
Setelah ada pergerakan dari Selly, mama Melisa meminta Shea menjaga baby Al di rumah Selly, agar Selly bisa mendengar suara anaknya setiap hari. Mereka semua berharap dengan begitu Selly akan segera sadar.
Awalnya Bryan merasa berat karena itu membuat pertemuan Shea dan Regan akan terlalu sering. Namun, Bryan seolah tak bisa menolak, karena dia tidak punya alasan kuat untuk menolak permintaan sang mama.
Akan jadi hal lucu jika dirinya mengutarakan jika sebenarnya dirinya cemburu pada kakak iparnya. Sudah bisa Bryan pastikan jika semua orang akan tertawa dengan ketakutannya itu, karena mereka tahu seberapa besar cinta Regan pada Selly.
Pagi ini bukan lagi Regan yang mengantar baby Al ke rumah seperti biasa. Kini semua berganti, karena Bryan yang justru yang mengantar Shea dan El untuk ke rumah Selly.
"Da … daddy cayang," ucap Shea pada Bryan saat hendak turun dari mobil Bryan. Dia melambaikan tangan baby El untuk berpamitan dengan daddy-nya.
Bryan yang gemas langsung mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi gembul anaknya, yang begitu sangat mengemaskan. Bryan seolah tak pernah bosan menciumi anaknya. Sama halnya dengan mencium sang mommy, pipi gembul itu sudah jadi candu untuk Bryan.
"Sayang, hentikan nanti dia menangis." Shea menghentikan suaminya yang terus saja menciumi anaknya.
Mendapatkan teguran, Bryan langsung berhenti dan beralih pada Shea. "Kalau begitu mommy-nya saja," ucapnya. Dia mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada pipi Shea.
"Sayang," elak Shea diiringi tawa.
Baby El yang melihat daddy dan mommy-nya pun merasa kesal. Dia yang berada di pangkuan Shea melayangkan protes dengan bergumam. Tangan kecilnya mendorong tubuh Bryan yang menghalangi pandangannya.
"Sayang, lihat El mendorongmu," ucap Shea menghentikan aksi Bryan.
Bryan pun memundurkan tubuhnya dan melihat ke arah anaknya. Dia tertawa melihat anaknya yang bergumam seolah sedang memarahinya. Shea juga ikut tertawa saat mendengar gumaman El yang begitu sangat lucu.
"Sudah berangkatlah! Aku akan masuk ke dalam," ucap Shea.
"Baiklah, kamu hati-hati di sini," jawab Bryan.
Dahi Shea berkerut dalam saat mendengar ucapan Bryan yang aneh. Saat bersamaan dengan itu, dia teringat dengan berita yang dibaca Bryan tempo hari. "Apa waktu di hotel di puncak kamu membaca berita di ponselku?" tanya Shea ragu-ragu.
"Kamu membaca juga?" Bryan justru bertanya kembali pada Shea.
"Iya, aku membacanya, dan aku rasa berita itu sedikit merusak pikiranmumu!" ucap Shea dengan malas.
Seketika tawa Bryan terdengar saat mendengar ucapan Shea. "Pikiran siapa yang rusak?"
"Kamu!"
__ADS_1
Bryan menghela napasnya, yang dikatakan Shea memang ada benarnya, jika berita itu sangat mengangguk pikirannya.
"Aku dan kak Regan tidak ada hubungan apa pun. Jadi berhentilah dengan semua pikiran itu. Itu hanya akan membuatmu terus berburuk sangka."
"Jika dulu masa laluku tidak buruk, aku tidak akan setakut ini," ucap Bryan saat mengingat bagaimana dia mengingat kedekatan istrinya dan kakak iparnya.
"Hai …." Tangan Shea membelai pipi Bryan. "Masa lalu milikmu itu sudah berakhir. Sekarang hanya ada kita berdua. Masa depan kita." Shea menatap lekat bola mata abu milik Bryan.
"Tetapi aku takut? Aku takut kamu tertarik dengan kak Regan yang jauh lebih baik dari aku." Bayang-bayang Regan selalu menghantuinya, memberikan ketakutan tersendiri dia hatinya.
