My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Akhirnya matanya terbuka


__ADS_3

"Aku milih Al dan El," ucap Shea seraya melepaskan cengkraman tangan Bryan. Dia berlalu mengendong El dan membawanya ke rumah Selly.


Bryan hanya terdiam di tempat dia berpijak. Dia melihat Shea yang menghilang dari pandangannya.


Sesaat kemudian dia melihat ponselnya yang masih tersambung. Dia menempelkan ponsel di telinganya. "Apa Kakak puas?" tanya Bryan.


"Aku puas."


Mata Bryan membulat sempurna saat mendengar suara yang sangat dia hapal. Tanpa menunggu lama, dia berlari keluar dari kamarnya untuk mengejar Shea.


Di luar Bryan melihat Shea masih di luar rumah. "Ayo cepat ke mobil!" ucapnya pada Shea.


Shea terkesiap mendengar ucapan Bryan. Dia hanya berpikir jika mungkin Bryan tersadar saat mendengar ucapannya.


Di dalam perjalanan Bryan memikirkan apa dia tidak salah mendengar suara yang dia dengar.


Sampai di rumah Regan. Bryan dan Shea langsung masuk ke dalam rumah. mereka menuju kamar Selly.


Tangan Bryan meraih handle pintu. Entah kenapa dia merasa begitu berdebar. Dia berharap jika suara yang dia dengar tidaklah salah.


Saat pintu terbuka benar yang dipikirkan oleh Bryan dan suara yang dia dengar tidaklah salah. "Kak Selly," ucapnya.


"Kak Selly," ucap Shea yang terkejut melihat kakak iparnya dengan mata yang terbuka. Dia memberikan El yang berada di pelukannya kepada Bryan, dan langsung berlari menghampiri Selly. Air matanya mengalir begitu saja saat merasakan bahagia saat melihat kakak iparnya.


Shea langsung memeluk Selly. "Kakak," ucapnya.


"Iya, ini aku," Suara lirih Selly terdengar. Air matanya juga mengalir saat melihat adik iparnya. Namun, dia tidak bisa memeluk Shea, karena tubuhnya belum bisa digerakkan.


"Kakak sudah sadar?" tanya Shea memastikan.


"Iya, aku sudah sadar."


"Kapan Kakak sadar?" Shea yang seharian tidak ke rumah Selly, benar-benar kehilangan moment melihat kakak iparnya sadar.


"Aku akan menceritakan nanti," jawab Selly, "tapi sekarang tolong berikan susu untuk Al, dia masih demam, dan tidak mau minum susu."


"Apa tadi waktu Kak Regan menghubungi Kakak sudah sadar?" tanya Shea memastikan.


"Iya, aku yang meminta Regan menghubungimu," jelas Selly.


Suara Al yang berada di gendongan Regan pun membuat Shea beralih pada bayi kecil yang sedang demam itu. Dia meraih Al dalam pelukan Regan. "Anak mommy sakit ya?" tanyanya pada baby Al. Dia pun membawa baby Al ke kamar bayi.


Sebelum ke kamar bayi, Shea meminta babysitter untuk membawa El, karena takut bayi kecil itu menangis.


Akhirnya di dalam kamar tinggallah Bryan, Regan dan Selly.


"Sayang, bisakah kamu ambilkan semua bantal sofa itu," pinta Selly pada Regan.


Regan yang mendengarkan permintaan istrinya langsung mengambil bantal sofa. Ada sekitar tiga bantal yang dia bawa. Dia tidak mengerti kenapa istrinya meminta bantal sofa. "Ini untuk apa, Sayang?" tanya Regan.


"Lemparkan pada dia!" perintah Selly pada Regan. Matanya mengarah ke arah Bryan, yang artinya Bryan adalah orang yang dituju.

__ADS_1


"Hah …." Regan terkejut mendengar jika bantal itu digunakan untuk dilempar pada Bryan.


"Cepat!" pinta Selly. Suara Selly tidak terdengar keras, karena dia belum punya cukup tenaga.


Regan tidak punya pilihan lain. Dia melempar satu bantal pada Bryan. Namun, sayangnya tidak kena, karena Bryan sempat menghindar.


"Kak, kenapa Kak Selly meminta Kak Regan melempar bantal?" tanya Bryan.


Tanpa menjawab pertanyaan Bryan, Selly meminta kembali pada Regan untuk melempar bantal sofa di tangannya. "Lagi, lempar!"


Mendengar permintaan Selly, Regan melakukannya lagi. Hingga bantal yang berada di tangannya habis.


"Kak, kenapa meminta melempari aku bantal. Apa saat Kakak koma Kak kerasukan iblis di sana?"


"Iya, iblis seperti dirimu, yang merasuki aku!" ucap Selly. Dia benar-benar geram dengan adiknya.


"Mana ada iblis tampan macam aku," elak Bryan.


"Tampan?" tanya Selly, "apa gunanya punya wajah tampan tetapi tidak punya hati?" Selly mengatakan dengan penuh sindiran.


Bryan sudah menduga jika tadi pasti kakaknya mendengar suaranya yang berbicara dengan Shea saat disambungkan telepon.


"Sayang, jangan marah-marah seperti itu, tidak baik untuk kesehatan kamu." Regan yang melihat Selly meluapkan kekesalannya pun mencoba menenangkan istrinya itu.


"Iya, Kak jangan marah-marah," ucap Bryan, " sepertinya saat koma dia bertemu dengan malaikat pencabut nyawa atau mungkin penghuni negera, sehingga membuatnya marah-marah begitu," gumam Bryan.


"Apa kamu bilang?" tanya Selly mendengar Bryan bergumam, tetapi tidak mendengar apa yang digumamkan oleh Bryan.


