dirinya yang tadi begitu emosi mendengar ucapan dokter. "Aku sudah pernah kehilanganmu sekali, dan aku tidak mau kehilangan lagi."
Mendengar ucapan suaminya, Selly tahu sebesar apa rasa cinta Regan. Ingin rasanya Selly segera memeluk suaminya itu, dan mengatakan betapa beruntungnya dirinya.
"Kamu tahu. Jika dulu saat kamu pergi, aku tidak menangis, karena aku yakin bisa membawamu kembali. Namun, kali ini, aku menangis, karena aku takut tidak bisa membawamu kembali."
Selly mengingat bagaimana dulu dirinya pergi dari Regan, dan pria dingin itu pun berusaha mendapatkannya kembali.
"Tetapi untungnya, saat aku menangis kamu tidak melihatnya. Karena jika kamu melihat, aku tahu reaksi apa yang akan kamu tujukan."
Selly sedikit menertawakan suaminya. Suaminya yang dingin itu, kini berubah melow karena dirinya.
Saat sedang bersama istrinya, Regan mendengar suara pintu terbuka. Saat menoleh, dia melihat mama mertuanya yang sedang masuk.
Melisa begitu lega saat Bryan mengatakan jika Selly sudah ada pergerakan. Dia pun memberikan baby El pada Shea karena ingin melihat putrinya di dalam.
"Re … " panggil Melisa pada Regan yang berada di dalam kamar.
Regan berdiri dan memeluk mama mertuanya. Menguatkan mama mertuanya yang terlihat sama rapuhnya dengannya. "Selly akan segera sadar, Ma. Dia akan segera bangun."
"Mama berharap begitu, Re," jawab Melisa. Dia pun beralih duduk di samping Selly.
"Sel … apa kamu mendengar mama, Nak?" Melisa menggenggam tangan Selly.
Ma … Selly dengar suara mama.
"Mama rindu kamu, Sayang. Cepatlah bangun!" Melisa hanya bisa menunggu keajaiban Tuhan yang akan membangunkan putrinya.
Aku akan bangun, Ma, aku janji akan bangun untuk kalian semua. Aku juga merindukan mama.
Melisa mengecup dahi Selly. Dia berharap putrinya merasakan betapa dirinya merindukannya. Selesai menemui putrinya, Melisa keluar dari kamar, dia bergantian dengan Lana untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Lana yang masuk langsung memeluk putranya. Dia mencoba menguatkan putranya. "Bersabarlah, mama yakin istrimu akan kembali." Dia beralih pada menantunya. Bagi Lana, Selly tidak hanya menantu, tetapi juga anak baginya.
Dengan belaian lembut di pucuk rambut menantunya, Lana memanjatkan doanya agar menantunya itu akan segera sadar. "Mama berharap kamu cepat bangun, Sayang. Ada kami yang begitu merindukanmu."
Ma … terima kasih untuk doanya. Selly juga merindukan kalian semua.
Lana pun keluar setelah selesai menemui menantunya. Di luar Lana melihat suasana sudah tenang. Sudah tidak ada kepanikan di antara mereka semua.
"Kamu mau masuk, Sayang?" tanya Bryan pada istrinya, dan istrinya mengangguk
Bryan meraih baby El yang dari tadi digendong oleh Shea. Dia memberikan ruang untuk istrinya menemui kakaknya.
Shea masuk ke dalam kamar. Saat masuk dia melihat Regan yang sedang duduk di samping Selly.
"Apa Al di luar?" Regan yang melihat Shea teringat dengan anaknya. Dia ingin mengajak anaknya untuk bertemu dengan mommy-nya.
"Al sedang tidur, Kak." Shea menjelaskan pada Regan. Melangkah maju, dia menghampiri Selly.
Regan mengangguk mendengar penjelasan tentang anaknya dari Shea. Dia berdiri dan memberi ruang untuk Shea berbicara dengan Selly, tetapi Shea melarangnya. "Duduk saja, Kak. Biarkan aku duduk di tepi tempat tidur."
"Iya." Regan kembali mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping tempat tidur.
