
Setelah perjalanan di London akhirnya Bryan dan keluarganya sampai di rumah. Rumah yang sudah lama tidak dikunjungi itu tampak terawat, karena memang ada asisten rumah tangga yang merawatnya.
Rumah dengan gaya klasik terlihat. Walaupun tidak sebesar rumah di Indonesia, tetapi sangat nyaman.
"Apa kamu juga pernah tinggal di sini?"
"Aku lahir dan besar di Indonesia, tidak pernah tinggal di sini. Hanya liburan saja di sini."
Shea mengangguk. Matanya masih menerawang melihat keindahan rumah. Masuk ke dalam kamar Bryan Shea melihat foto milik Bryan yang berjajar. Foto-foto yang diambil saat Bryan bermain di rumahnya.
Shea menurunkan El yang tidur di atas tempat tidur. Bayi kecil itu tidur saat perjalanan hampir saja sampai. Akhirnya sampai perjalanan selesai pun dia belum bangun.
"Kenapa dulu tidak kuliah di sini saja?" tanya Shea.
"Mama tidak mengizinkan aku kuliah jauh-jauh. Apalagi tinggal sendiri. Mama bilang "jika kamu kuliah jauh di luar negeri mama tidak bisa mengawasi" begitu mama menjelaskan."
Shea langsung tergelak mendengar cerita mama mertuanya. "Benar kata Mama. Kamu dekat dengan mama saja buas, apalagi sendiri pasti lebih bringas."
"Apa kamu bilang?" Bryan menghampiri Shea dan menggelitik tubuh.
Shea tertawa karena tidak tahan, tetapi buru-buru dia menghentikan tawanya karena tidak mau mengganggu anaknya yang sedang asik tertidur.
"Apa kamu lelah?" tanya Bryan seraya memeluk tubuh istrinya.
"Mau apa kamu?" Shea menatap penuh curiga.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan malam," ucap Bryan. Tangannya yang gemas karena istrinya memikirkan hal lain langsung mencubit pipinya.
__ADS_1
Shea malu sekali mengira Bryan menginginkannya. Dia mengangguk dan bersiap untuk makan malam. Bryan yang menunggu Shea bersiap, keluar untuk menemui mama dan papanya. Menitipkan putranya pada mereka. Orang tua Bryan mengizinkan anaknya pergi mengingat jika sayang tidak menikmati indahnya kota London malam hari.
Selesai bersiap Bryan mengajak Shea ke salah satu restoran rooftop. Shea yang melihat restoran terpesona karena tampilan restoran begitu unik. Setiap meja di hiasi dengan atas seperti rumah igloo khas suku eskimo.
Shea dan Bryan diantarkan menuju ke meja dan memesan makanan. Pemandangan dari meja restoran begitu indah. Sungai Thames dan tower Bridge terlihat dari sana.
"Indah sekali pemandangannya."
"Apa kamu suka, Sayang?" tanya Bryan menarik tangan, membawanya ke dalam genggamannya.
"Suka sekali," jawab Shea tersenyum. Bryan selalu punya cara membuat suasana menjadi romantis. Hal seperti ini yang selalu membuat Shea tak pernah berhenti mencintai suaminya. Rasa cintanya tubuh semakin subur di hatinya.
Makanan yang dipesan datang, mereka berdua menikmati bersama-sama. Suasana bertambah romantis saat alunan musik terdengar.
"Aku tidak pernah menyangka bisa sampai di sini. Membayangkan saja aku tidak pernah." Suara Shea terdengar saat menikmati makan.
Shea tersenyum. Memang itulah yang terjadi pada kisahnya. Semua berjalan tidak mulus. "Namun, tetap berakhir bahagia."
"Kamu benar. Semoga kebahagiaan selalu ada bersama kita."
Memang itulah yang diharapkan Shea. Bersama dengan anak-anaknya, mereka akan menciptakan kebahagiaan. Yang lalu sudahlah berlalu, karena masa depan indah menanti mereka.
Malam semakin larut, Shea yang tak tega meninggalkan anaknya akhirnya memilih pulang. Melangkah keluar dari cube yang membungkus meja makan, mata Shea menangkap dua orang yang dia kenal.
"Lihat siapa itu," ucap Shea menarik tangan Bryan dan menunjuk satu meja di restoran.
Bryan mengarahkan matanya melihat ke arah di mana istrinya menunjuk. Dari kejauhan mereka melihat Felix dan Chika. "Ayo kita ke sana," ucap Bryan seraya melangkah.
__ADS_1
"Jangan menganggu orang sedang makan malam romantis," ucap Shea menarik tangan Bryan. "Momen seperti ini langkah, jadi jangan ganggu." Bryan terus menarik Bryan untuk pulang.
Bryan mendengus kesal tak bisa menganggu temannya. Dia pun akhirnya pasrah dan memilih pulang. Membiarkan temanya menikmati indahnya malam.
Waktu sudah menunjukan jam dua belas saat Bryan dan Shea pulang. El yang tadinya tidur di kamarnya sudah berpindah ke kamar orang tua Bryan.
Di kamar Bryan langsung menarik tubuh Shea masuk ke dalam pelukannya. "Ayo kita buat adik El," ucapnya tersenyum menggoda.
"Mana bisa jadi adik El," cibir Shea. Dia masih rutin memakai pencegah kehamilan dengan cara disuntikan ke dalam tubuh. Jadi jelas tidak akan bisa dirinya hamil.
"Yah, tidak made in London berarti," jawab Bryan kecewa. Padahal dia ingin sekali anaknya dibuat di tempat di mana sekarang berada.
Shea tertawa. Mendengar ucapan Bryan. Dia ingin anaknya dibuat di London. "Jangan buat di sini, nanti El cemburu karena El hanya made in apartemen."
Tawa mereka terdengar riang. Membenarkan jika El hadir setelah mereka melakukannya di apartemen Bryan.
"Tak masalah jadi atau tidak, yang penting kita nikmati waktu di sini." Bryan mulai melancarkan aksinya mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Menyesap manis bibir yang selalu menjadi candu baginya itu.
Tubuh yang sudah tahu reaksi apa selanjutnya, sudah seperti air yang mengalir begitu saja. Mencari kenikmatan dari setiap pertemuan dari kulit tanpa penghalang.
Malam yang sunyi dan dingin di London, menjadi saksi dua insan yang tak pernah berhenti saling mencinta itu untuk meluapkan perasaan cinta dalam setiap sentuhan.
.
.
.
__ADS_1