
Dari dalam rumah seorang anak kecil berlari keluar saat mendengar mobil terparkir di depan rumahnya. Sedari tadi dia sudah menunggu, bertemu dengan kakak-kakaknya yang sekolah.
"Kakak … " panggil Ghea yang melihat kakaknya pulang sekolah. Anak kedua dari Bryan dan Shea itu kini berusia tiga tahun. Cantik dan centil, begitulah orang-orang menjulukinya. Terlahir menjadi anak dan cucu perempuan satu-satunya menjadikan anak kecil itu begitu penuh kasih sayang. Terlebih lagi dari dua kakaknya El dan Al.
El yang baru saja turun dari mobil Selly melihat adiknya memanggil menoleh. Dia merentangkan tangannya menunggu sang adik masuk ke dalam pelukannya untuk digendong. El yang sekarang berusia delapan tahun itu sudah duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.
Ghea tak membuang kesempatan untuk lari lebih kencang dan masuk ke dalam pelukan kakaknya. "Kakak." Dia begitu senang saat tubuhnya di tangkap oleh El. Kakaknya itu memang begitu menyayanginya.
"Adek, kenapa langsung minta gendong Kak El." Shea yang berada di belakang Ghea memperingatkan anaknya.
"Tidak apa-apa Mommy." El tak mempermasalahkan adiknya yang berada di pelukannya.
"Hanya Kak El saja yang dipeluk." Suara datar Al terdengar saat membuka pintu mobil. Sama seperti sang daddy-nya, Al sering berbicara datar tanpa banyak ekspresi. Namun, untungnya wajah tampan khas warga asing yang membingkai wajahnya, membuatnya tetap mempesona di usia delapan tahun.
Ghea langsung turun dari gendongan El dan menuju ke gendongan Al. Bermanja-manja dengan kakaknya.
El tersenyum melihat tingkah adiknya. Kemudian menghampiri mommy-nya dan mendaratkan kecupan di perut mommy-nya. "Adek lagi apa?" tanyanya.
Shea tersenyum. Bryan benar-benar mengajari anaknya bagaimana menjadi kakak yang hebat untuk adik-adiknya. Hingga kadang Shea merasa anaknya tumbuh lebih dewasa dari usianya.
"Adek tadi main bola Kakak." Shea menjawab pertanyaan mewakili.
Ini adalah bulan kesembilan dan masuk trimester akhir untuk kehamilan Shea. Ibu dua anak itu, kini sedang menanti anak ketiga.
Bryan yang tak mau hanya punya dua anak berusaha terus membujuk Shea untuk hamil lagi. Hingga akhirnya setelah Ghea sudah tidak menyusu lagi, Shea melepas alat pencegah kehamilan.
"Mommy." Dengan menggendong Ghea, Al menghampiri Shea dan membelai perut Shea.
"Bagiamana lombanya?" Tangan Shea membelai rambut Al dan bergantian pada rambut El.
"Seperti biasa El menang." Selly yang keluar dari mobil berteriak.
__ADS_1
"El memang selalu hebat saat menggambar," ucap Al seraya menurunkan Ghea.
"Kakak Al juga hebat main caturnya. Jadi jangan berkecil hati. Karena keahlian kalian berbeda-beda."
"Iya, Mommy." Al tersenyum.
Keluarga Adion dan Maxton tak ada yang pernah membandingkan anak satu dengan yang lain. El yang hebat menggambar selalu mendapat pujian saat menang, begitu juga Al yang hobi sekali main catur, memasang strategi adalah ahlinya. Dia pun juga akan mendapatkan pujian saat menang.
"Piala." Ghea yang melihat piala di tangan Selly memintanya. "Boleh untuk Ghea?" tanya Ghea ragu-ragu dengan El.
El mengangguk dan tersenyum. Memberikan apa yang diminta adiknya.
Shea dan Selly saling pandang. Senang melihat anaknya begitu akur. Tak pernah berebut apa pun. Saling berbagi dan mengalah satu dengan yang lain.
**
Di kamar, Bryan sedang menemani El dan Ghea belajar.
"Daddy kalau aku sudah besar, aku ingin sekolah di luar negeri." El berceloteh menceritakan keinginannya.
"London. Apa aku boleh sekolah di sana."
Seperti mendapatkan durian runtuh, keinginannya yang ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri seolah terbuka saat anaknya sendiri yang meminta. "Tentu saja, nenek dan kakek punya rumah di sana. Jadi kamu bisa tinggal di sana suatu hari."
"Terima kasih, Daddy." El memeluk Bryan. Setahun lalu dia pergi bersama keluarganya besarnya untuk ke London. Melihat kota London, dia begitu jatuh cinta dengan negara kerajaan Inggris itu.
"Ghea?" tanya Ghea polos.
"Ghea nanti sekolah di mana saja boleh." Bryan membelai lembut rambut anaknya.
"Ghea tidak mau jauh dari Daddy dan Mommy."
__ADS_1
Bryan tersenyum, anak perempuannya memang tak terlalu berani. Dia cenderung penakut. "Iya, kamu sekolah di sini saja."
Selesai belajar, Bryan membacakan dongeng untuk kedua anaknya. Bryan-seorang cassanova di jamannya, kini sudah berubah menjadi ayah dua anak, dan sebentar lagi akan berganti ayah tiga anak.
Pria yang dulu sering menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting, kini lebih menghargai waktu, karena waktu tak akan diulang kembali. Menemani tumbuh kembali anak-anaknya adalah caranya menghargai waktu. Baginya, tumbuh kembang sang anak tidak akan terulang kembali dan kesempatan itu tak akan terulang kembali.
"Akhirnya, mereka semua bahagia." Bryan mengakhiri ceria dan menutup buku ceritanya. Tampak dua anaknya sudah tidur pulas di tempat tidur masing-masing. Bryan bangkit dan merapatkan selimut anak-anaknya. Kemudian menuju kamarnya lewat pintu penghubung kamarnya dan anaknya.
"Kamu belum tidur?" tanya Bryan yang melihat Shea terbangun. Tadi Shea meminta Bryan menemani anak-anaknya, karena pinggangnya begitu sakit.
"Aku terbangun karena pinggangku pegal."
Bryan menghampiri istrinya dan membelai lembut punggung istrinya. Dengan usia kandungan sembilan bulan, wajar istrinya sudah merasakan sakit di tubuhnya. Beban tubuhnya sudah mulai berat menopang kehamilannya.
"Apa mau dimajukan waktu operasinya?" Bryan sudah tak tega melihat istrinya pegal.
"Tidak perlu. Kita ikuti jadwal sesuai yang dokter berikan saja."
Bryan mengangguk. "Setelah ini, aku tidak mau punya anak lagi." Melihat istrinya, Bryan benar-benar tidak tega.
"Benarkah?" Shea berbinar. Padahal waktu hamil yang ketiga, Bryan masih dengan pendiriannya ingin anak lagi.
"Iya, Sayang," jawab Bryan dengan merdu.
Shea merona mendengar panggilan sayang yang begitu tampak indah saat didengarnya. Apa yang dilakukan suaminya itu memang membuatnya selalu jatuh cinta.
"Tapi buatnya tidak boleh berhenti." Bryan mengedipkan matanya. Menggoda istrinya yang sudah merona. Karena tak bisa menyentuh istrinya, Bryan harus rela memeluk saja. Semakin bertambah usia seorang Bryan, pemikiran dewasanya semakin mendominasi.
Segala hal tak melulu diukur dengan pertemuan dua tubuh. Begitulah pedomannya sekarang. Karena bahagia keluar tak melulu soal ranjang.
.
__ADS_1
.
.