My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Harapan palsu


__ADS_3

Perjalanan menuju ibu kota ditempuh dengan waktu tiga jam. Bryan langsung menuju ke rumah Selly dan Regan.


Sesampainya di rumah Selly sudah tampak banyak orang. Ada Regan, Daniel, Melisa, Lana dan Erik. Dari semua orang hanya Andrew-papa Regan yang tidak datang, karena dia memang sedang sakit dan dirawat di rumah.


"Wah … cucu kesayangan sudah datang," ucap Melisa saat melihat Bryan dan Shea datang. Dia menghampiri anak dan cucunya. Dia pun meraih baby El dalam gendongannya.


Lana yang melihat cucunya pun tak mau kalah dengan Melisa. Dia meraih baby Al dalam gendongannya. Melepas rindunya, dia mendaratkan kecupan di pipi cucunya.


Sudah sejak lama Lana jarang sekali berkunjung. Suaminya yang harus dirawat di rumah, membuatnya memberatkan merawat suaminya dibanding cucunya. Lagipula sudah ada Shea dan Melisa yang sedang baik menjaga cucunya.


"Apa dokter belum datang?" tanya Bryan pada sang mama.


"Erik bilang sehabis makan siang," jawab Melisa.


Bryan dan Shea mengangguk. Mereka masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.


"Sebaiknya kalian makan dulu!" ucap Melisa pada Bryan dan Shea.


Mata Bryan dan Shea tertuju pada meja makan yang tertata rapi makanan di atasnya. Namun, makanan tersebut tampak utuh. Bryan dan Shea menduga, jika semua keluarga sedang berdebar menunggu hasil pemeriksaan dokter. Jadi tidak ada satu pun dari mereka yang merasa lapar atau mungkin lebih parahnya, mereka tidak bisa menelan makanan karena menunggu hasil pemerikasaan.


"Kami masih kenyang, Ma, nanti saja kami makan," elak Bryan.


Melisa pun hanya mengangguk. Bryan dan Shea adalah orang kesekian yang menolak tawaran makan darinya. Seperti halnya yang lain, putranya itu juga merasakan berdebar menunggu kakaknya diperiksa.


Mereka semua menunggu dengan perasaan tidak karuan. Harapan mereka adalah jika Selly akan bisa sembuh seperti dulu.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya para dokter datang. Kali ini adalah pemeriksaan general kesehatan Selly, jadi banyak dokter yang datang.


"Siang, Pak Regan." Salah satu dokter mengulurkan tangan dan menyapa Regan.


"Siang, Dok."


"Kami akan memeriksa keadaan ibu Selly." Dokter langsung mengutarakan niatannya.


"Baiklah, silakan!" Regan mengarahkan dokter menuju ke kamar Selly.

__ADS_1


Karena dokter cukup banyak, akhirnya hanya Regan, Bryan dan Daniel, yang masuk. Para wanita memilih menunggu di luar. Karena ada bayi-bayi bersama mereka.


Masuk ke dalam kamar, dokter memeriksa keadaan Selly. Erik turut serta membantu dokter-dokter yang memeriksa kakak iparnya itu.


Di sudut kamar, Regan, Bryan dan Daniel menunggu para dokter yang sedang memeriksa Selly. Mereka begitu berdebar saat dokter memeriksa Selly.


Bryan menguatkan Daniel yang tampak juga cemas. Dengan merangkul papanya, Bryan membantu papanya itu agar tenang.


Cukup lama dokter memeriksa Selly. Dari kejauhan, Regan, Bryan dan Daniel melihat gelengan kepala dari dokter. Mereka tidak bisa mengartikan apa yang terjadi dan mereka tidak mengerti dari gelengan kepala sang dokter. Dalam hati kecil mereka, hanya bisa berdoa jika semua baik-baik saja.


Sampai akhirnya mereka selesai memeriksa keadaan Selly, dan menghampiri Regan, Bryan dan Regan.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Regan.


"Maaf, Pak, dengan berat hati kami mengatakan jika keadaan Bu Selly tidak ada perkembangan."


