My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Penyebabnya.


__ADS_3

"Kurang tahu," jawab Shea seraya menaikan bahunya. "Mungkin dua atau tiga hari," tambahnya.


Bryan memikirkan jika sampai tiga hari kakaknya pergi berarti rencananya akan gagal. Dia memutar otaknya untuk memikirkan cara agar kakaknya itu cepat pulang.


Aku akan tanyakan saja nanti, kapan mereka pulang.


"Sepertinya El sudah reda demamnya," ucap Bryan yang mengecek suhu tubuh anaknya.


"Iya, sepertinya dia demam karena rencana kita yang akan pergi ke berlibur." Shea yang memikirkan penyebab anaknya demam pun menduga akan hal itu.


"Memangnya bisa seperti itu?" Bryan menatap Shea tidak percaya.


"El tidak pernah lepas dari kita, tidak pernah jauh dari kita, jadi wajar dia begitu ketakutan hingga demam," jawab Shea.


Bryan masih memandang tidak percaya ucapan Shea.


"Ikatan batin, jadi semacam hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika." Shea menjelaskan pada Bryan.


Bryan hanya mengangguk. Sebenarnya dia tidak mengerti tetang ikatan batin yang dijelaskan Shea. Beralih melihat anaknya. "Kamu tidak mau Daddy dan Mommy pergi?" tanyanya.


Bayi kecil itu bergumam, menjawab daddy-nya.


Menatap ke samping, Bryan menatap keponakannya. Dia menyadari jika keponakannya sudah biasa ditinggal kedua orang tuanya, jadi dia tampak tenang.


Benar kata Shea, jika mungkin ikatan batin lebih kuat. Mungkin nanti jika Kak Selly sudah sepenuhnya sembuh, Al akan sama seperti El yang tidak bisa jauh dari ibunya.


"Jaga anak-anak, aku akan membuat kue," ucap Shea seraya berdiri.


"Ada angin apa kamu ingin kue?" Bryan menengadah menatap Shea yang sudah berdiri.


"Entah, aku hanya pingin saja," jawab Shea, "rasanya ingin saja aku makan kue," lanjutnya menjelaskan.


"Jangan-jangan kamu hamil?" Bryan menatap lekat bola mata Shea, menduga-duga apa yang terjadi pada istrinya.


"Jangan bercanda, kamu sudah tahu kalau aku selalu ke dokter untuk suntik penunda kehamilan," jawab Shea.


Bryan tersenyum memamerkan deretan giginya. "Iya juga," jawabnya.


"Mungkin karena sedang akan datang bulan, jadi aku menginginkan sesuatu."


Mata Bryan membelalak. "Apa orang datang bulan juga nyidam?" tanyanya tidak percaya.


"Iya." Shea menjawab seraya melangkah menuju ke dapur.


Saat mengingat masalah nyidam, Bryan mengingat tentang pembahasan dengannya waktu bersama Regan. "Kata Kak Regan, El yang selalu mengeluarkan liur karena kamu sewaktu hamil kamu ingin sesuatu yang tidak tercapai, apa itu benar?"


Shea yang mendapati pertanyaan itu kembali menghampiri Bryan. "Iya," jawab Shea dengan pasti.

__ADS_1


Bryan benar-benar terkejut saat mendengar jawaban Shea. Seingatnya, dia selalu menuruti keinginan istrinya itu. "Apa yang kamu inginkan, tetapi tidak terpenuhi?"


"Steak." Satu makanan yang Shea sebutkan.


"Steak?" Bryan mengulang kembali satu makanan yang disebut oleh Shea. Dia memutar memorinya mengingat kapan Shea tidak makan Steak. "Kapan?"Bryan yang tidak menemukan kepingan memorinya bertanya.


"Apa kamu lupa dengan steak yang kamu makan?" Shea mencoba mengingat Bryan kapan dirinya tidak makan makanan yang diinginkan.


Bryan mencoba mengingat kapan dirinya makan steak milik Shea. Akhirnya dia teringat dengan kejadian di apartemen, di mana dia menemukan steak di atas meja. "Tetapi bukan waktu itu aku sudah menggantinya?" Dia balik bertanya pada Shea.


"Aku ingin malam itu, jadi sekalipun kamu ganti tetap saja beda rasanya." Shea mengingat bagaimana kekesalannya dulu saat sedang ingin makan steak, tetapi seketika steak itu raih.


"Jadi aku penyebabnya?" tanya Bryan memastikan.


"Iya." Shea menjawab dan langsung berlalu ke dapur.


