
"Ma, bisakah mama tidak mengatakan kejadian ini pada Bryan?" pinta Shea.
"Kenapa?" Melisa menautkan kedua alisnya merasa heran.
Shea tidak mungkin mengatakan jika Bryan begitu cemburu dengan Regan. Apalagi Jessie menuduhnya menyukai Regan dan mengharapkan jika Selly meninggal. "Aku hanya tidak mau membebani pikirannya saja, Ma." Akhirnya alasan itulah yang dia pakai untuk diberikan untuk mamanya.
"Lagipula juga tidak penting kamu menceritakan pada Bryan kejadian ini," jawab Melisa, "lebih baik lupakan saja!"
Shea mengangguk. Dia bersyukur mama mertuanya berpikir seperti itu. Paling tidak dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
Lagipula kak Regan akan memecat Jessie, jadi sudah tidak ada masalah lagi bukan? Jadi biarkan saja masalah ini berlalu
"Baby Al dan El di mana?" Melisa yang teringat dengan kedua cucunya bertanya pada Shea.
"Mereka di kamar, Ma," jelas Shea, "tadi Shea menyuruh babysitter membawa mereka ke kamar."
"Bagus kalau mereka di kamar. Mama tidak bisa membayangkan mereka melihat mommy-nya sedang bertarung. Yang ada mereka akan ikut-ikutan," jelas Melisa tertawa.
Pipi Shea seketika merona. Dia malu mengingat mamanya yang melihat dirinya yang garang melawan Jessie.
"Sudah, mama mau melihat baby Al dan El dulu." Melisa tahu jika menantunya sangat malu. Dia tidak mau membuatnya semakin merona lagi. Dia berdiri dan melangkah menuju ke kamar bayi.
Shea yang ditinggal oleh mama mertuanya, juga ikut berdiri. Namun, dia bukan menuju ke kamar bayi melainkan ke kamar Selly. Setelah kejadian tadi memang belum ke kamar kakak iparnya.
Duduk di kursi samping tempat tidur Shea menggenggam tangan Selly. "Kak, aku harap Kakak tidak sedih mendengar ucapan Jessie." Satu hal yang ditakuti Shea adalah keadaan kakak iparnya. Kata-kata yang diucapkan Jessie pasti sangat melukai hati sang kakak.
Aku tidak apa-apa, Se.
Walaupun ada rasa sedih di hati Selly, tetapi dia merasa masih beruntung karena adik iparnya itu sudah sangat baik padanya. Melawan wanita iblis seperti Jessie demi dirinya.
"Aku benar-benar tidak ada hubungan dengan kak Regan seperti yang dikatakan Jessie. Itu hanya gosip murahan, Kak." Shea takut kakak iparnya mendengar dan menganggap ucapan Jessie benar.
Aku tidak akan sebodoh itu percaya dengan ucapan wanita iblis itu. Aku mengenal kalian berdua dengan baik, dan itu sudah membuatku yakin kalian tidak akan melakukan hal itu.
"Aku harap Kak Selly cepat bangun. Aku takut Bryan akan termakan gosip murahan ini," ucap Shea.
Mendengar ucapan Shea, Selly teringat curahan hati adiknya kemarin. Dia menyadari jika rumah tangga adiknya bermasalah karena dirinya.
Aku akan segera bangun, Se. Doakan aku ….
Satu keinginan Selly jika dirinya tidak mau sampai Bryan dan Shea menjadi korban atas dirinya yang tidak kunjung sadar.
__ADS_1
"Aku menyayangimu, Kak." Entah kata itu sudah berapa kali Shea ucapkan, tetapi baginya tidak ada habisnya dia mengucapkan rasa sayangnya pada salah satu wanita yang begitu dia sayangi setelah ibunya yang sudah meninggal dan mama mertuanya.
Aku juga menyayangimu, Se ….
****
Bryan yang pulang larut malam langsung menuju ke kamarnya dan membersihkan diri. Tidak adanya Felix membuat pekerjaannya semakin banyak.
Usai menyegarkan tubuhnya, dia duduk di sofa yang berada di kamar. Dari kejauhan dia melihat dua bayi kecil sudah tidur terlelap. Waktu memang sudah menunjukan jam sebelas malam, dan itu artinya memang sudah cukup malam.