"Apa Kakak sudah sadar?" tanya Shea menatap jari jemari Selly. Di sanalah tadi Bryan mengatakan jika kakaknya memberikan respon saat mendengar suara.
Shea … panggil Selly saat mendengar suara adik iparnya itu.
Regan yang melihat Shea menangis menyadari jika hubungan istrinya dengan Shea sudah seperti adik dan kakak.
"Sayang, apa kamu tahu, selama ini yang menjaga anak kita adalah Bryan dan Shea." Regan menjelaskan pada istrinya walaupun dia tidak mendapatkan jawaban.
Shea menatap Regan yang sedang menjelaskan pada istrinya. "Ini sesuai janji kita berdua, Kak."
Kamu menjaga anakku, Se? Kamu menepati janji kita yang akan menjaga anak-anak kita jika salah satu dari kita tidak bisa.
Selly merasa sangat senang, adik iparnya itu menuruti keinginannya. Dulu saat dia mendengar jika ada penyakit jantung dalam tubuhnya. Dia sudah merasa takut, hingga mengatakan akan hal itu pada Shea.
"Tetapi aku sudah mulai kerepotan, jadi cepatlah bangun!" Shea melanjutkan ucapannya.
Se, terima kasih sudah menjaga anakku. Aku tidak menyangka jika kamu akan menjaganya demi aku.
"Kamu dengarkan, Sayang, jadi cepatlah bangun," ucap Regan pada Selly.
Shea yang melihat Regan begitu rapuh, langsung membelai punggungnya. "Kak Selly pasti akan segera bangun, Kak." Dia berusaha untuk menguatkan Regan.
Bersamaan dengan itu, suara pintu terdengar dibuka. Shea dan Regan pun menoleh dan mendapati Bryan yang masuk dengan membawa Al bersama dengannya. Bayi kecil itu menangis.
__ADS_1
Bryan yang membawa Al untuk menemui kakaknya melihat tangan Shea yang berada di bahu Regan. Namun, istrinya itu segera melepaskan tangannya dan berdiri menghampiri dirinya yang meraih baby Al yang menangis.
"Tadi dia menangis," ucap Bryan, "jadi aku bawa kemari."
"Anak mommy kenapa nangis?" tanya Shea menepuk halus tubuh Al.
"Mungkin dia haus," jawab Bryan.
Selly yang mendengar suara anaknya merasa sangat sedih. Saat anaknya menangis, dirinya tidak bisa menenangkannya. Apalagi memberikannya susu.
Sayang anak mommy ....
"Baiklah, aku akan menyusuinya dulu, sepertinya da sudah terlalu kesal karena haus," ucap Shea.
"Kak, bisakah aku di sini bersama dengan kak Selly?" Shea beralih pada Regan.
Regan mengerti jika Shea akan mendekatkan anaknya pada istrinya. Dia pun mengangguk dan keluar bersama Bryan.
"Apa Kak Selly dengar suara anak kakak menangis?" tanya Selly.
Aku dengar, Se ….
"Anak Kakak laki-laki, nama Aaron Alexander Maxton," ucap Shea seraya membuka kemejanya sedikit dan menyusuinya.
Anak aku laki-laki?
Selly merasa senang ternyata Tuhan memberinya anak laki-laki. Dia juga merasa senang, Regan memberi nama anaknya sesuai yang dia buat dulu.
"Dia sekarang sedang menyusu." Shea menceritakan apa yang sedang dia lakukan. "Apa kakak tahu, dia begitu kuat minum susu."
Selly hanya bisa membayangkan apa yang sedang anaknya lakukan.
"Cepatlah bangun, karena semakin lama kakak tidur, aku akan semakin kurus karena dua anak laki-laki kita minum terlalu kuat." Shea menyelipkan tawanya saat berucap. Dia harap kakak iparnya itu mendengar.
Aku juga ingin bangun, Se. Bersamamu menjaga anak-anak kita.
Di dalam kamar, Shea menceritakan perkembangan Al pada Selly. Walaupun kakak iparnya itu tidak menjawab, tetapi dia berharap kakak iparnya mendengar.
.
.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote...