My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Kenapa dia aneh?


__ADS_3

"Jam dua belas," jawab Shea. Dia sibuk bermain dengan baby El. Menggodanya supaya tertawa. Namun, wajah Shea yang dekat justru di raih oleh baby El. Tawa Shea pun terdengar saat anaknya memegangi wajahnya


Bryan yang melihat pemandangan itu pun sangat bahagia. Tawa mereka pun membuat senyuman di wajahnya.


Jarak rumah yang dekat membuat perjalanan mereka menjadi singkat. Dalam beberapa menit ternyata mereka sudah sampai di rumah. Masuk ke dalam rumah, mereka menuju ke kamar.


Akan tetapi tujuannya kamar yang berbeda. Shea menuju ke kamar bayi untuk membersihkan tubuh El dan Bryan masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.


Saat kegiatan mereka sudah selesai, Shea meminta Bryan untuk gantian menjaga El karena dia ingin gantian membersihkan diri. Bryan menikmati waktu bersama dengan baby El. Memainkan rattle dan membunyikannya, dia membuat anaknya itu fokus pada mainan itu.


Tangan kecilnya berusaha untuk meraih mainan yang berada di tangan daddy-nya itu. Bryan yang gemas pun justru menjauhkan mainan yang berada di tangannya. Membuangnya ke sisi pinggir, membuat El justru miring dan tengkurap. "Wah ... anak daddy sudah hebat," ucapnya saat ternyata kepala El sudah begitu tegak.


"Apa kamu sudah menanyakan pada Felix?" tanya Shea yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku justru bertanya langsung dengan Kevin." Bryan menjawab dengan masih terus berusaha mengawasi baby El.


"Oh ... ya?" tanya Shea tidak percaya. Dia berlalu ke lemarinya untuk memakai baju.


"Iya, dan ternyata Kevin sediri yang meminta pengantinnya itu pergi."


Shea yang selesai memakai baju langsung menghampiri Bryan yang sedang asik bermain dengan El. "Jadi dia sendiri yang meminta wanita itu pergi?" Shea memastikan kembali ucapan Bryan.


"Iya, karena dia tahu jika wanita itu baru saja bertengkar denganmu gara-gara aku."


Mata Shea membulat tidak percaya ternyata Kevin mengetahui pergulatannya dengan Jesika. "Lalu?"


"Lalu apa?" tanya Bryan, "mana ada pria yang mau menikah dengan wanita yang dipikirannya masih ada pria lain," lanjut Bryan.


Shea mencerna ucapan Bryan. "Benar juga, jika aku jadi Kevin pun akan melakukan hal yang sama. Dia menikah tapi pikirannya, hatinya punya yang lain. Lebih baik tahu sebelum semua dimulai." Dia mengomentari apa yang dilakukan.


"Kalau sudah dimulai apa yang terjadi?" tanya Bryan ingin tahu.


"Pasti akan jadi masalah, Sayang," ucap Shea seraya merebahkan tubuhnya dan ikut bergabung dengan suami dan anaknya. "Bagiamana bisa rumah tangga dijalani jika dalam pikiran si wanita ada pria lain?" tanyanya.


"Jika itu terjadi denganmu apa yang kamu lakukan?" Bryan justru kembali bertanya.


"Aku?" Shea menunjuk dirinya sendiri.


"Iya."


"Itu tidak akan pernah terjadi, karena di hatiku hanya dirimu. Tidak ada pria manapun di pikiran dan hatiku." Shea mendaratkan kecupan di pipi Bryan.


Saat memberikan kecupan pada Bryan, tiba-tiba baby El menangis, dan membuat Shea langsung tertawa. Dia meraih tubuh El yang sedang sibuk tengkurap. "Apa kamu juga mau dicium?" tanya Shea tertawa.


Bryan hanya bisa tersenyum mendapati jawaban Shea. Satu sisi dia bahagia mendapatkan istri seperti Shea, tetapi satu sisi dia juga takut jika orang lain mengambil dari dirinya.

__ADS_1


Kevin saja sampai berharap mendapatkan wanita sepertimu.


Bryan memikirkan apa yang dikatakan tadi oleh Kevin. Saat mengingat Kevin, dia mengingat apa yang dititipkan oleh Kevin padanya.


"Oh ... ya, tadi Kevin menitipkan ucapan terima kasih untukmu, karena dirimu akhirnya dia tahu jika wanita itu tidak mencintainya."


"Aku merasa tidak melakukan apa-apa, kenapa berterima kasih?" tanya Shea, "aku hanya mempertahankan milikku," tambahnya dan tersenyum pada Bryan.


Shea memangku baby El dan meluruskan kakinya. Dia menyingkap sedikit bajunya dan memberikan susu pada El.


Melihat istrinya meluruskan kakinya, Bryan meletakan kepalanya di atas paha Shea. Dia menggoda El yang sedang asik minum susu, dan sesekali Shea kesal karena tangis El terdengar saat daddy-nya melepasnya mulut kecil El dari puncak dada Shea.


Suara tawa Bryan terdengar di sela-sela kekesalan Shea, dan membuat suasana sore menjelang malam mereka riuh.


***


Pagi-pagi Bryan sudah datang ke rumah Regan. Dia ingin mengambil baby Al dan ingin menjemput bayi kecil itu.


Regan yang kedatangan Bryan pagi-pagi merasa kaget. Namun, setelah mendengar jawaban Bryan jika adik iparnya itu ingin mengajak jalan-jalan anaknya, akhirnya dia mengizinkan.


Membawa serta Al dan El, Bryan dan Shea berjalan-jalan keliling komplek. Baby Al dan El begitu tampak antusias menikmati berjalan-jalan dengan Bryan dan Shea.


"Mereka berdua begitu tampan ya?" tanya Shea pada Bryan di saat melihat dua bayi kecil itu.


"Karena mereka laki-laki, jika mereka perempuan mereka akan cantik, " jawab Bryan diiringi tawa.


"Lalu?" Bryan tahu istrinya begitu kesal.


"Lihatlah, El perpaduan antara wajah cantikku dan wajah tampan kamu." Shea berucap seraya melihat ke arah anaknya.


"Jangan suka memuji diri sendiri." Bryan terus saja menggoda Shea.


"Bukannya itu yang selalu kamu ucapkan?" Shea tidak mau kalah dengan Bryan yang menuduhkanya memuji diri sendiri.


"Iya, kamu memang cantik." Bryan mencubit hidung Shea karena gemas.


Mendapati hidungnya yang merah bak tomat, Shea pun memanyunkan bibirnya. Namun, sesaat kemudian dia melihat ke arah baby Al.


"Baby Al juga tampak, campuran kecantikan kak Selly dan ketampanan kak Regan," ucap Shea tersenyum.


"Jangan memuji pria lain di hadapan aku." Suara Bryan terdengar saat Shea memuji Regan.


Shea menoleh dan mendapati wajah Bryan yang ditekuk. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa suaminya sensitif sekali.


"Aku juga memuji kak Selly," elak Shea.

__ADS_1


"Aku tidak suka kamu memuji pria lain, siapa pun itu!" Bryan memilih tidak menjawab, tetapi justru memberikan peringatan penuh pada Shea.


Dari pada membuat masalah jadi panjang. Shea pun mengangguk, dan akhirnya berbalas senyum dari Bryan.


Waktu sudah menunjukan jam tujuh. Bryan dan Shea memutuskan kembali ke rumah setelah puas menikmati jalan-jalan pagi mereka.


***


Regan yang ingin berangkat bekerja, menyempatkan diri untuk mengecek keadaan anaknya di rumah Bryan dan Shea.


Menekan bel rumah adik iparnya, dia menunggu sejenak. Namun, saat pintu dibuka dia di kejutkan dengan Bryan yang membuka pintu.


"Kamu belum berangkat, Bry?" tanya Regan.


"Belum," jawab Bryan, "Kakak mau lihat Al?"


"Iya, aku mau cek sekalian berangkat bekerja."


"Ayo, masuk!" Bryan mempersilakan Regan untuk masuk menemui anaknya.


"Wah anak Daddy sudah mandi," ucap Regan seraya mendapatkan anaknya. Dia mengecup pipi Al dan El secara bergantian.


Setelah bertemu anaknya Regan berpamitan dengan Bryan dan Shea untuk berangkat ke kantor.


"Kamu tidak berangkat?" tanya Shea.


"Iya, ini juga sudah mau berangkat," jawab Bryan.


Dia mengambil tisu basah dan mengusap pipi baby Al dan El. "Jika kak Regan mencium Al dan El. Usahakan kamu usap sebelum kamu mendaratkan kecupan di sana. Aku tidak mau secara tidak langsung bibir kamu mencium bibir kak Regan yang menempel di pipi anak-anak.


Shea hanya tercengang dengan apa yang dilakukan suaminya. Dia pun hanya bisa mengangguk mendapati perintah suaminya.


"Aku berangkat dulu!" Bryan mendaratkan kecupan di dahi Shea dan berlalu keluar dari rumah.


Kenapa dia aneh sekali?


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan vote...


...yang belum baca Still Married bisa mampir ya, masih gratis dan sudah sampai 33 bab. lumayan sudah hemat banyak. Tapi kalau ga, juga ga pa2 yang penting baca disini dan jangan lupa vote, kan vote gratis🤭...


__ADS_2