"Sepertinya kamu lelah?" Shea meminta handuk yang dipakai Bryan untuk di jemur. Kembali ke sofa, dia duduk tepat di samping suaminya. Dia memijat bahu Bryan untuk meredakan lelah yang mendera suaminya.
"Iya. Tidak ada Felix sedikit membuatku kewalahan," jawab Bryan.
"Kamu baik sekali memijat aku?" ucap Bryan. Matanya terpejam merasakan pijatan lembut dari tangan Shea di bahunya.
"Seperti baru hari ini saja aku memijit?" sindir Shea.
Bryan hanya tertawa kecil mendengar sindiran Shea. "Apa mama tadi kemari?" Dia tahu jika mamanya tadi memang sedang ada urusan.
"Kemarin, tetapi sedikit siang," jelas Shea. Tangannya terus saja memijat bahu Bryan.
"Baiklah."
Bryan dan Shea menuju ke tempat tidurnya. Mereka mengapit baby Al dan El. Memberikan kehangatan bayi kecil mereka dalam dekapan.
***
Jessie yang datang ke kantor untuk memulai aktifitasnya bekerja, harus menghadap ke HRD. Dia tidak mengerti kenapa dirinya diminta ke ruangan HRD.
"Selamat pagi, Bu," sapa Jessie saat masuk ke dalam ruangan. Terlihat seorang wanita yaitu manager HRD yang sedang duduk di kursinya.
"Silakan masuk!"
Jessie masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi yang berada tepat di hadapan manager HRD.
"Ini untuk kamu." Manager HRD memberikan amplop pada Jessie.
Dahi Jessie berkerut dalam saat mendapat amplop dari manager HRD. "Ini bonus, Bu?" tanya Jessie polos.
"Bukan, ini slip gaji kamu bulan ini."
__ADS_1
"Gaji?" tanya Jessie kebingungan. Dia bingung kenapa slip gajinya diberikan lebih awal. "Maksudnya bagaimana?" tanya Jessie.
"Ini gaji kamu bulan ini dan di dalam amplop ini juga terdapat surat pemberhentian kamu. Jadi mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi di perusahaan ini." Manager HRD memberitahu Jessie perihal permintaan Regan.
"Maksudnya saya dipecat, Bu?" tanya Jessie memperjelas pada atasannya itu.
"Iya, ini permintaan Pak Regan dan saya hanya menjalankan perintah saja."
Jessie sudah tahu alasan kenapa dirinya dipecat. Dia sudah menduga jika mertua Regan dan Shea pasti sudah menceritakan tentang kejadian kemarin. "Apa tidak bisa menunggu sampai Pak Regan datang?" Dia berusaha mengulur waktu agar bisa berbicara dengan Regan dan meminta maaf.
"Maaf, Jessie, Pak Regan sudah mengatakan jika hari ini dia kembali, dan Pak Regan tidak mau melihat kamu masih berada di kantor." Dengan tegas manager HRD menjelaskan.
Jessie hanya bisa menghela napasnya. Dia menyadari jika ternyata dia sudah benar-benar dipecat.
"Saya harap kamu segera kemasi barang-barang kamu."
"Baiklah, Bu." Dengan berat hati akhirnya Jessie menerima amplop yang diberikan dan berlalu kembali ke meja kerjanya untuk merapikan semua barang miliknya.
Di meja kerjanya dia merapikan barang-barang miliknya. "Aku memang yang cari masalah, sudah tahu di kandang singa, kenapa aku juga seberani itu kemarin." Penyesalannya sudah tidak berarti apa-apa untuknya, karena kenyataanya kini dia sudah.
Saat sedang merapikan meja kerjanya. Dia mendengar suara telepon yang berdering. "Masih saja ada telepon," gerutu Jessie. Mau tidak mau dia harus mengangkat telepon yang ada. "Halo dengan Maxton Company di sini?" ucap Jessie. Walau dia sedang kesal dia masih bersikap profesional.
"Iya, Jessie, ini aku Bryan Adion." Suara dari sambungan telepon terdengar.
Bryan, batin Jessie. Dia seolah mendapatkan angin segar dari nama yang dia dengar.
.
.
.
.
...Jangan lupa...
...Like ...
...Komentar...
...Vote ...
__ADS_1