
Mendengar nama kakak iparnya disebut kembali saat sedang merasakan bahagia, membuat senyum Bryan surut. Entah kenapa dia begitu sensitif mendengar nama kakak iparnya itu disebut di tengah-tengah kebahagiaannya. "Kenapa dengan kak Regan?" tanyanya sinis.
"Tadi aku bilang akan menghubunginya saat Al bangun." Shea menjelaskan seraya berbalik mengambil ponsel Bryan. Dia mengusap layar ponsel suaminya itu dan membukanya. Mencari nomor telepon Regan, Shea menghubungi suami kakak iparnya itu melalui sambungan vidio.
Bryan hanya menahan gemuruhnya saat istrinya menghubungi kakak iparnya. Namun, dia tidak mau egois karena istrinya menghubungi karena keponakannya.
"Halo, Kak," ucap Shea saat sambungan vidio tersambung.
"Halo, Se," jawab Regan, "apa Al dan El sudah bangun?" tanya Regan.
"Iya, dia sudah bangun." Shea mengarahkan kamera pada dua bayi kecil di sampingnya itu.
"Halo, anak daddy Re, kalian sudah bangun rupanya." Suara Regan tampak senang saat melihat dua bayi yang selalu membuatnya rindu itu. Seperti halnya Bryan dan Shea yang menganggap Al anak mereka, begitu juga Regan menganggap El adalah anaknya juga.
Mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka, dua bayi itu pun mencari sumber suara.
"Lihat ini daddy Re," ucap Shea pada baby Al dan El seraya menunjukan gambar Regan di ponselnya.
Bryan menghela napasnya saat Shea memanggil kakak iparnya dengan sebutan 'daddy'. Namun, dia berusaha tenang. Dia tidak mau terpancing dengan emosi yang dia bangun sendiri di dalam hatinya.
Tak mau terpancing emosi, Bryan justru meraih ponsel milik Shea, dan memainkannya. Membuka laman berita dia membaca berita hari ini.
"Wah … anak daddy pasti senang ya jalan-jalan dengan daddy Bry dan mommy Shea?"
"Apa Kak Regan tahu, mereka tidak rewel sama sekali saat perjalanan ke kemari." Shea pun menceritakan pada Regan apa yang terjadi pada anak-anak saat perjalanan ke rumah.
"Berarti mereka menikmati perjalanan," jawab Regan, "nanti lain waktu kita ajak mereka bersama-sama jika nanti Selly sembuh," imbuh Regan.
"Tentu saja! Kita harus pergi bersama-sama dengan kak Selly saat dia bangun nanti." Rasanya Shea benar-benar merindukan kakak iparnya itu. Dia tidak sabar menanti akan hal itu.
"Iya kita akan pergi bersama-sama." Sama dengan Shea, Regan pun sudah tidak sabar menunggu hari itu. Regan melanjutkan bermain dengan dua bayi kecil itu dari sambungan telepon.
Bryan dari tadi hanya terdiam dan sesekali melirik. Perbincangan kakak ipar dan istrinya itu memang hanya seputar kegiatan dua bayi.
__ADS_1
Saat sibuk dengan ponselnya. Dia membaca laman berita yang menuliskan 'kakak ipar dan istri berselingkuh dan mengakibatkan suami gelap mata membunuh mereka'. Mata Bryan seketika membulatkan matanya melihat judul berita itu. Matanya dengan seksama membaca berita tersebut.
Seorang suami membunuh kakak ipar dan istrinya, saat melihat keduanya sedang asik berduaan. Diketahui sang suami baru mengetahui, jika kakak ipar dan istrinya menjalin hubungan. Karena tidak terima dia pun membunuh kakak ipar dan istrinya sendiri.
Bryan hanya bisa menelan salivanya saat membaca berita tersebut. Matanya beralih pada Shea dan Regan sedang asik bercerita keseruan baby Al dan El.
Apa mereka akan melakukan seperti ini?
Pertanyaan itu pun melintas di kepala Bryan. Namun, dia buru-buru menghilangkan pikirannya itu. Dia meyakini jika kakak ipar dan istrinya itu tidak akan melakukan hal itu.