"Aku akan buat perhitungan denganmu!" ancam Selly.


Bryan bergidik ngeri membayangkan kakaknya yang begitu kesal dengannya. Berbeda sekali dengan saat melihat Shea. Kakaknya itu menangis haru.


Sepertinya aku memang bukan anak kandung, atau mungkin dulu aku tertukar dengan Shea.


Bryan memikirkan perlakuan Selly begitu baik dengan Shea, tetapi galak dengannya, dan penuh amarah.


Sesaat kemudian dokter yang dihubungi Regan datang. Mereka langsung memeriksa keadaan Selly. Mama Melisa dan Papa Daniel yang dihubungi Regan pun sedang dalam perjalanan ke rumah Selly.


"Saya turut senang karena keadaan Bu Selly, untuk sementara saya belum bisa memeriksa keadaan seluruhnya, besok pagi sebaiknya Bu Selly di bawa ke rumah sakit untuk menjalani CT Scan mengingat tubuh Bu Selly belum bisa digerakkan."


"Baik, dok, saya akan membawa istri saya ke rumah sakit."


"Baiklah, kami permisi dulu." Dokter berpamitan dan keluar dari kamar Selly.


Shea yang baru saja selesai menyusui dan menidurkan dua bayi, kembali ke kamar Selly. Dia bersyukur kakak iparnya sudah sadar dan tinggal menunggu pemeriksaan lanjutan. "Kak, coba ceritakan bagaimana tadi Kak Selly bisa sadar?" Dia ingin tahu apa yang membuat kakak iparnya itu sadar.


Selly menatap Regan, meminta suaminya yang menceritakan bagiamana tadi Selly sadar.


Setelah dokter memeriksa Al yang demam, Regan meminumkan obat penurun panas. Namun, panas tubuh Al hanya berkurang sedikit. Dia berusaha untuk membuat Al dengan minum susu, agar suhu panasnya reda, tetapi sayangnya, bayi kecil itu menolak minum dari dot.


"Sayang, lihatlah anak kita menangis karena demam." Regan memberitahu Selly bagaimana keadaan anaknya.

__ADS_1


Selly yang mendengar hanya bisa menangis dalam hatinya, saat mendengar suara anaknya yang terus menangis.


Sayang maafkan mommy tidak bisa menenangkan kamu.


"Shea seharian ini tidak kemari, dan aku yakin Bryan melarangnya." Regan menyadari jika Bryan masihlah marah dengan dirinya.


Iya, seharian aku tidak mendengar suara Shea.


"Cup … cup … " ucap Regan menenangkan Al, tetapi sepertinya bayi kecil itu tetap tidak mau berhenti. Dia terus menangis.


Perasaan Selly begitu sakit mendengar suara Al yang menangis. Suaranya melengking mengisi keheningan kamarnya. Selly terus berusaha menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya. Tangisan anaknya begitu mendorongnya untuk terus berusaha.


"Sayang bangunlah! Bantu aku menenangkan anak kita." Regan benar-benar frustrasi.


Selly terus berusaha, hingga akhirnya setelah matanya terbuka. Namun, tubuhnya tetap tidak bisa bergerak.


"Sayang … " teriak Regan yang melihat Selly membuka matanya.


Selly berusaha membuka mulutnya, tetapi alat pernapasan yang berada di mulutnya membuatnya kesulitan berbicara. "Sa-sa-yang." Satu kata keluar dari mulut Selly.


Air mata Regan mengalir. Dia menghampiri Selly dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Selly. "Kamu sadar."


Al yang berada di pelukan Regan berada di dekat Selly. Untuk pertama kali dia melihat anaknya setelah melahirkan. "Anakku," ucapnya. Rasanya dia tidak menyangka jika dia masih bisa melihat Al. Air matanya mengalir merasakan kebahagiaan saat pertama kali melihat anaknya.


Regan mendekatkan wajah Al pada Selly, agar istrinya itu dapat menciumnya, dan untuk pertama kalinya Selly merasakan kulit lembut anaknya, tetapi sayangnya suhu tubuhnya yang panas membuat kulitnya panas.


"Hubungi Bryan," ucap Selly.


"Tapi - " Regan sendiri tidak yakin. Namun, melihat sorot mata Selly yang memohon membuat Regan akhirnya menghubungi Bryan.


Saat menghubungi nomer telepon Bryan, ternyata Shea yang mengangkat sambungan telepon. Regan pun mengaktifkan mode loud speaker dan menceritakan apa yang terjadi pada Al, dan akhirnya membuat Shea memutuskan untuk ke rumah Regan.


Suara telepon yang tidak terputus membuat Selly dan Regan mendengar percakapan Shea dan Bryan.


Saat suara Bryan bertanya dari sambungan telepon, Selly yang menjawab.


"Kamu tadi dengar suara Kak Selly?" tanya Shea pada Bryan. Dia tidak tahu jika suaminya sempat mendengar suara kakak iparnya, karena dalam perjalanan ke rumah Selly, Bryan tidak mengatakan apa pun.


"Aku mendengar, tetapi aku tidak yakin, hingga akhirnya aku melihat Kak Selly benar-benar sadar."


Shea beralih pada Selly. Air matanya mengalir kembali. Dia merasa senang saat kakak iparnya sudah sadar. "Kekuatan seorang ibu membuatmu kembali, Kak." Dari cerita Regan, Shea menyadari jika usaha Selly untuk anaknya begitu besar.


Selly hanya mengangguk. Dia merasa senang karena ternyata karena suara anaknya, karena suara tangis anaknya, dirinya bisa sadar kembali.


.


.


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan vote...


__ADS_2