Seketika Bryan melihat ke arah El yang sedang bergumam dan menyemburkan air liurnya. Dia terkesiap melihat bibir anaknya yang penuh dengan semburan air liur.


Shea yang di dapur tertawa. Dia melihat jelas bagaimana reaksi Bryan yang begitu terkejut dengan ucapannya.


Anak-anak memang begitu, sebenarnya bukan faktor ibunya yang tidak makan apa waktu hamil.


Shea tidak menjelaskan pada Bryan, tetapi menyimpannya untuk dirinya sediri. Dia senang sekali melihat wajah menyesal Bryan yang memakan makanannya dulu.


***


"Kamu semalam diam saja, menangis karena demam, sekarang tertawa terbahak-bahak," ucap Bryan yang gemas dengan anaknya. Dia mendaratkan kecupan di pipi El.


"Kalau begitu Daddy janji tidak akan pergi tanpa kamu, tetapi janji ya, harus tidur yang pulas, biar Daddy bisa bekerja."


"Sayang … " teriak Shea yang mendengar pembicaraan Bryan.


Bryan langsung menutup mulutnya saat ketahuan membuat konspirasi dengan anaknya.


"Ini janji pria sejati ya," ucap Bryan berbisik dan menarik kelingking El yang mungil.


Al yang berada di samping El meraih tangan Bryan.


"Kamu mau berjanji juga?" tanya Bryan. Dia menarik jari kecil Al dan menempelkannya.


Bryan melanjutkan dengan bermain dengan dua bayi kecil. Dengan tengkurap dan menghadap dua bayi kecil itu, dia membacakannya sebuah buku cerita yang dibeli Shea.


Shea selalu berkata, tidak masalah jika anak-anak belum bisa berbicara dan mengerti, tapi dia akan jadi pendengar yang baik.


Benar saja dua bayi itu akan diam saat mendengar daddy atau mommy berbicara. Saat Bryan berhenti mereka akan berusaha meraih buku yang dibawa oleh Bryan.


Saat sedang asik bermain, Bryan mengendus bau-bau tidak sedap. Dia mengecek popok dua bayi kecil itu, dan mendapati jika El buang air besar. "Sayang … El puppy," ucap Bryan berteriak memanggil Shea.

__ADS_1


"Aku sedang membuat adonan, jadi kamu saja yang ganti." Dari dapur suara Shea terdengar berteriak.


Bryan bergidik ngeri saat harus mengganti popok El yang penuh dengan kotoran, biasanya dia memang hanya mendapati El yang pipis. Namun, mengingat Shea yang sedang membuat adonan kue, pikirannya justru melayang membayangkan tangan Shea yang selesai membersihkan El.


"Oke Daddy yang akan membersihkannya saja." Bryan berdiri dan mengambil popok dan perlengkapan untuk membersihkan tubuh El. Dengan telaten dia membersihkan tubuh anaknya. Membuat nyaman anaknya dengan popok baru.


Meninggalkan status seorang CEO Adion Company, di rumah Bryan hanya ayah dan suami. Mengerjakan pekerjaan yang juga dikerjakan oleh Shea. Jadi pesuruh dengan bayaran cinta, semua dikerjakan Bryan dengan senang hati.


"Wah … Daddy sudah hebat," puji Shea yang melihat Bryan sudah selesai membersihkan tubuh anaknya.


"Daddy 'kan Daddy yang sempurna." Bryan membanggakan dirinya.


"Karena Daddy yang sudah sangat hebat, kue yang dibuat Mommy spesial untuk Daddy," jawab Shea tersenyum. Bagi Shea tidak ada kebahagiaan selain melihat Bryan yang begitu berubah.


"Terima kasih." Bryan mendaratkan kecupan di pipi Shea.


Mereka berdua menuju ke meja makan untuk menikmati makan kue yang dibuat oleh Shea. Al dan El di letakan di stroller dan menunggu sang mommy dan daddy sedang menikmati kue. Bayi empat bulan itu memang belum bisa makan.


"Em … enak sekali," jawab Bryan merasakan kue yang masuk ke dalam mulutnya.


"Syukurlah jika kamu suka." Shea tersenyum melihat kue buatannya enak, tetapi seketika senyumannya surut. Dia meringis kesakitan dan memegangi perutnya.


"Sayang kenapa?" tanya Bryan. Matanya kemudian beralih pada kue yang dimakannya. "Apa kuenya yang menyebabkan sakit?" Dia menghampiri Shea dan mengecek keadaan Shea.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa kasih...


...like...


...komentar...


...vote...


...( vote ambil tiap Senin)...


...Hadiah...


...( ambil di pusat misi gratis)...

__ADS_1


__ADS_2