
Tak terasa umur El dan Al sudah mencapai empat tahun. Dua pria kecil itu sudah tumbuh besar. El tumbuh sebagai pria kecil yang periang. Dia begitu pandai berbicara dan selalu menerapkan apa yang diucapkan mommy-nya, sedangkan Al tumbuh menjadi pria kecil yang pendiam, tetapi menyimpan kepintarannya yang tak kalah dengan El. Al tumbuh seperti daddy-nya yang tak banyak bicara jika memang tidak diperlukan. Bertolak belakang dengan El yang banyak bicara.
Al dan El kini sudah memasuki sekolah taman kanak-kanak. Shea dan Selly tidak mau anak-anak menghabiskan waktu di rumah saja, jadi mereka memilih menyekolahkan anak mereka lebih awal. Di sekolah mereka bisa belajar sambil bermain. Bertemu dengan banyak teman dan membuat mereka senang.
Selama dua tahun ini, Shea menunggu kehadiran anak yang tak kunjung tiba. Niatnya untuk memiliki anak setelah usia Al dan El dua tahun, justru kandas karena sampai usia El dan Al empat tahun, tak ada tanda-tanda kehadiran anak.
Saran dari dokter pun selalu Bryan dan Shea jalani, tetapi semuanya nihil. Setiap jadwal datang bulan terlambat, Shea selalu mengeceknya dengan tes kehamilan. Entah sudah berapa tes kehamilan yang dipakainya jika sudah dua tahun dia sering menggunakannya.
Namun, bagaimana Bryan memberikan semangat, membuat Shea tidak pernah merasa lelah untuk mengecek dengan tes kehamilan.
Seperti pagi ini, Shea kembali mengecek mengunakan tes kehamilan. Semalam, suaminya kembali membeli tes kehamilan untuk ke sekian kalinya.
Shea yang berada di kamar mandi menunggu tes kehamilan berubah garisnya. Namun, belum sampai garisnya berubah suara ketukan pintu dan teriakan El mengalihkannya.
Tak mau membuat anaknya menunggu, dia meletakkan tes kehamilan di dekat wastafel dan keluar kamar mandi.
"Apa Sayang?"
"Aku mau mandi, Mommy. Lalu aku mau ke lumah Fleya."
Shea tak habis pikir dengan anaknya itu. Pagi-pagi sekali dia sudah ingin pergi ke rumah tetangga sebelah. Maklum saja, hari ini El libur sekolah, jadi dimanfaatkan untuk bermain pagi-pagi.
"Ya sudah, ayo mandi dulu." Shea mengajak El untuk ke kamarnya.
Selesai bersiap, El berpamitan untuk pergi ke rumah Freya. Shea melarang karena masih terlalu pagi dan lagi pula El belum sarapan. Namun, bukan namanya El jika tidak bisa menjawab.
"Nanti Mommy telepon saja Mama Chika, nanti aku pulang untuk makan."
Shea hanya bisa pasrah. Anaknya itu persis dengan Bryan jika berdebat, tak mau kalah. Jadi Shea mengalah dari pada pagi-pagi harus berdebat. Dia mengantarkan anaknya ke depan rumah. Melihatnya dari kejauhan El yang sedang menuju rumah Chika dan Felix. Saat sudah memastikan anaknya masuk ke rumah temannya itu, dia masuk ke dalam rumah.
"Sayang-sayang … " panggil Bryan.
Shea yang masuk dikagetkan dengan teriakan Bryan. Mata Shea membulat saat suaminya keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk di pinggang. Buru-buru Shea menghampiri suaminya itu.
__ADS_1
"Apa kamu gila keluar dari kamar hanya memakai handuk?" Shea mendorong tubuh Bryan untuk masuk ke kamar. Tak mau sampai asisten rumah tangganya melihat.
"Iya, aku sudah gila." Sampai di dalam kamar, Bryan langsung berbalik dan memeluk Shea.
"Sayang badan kamu basah," protes Shea yang melihat badan Bryan yang masih basah karena baru saja selesai mandi.
"Apa kamu tahu aku senang sekali?"
"Memangnya kamu senang kenapa?" Dahi Shea berkerut dalam.
"Memangnya kamu tidak tahu?"
"Mana aku tahu kamu senang kenapa." Shea tidak mengerti apa sebenarnya yang membuat suaminya senang.
"Memang apa yang kamu lakukan tadi?"
"Tadi aku di kamar mandi dan setelah itu El memanggil karena hendak mandi. Jadi aku memandikan El."
Bryan tahu sekarang jika istrinya itu belum tahu. Dia menangkup wajah istrinya, agar istrinya itu fokus memandanginya.
Shea terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. "Kamu itu bicara apa?"
Bryan melepas tangannya yang menempel di pipi Shea. Kemudian menunjukan alat tes kehamilan yang ditemukannya di kamar mandi tadi. "Lihat ini."
Mata Shea membulat sempurna melihat dua garis yang ditunjukan oleh Bryan.
"Kamu hamil, Sayang." Bryan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Shea, merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Shea masih termangu, tak percaya dengan apa yang dilihatnya dan didengarnya. Penantiannya selama dua tahun kini terjawab hari ini. Setiap bulan dia selalu menyiapkan hati untuk melihat apa hasil dari tes kehamilan. Namun, baru kali ini dia dibuat lemas tak kuasa merasakan keterkejutan.
"Apa kamu tidak senang?" Bryan yang melihat istrinya terdiam, bertanya.
"Aku hanya terkejut. Aku kira hasilnya akan negatif seperti biasanya."
__ADS_1
"Hasilnya positif, Sayang. Kamu hamil." Bryan menatap Shea dan meyakinkan istrinya itu.
Shea langsung memeluk Bryan. Air matanya mengalir, tak menyangka jika ternyata dia hamil. "Tapi aku mau cek dulu ke dokter kandungan agar yakin jika benar aku hamil," ucapnya seraya melepas pelukannya.
"Baiklah, kita akan cek ke dokter kandungan." Bryan setuju dengan ide Shea. Menurutnya itu adalah cara tepat memastikan.
"Aku akan hubungi Chika untuk menitipkan El di sana." Shea mengambil ponselnya dan menghubungi Chika.
"Halo, Se."
"Halo, Chika. Apa El di sana?" Shea memastikan kembali anaknya di sana.
"Iya, dia sedang bermain di sini."
"Baiklah, aku titip El dulu ya, karena aku harus ke Rumah sakit."
"Kamu sakit?" tanya Chika.
"Tidak, aku hanya ingin cek saja."
"Cek apa?" Chika masih penasaran alasan Chika.
"Cek kehamilan." Shea di seberang sana menjawab lirih.
"Kamu hamil?"
"Tadi pagi aku mengecek dan aku mendapati dua garis merah."
"Wah … aku ikut senang. Baiklah, pergilah ke Rumah sakit. Aku akan menjaga El."
"Iya terima kasih." Shea mematikan sambungan telepon, kemudian dia bersiap untuk ke dokter, memastikan kehamilannya.
.
__ADS_1
.
.