Shea menarik tangan Bryan. "Sayang …." Dia tahu hal itu wajar terjadi pada Bryan, karena dia merasa rendah diri.
"Aku mohon, jangan terlalu dekat," pinta Bryan.
Permintaan ini adalah bukan sekali diucapkan Bryan. Ingin rasanya Shea menolak, karena itu adalah hal yang tidak mungkin. Namun, melihat Bryan yang begitu mengharap. dia tidak tega.
"Aku akan mengurangi kedekatan dengan kak Regan." Hanya itu yang bisa Shea janjikan untuk saat ini. Dia tidak mau melukai suaminya, apalagi membuatnya berkecil hati.
"Terima kasih."
Shea mengangguk dan tersenyum pada suaminya. "Aku masuk dulu," ucap Shea. Dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Bryan.
Namun, mendapati janji istrinya, dia yakin istrinya akan menjaga diri agar tidak terlalu dekat dengan kakak iparnya.
Mata Bryan masih terus menatap Shea yang masuk ke dalam rumah. Sebelum melajukan mobilnya, Bryan melihat mobil kakak iparnya yang ternyata sudah tidak ada. Dia sedikit legam karena kakaknya sudah berangkat kerja.
Bryan menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya menuju kantornya.
***
Shea yang masuk ke dalam rumah Regan mendapati mama dan papa mertuanya yang ada di rumah Selly.
"Mama, papa sudah datang?" tanya Shea. Dia menghampiri mama mertuanya dan menautkan pipinya.
"Iya, mama tadi sengaja datang pagi karena tadi mama sekalian berbelanja. Rencananya, mama mau mengadakan makan malam keluarga di rumah."
"Oh … apa ada yang perlu Shea bantu?"
__ADS_1
"Sebaiknya nanti saja, kita temani dulu, dua jagoan kecil kita." Melisa meminta Shea meletakkan baby El di samping baby Al.
"Apa tadi Al berjemur?" tanya Shea pada babysitter. Shea memang meminta babysitter untuk menetap di rumah Regan. Pikirnya, Regan akan semakin kewalahan karena bayi kecil itu sudah mulai besar.
"Iya, Bu, tadi Al berjemur dengan Pak Regan."
"Sepertinya kak Regan berangkat lebih awal."
"Iya, Bu, tadi setelah menjemur baby Al, Pak Regan langsung berangkat."
"Iya, mama saja tadi tidak bertemu dengan Regan," timpal mama Melisa.
Shea mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Apa semalam baby Al menangis?" tanya Shea kembali pada babysitter.
"Tidak, Bu, sepertinya sekarang baby Al sudah mulai tidur dengan tenang di malam hari, karena saya tidak mendengar suaranya tangisnya dan Pak Regan juga tidak membangunkan saya."
Mendengar penjelasan babysitter, Shea merasa senang, karena ternyata baby Al juga seperti baby El yang sudah mulai banyak tidur, dan tidak terlalu banyak bangun.
Saat sedang asik melihat tawa baby Al dan El, Shea teringat dengan Selly. Dia pun berdiri dan membuka pintu kamar Selly yang memang terletak di dekat ruang keluarga.
Shea melangkah mendekat pada Selly. "Kak, apa suara anak-anak terdengar?" tanya Shea duduk di samping Selly.
Aku dengar, Se ….
Selly mendengar tawa bayi saat suara mama dan papanya menggoda mereka. Rasanya Selly merasa senang mendengar tawa anaknya yang bercampur tawa anak Shea. Walaupun dia tidak tahu, mana tawa anaknya. Namun, baginya akan sama saja, karena baginya kedua anak itu juga adalah anaknya.
"Aku akan membuka pintu kamar, jadi Kakak bisa mendengar suara mereka," ucap Shea. Dia pun berlalu keluar dan bergabung dengan mertuanya, setelah mengatakan hal itu pada Selly.
Selly pun mendengarkan suara riang keluarga dari dalam kamarnya. Suara tawa anaknya begitu membuatnya bahagia, dan itu semua mengobati rasa rindunya.
...Bersambung......
.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa like, koment dan vote ...