Regan menautkan alisnya. Matanya memicing seolah mencerna ucapan dari dokter. Bryan dan Daniel pun tak kalah bingung dengan ucapan dokter.


"Apa maksud Dokter?" Regan memperjelas kembali ucapan dokter.


Jantung Regan serasa dihantam benda keras. Tubuhnya seketika lemas mendengar ucapan dokter. Air matanya tak tertahan lagi. Dia tidak bisa menerima semua yang dijelaskan oleh dokter.


Sakit di hati juga dirasakan oleh Daniel. Mendengar putri satu-satunya dinyatakan tidak akan sembuh membuat dia benar-benar hancur.


Melihat papanya yang begitu hancur Bryan memeluk papanya. Walaupun hatinya sama hancurnya menerima kenyataan jika kakaknya tidak akan selamat, dia berusaha untuk tetep kuat untuk papa dan mamanya.


"Dok, lakukan sesuatu, saya akan bayar berapapun asalkan istri saya sembuh." Suara Regan bergetar. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Dia memohon pada dokter untuk menyelamatkan istrinya.


"Dok, selamatkan putriku." Daniel yang tampak rapuh pun juga menangis. Dia memohon pada dokter seperti yang dilakukan oleh menantunya


"Kak … paman," panggil Erik pada Regan dan Daniel.


"Rik, katakan pada teman-teman doktermu ini untuk menyelamatkan istriku." Tatapan Regan penuh pengharapan pada Erik. Dia berharap jika Erik mau membantunya.


"Kak, dokter sudah memeriksa dengan baik keadaan kak Selly, dan yang dikatakan dokter sudah sesuai dengan hasil pemeriksaan mereka." Erik mencoba menjelaskan pada Regan.

__ADS_1


Regan tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih tidak terima dengan apa yang dijelaskan oleh sepupunya itu.


"Jadi kami menyarankan untuk melepas alat penunjang yang selama ini terpasang di tubuh Bu Selly." Suara salah satu dokter terdengar saat semua sedang sibuk dengan perasaanya.


Mata Regan membulat sempurna mendengar ucapan salah satu dokter. Kemudian tatapannya berubah penuh tatapan tajam yang siap menghujam jantung. "Apa maksud, Dokter? Apa Dokter meminta saya melepas kepergian istri saya sendiri?" Suara Regan meninggi. Emosinya memuncak saat salah satu dokter menyuruhnya mengakhiri hidup istrinya.


"Kak, tenangkan dirimu!" Erik berusaha menenangkan Regan yang diliputi emosi.


"Tenang kamu bilang!" Regan menatap tajam pada Erik. Kilatan kemarahan terlihat jelas dari kedua bola matanya. "Dokter memintaku mengakhiri hidup Selly kamu bilang aku harus tenang!" Ingin rasanya Regan melayangkan bogem mentah pada sepupunya itu. Namun, kesadarannya masihlah sangat penuh.


Erik tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Dia sadar jika kakak sepupunya itu sedang sangat emosi.


"Aku tidak akan melepas alat-alat itu!" Dengan tegas Regan mengambil keputusannya.


"Tetapi Pak, dengan dipasang alat hanya akan memberikan harapan palsu pada Bapak dan keluarga saja, padahal sebenarnya Bu Selly kemungkinan sudah tidak ada," ucap salah satu dokter.


Regan yang terpancing emosi sudah ingin menghampiri salah satu dokter yang berbicara dengannya itu. Namun, buru-buru Erik menahannya. "Kak, tenangkan dirimu!"


Regan hanya bisa menangisi apa yang terjadi pada istrinya. Dia benar-benar tidak bisa melepaskan orang yang begitu dia cintai.


Daniel pun sama dengan Regan. Air matanya mengalir saat mendapati kenyataan jika putrinya akan meninggal jika alat-alat yang melekat dilepaskan.


"Pa … tenanglah." Di tengah hatinya yang hancur, Bryan mencoba menenangkan papanya. Sebagai orang tua Bryan tahu bagaimana perasaan papanya.


Regan hanya mengusap wajahnya yang begitu kacau. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


.


.


.


.


...Jangan lupa like dan vote yang banyak ...

__ADS_1


...biar author semangat...


__ADS_2