"Sayang … sudah malam, besok kak Regan harus bekerja." Bryan memilih menghentikan obrolan kakak ipar dan istrinya agar perasaanya tidak semakin gelisah.
"Iya, benar juga," jawab Shea pada Bryan. Dia beralih pada Regan. "Sebaiknya Kak Regan istirahat. Besok Kakak bisa menghubungi lagi."
"Baiklah, selamat malam," jawabnya. Regan beralih pada baby Al dan El.
"Da … anak daddy sayang, baik-baik kalian di sana."
Setelah itu Shea mematikan sambungan teleponnya. Dia memberikan ponsel pada Bryan. "Kamu dari tadi sibuk dengan ponselku, apa yang kamu lihat?" tanyanya ingin tahu.
"Apa kalian tidak mengantuk?" tanya Bryan pada dua bayi kecil di hadapannya.
Dua bayi kecil itu pun tampak bergumam menjawab pertanyaan Bryan, seolah mereka mengiyakan pertanyaan daddy mereka.
Bryan berusaha menghilangkan pikiran tentang apa yang baru saja dia baca dengan bermain dengan baby Al dan El. Tawa mereka saat Bryan menggoda, membuat Bryan sejenak lupa dengan apa yang baru saja dia baca.
Cukup lama baby Al dan El berjaga, sampai waktu menunjukan pukul dua belas akhirnya mereka tertidur. Bryan dan Shea merasa lega, karena dua bayi itu akhirnya tidur. Semakin bertambah usia, mereka memang semakin banyak tidur di malam hari dibanding siang hari.
"Besok kita akan jalan-jalan, merasakan udara pagi yang segar. Jadi sekarang tidurlah!" Bryan pun meminta istrinya untuk tidur.
"Baiklah, kamu juga tidurlah!" Shea menarik selimut dan memejamkan matanya. Dia dan Bryan mengapit baby Al dan El untuk memberikan kehangatan pada bayi itu.
"Iya, aku akan tidur segera, tetapi aku akan mengecek beberapa email dulu."
__ADS_1
Shea mengangguk dan memejamkan matanya, sedangkan Bryan meraih ponselnya untuk mengecek beberapa email dari kantornya.
Saat sibuk dengan ponselnya. Dia menoleh pada Shea yang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Aku begitu mencintaimu. Hingga kadang aku benar-benar takut kehilanganmu. Mungkin jika aku adalah orang baik di masa lalu, mungkin ketakutanku tidak akan sebesar ini.
Bryan menghela napasnya merasakan sedikit sesak di dadanya. Namun, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri agar pikiran buruknya itu tidak merusak otaknya.
Setelah selesai mengecek email di ponselnya, Bryan meletakkan ponsel di atas nakas dan membenamkan tubuhnya di bawah selimut. Memejamkan matanya, dia menyusul istri dan anaknya yang sudah sampai ke alam mimpi.
***
Semalaman baby Al dan El tidur dengan pulas. Hingga membuat Shea dan Bryan juga ikut tertidur pulas. Karena tidak ada tangisan Shea pun menikmati tidurnya. Namun, saat menikmati tidurnya, suara alarm membuat Bryan dan Shea terbangun. Tangan Bryan yang lebih dekat dengan ponsel pun meraih ponsel dan mematikan suara alarm.
Shea yang mendengar suara alarm berhenti pun teringat jika alarm memang dia pasang karena hari ini dia, Bryan dan anak-anak akan jalan-jalan pagi. Jadi dia harus bangun untuk menyiapkan kebutuhan mereka.
Perlahan Shea membuka matanya. Dia menyibak selimut dan bangkit dari tempat tidur. Sebelum dia memulai aktifitas menyiapkan keperluan anaknya, dia memastikan kembali jika waktu benar-benar sudah jam lima pagi.
Meraih ponselnya dia melihat jika waktu memang benar menunjukan pukul lima pagi. Tangannya mengusap aplikasi pesan di ponselnya, untuk mengecek pesan masuk.
Saat melihat ponselnya, tiba-tiba laman berita yang di lihat Bryan kemarin terbuka.
.
.
.
.
.
...Demi kalian ni, padahal lagi ga enak badan...
__ADS_1
...jadi jangan lupa like dan vote ...