My Step Brother

My Step Brother
Patah semangat


__ADS_3

Ergi pun segera pulang ke rumah dengan perasaan gusar.. ucapan revan tentang penyakit nya selalu terniang di ingatan nya..


" ergi kamu sudah pulang?? " ucap luna yang langsung menghampiri ergi yang baru masuk ke rumah


" iya.. " jawab ergi berusaha tersenyum


" bagaimana hasilnya?? apa ada sesuatu atau baik baik saja?? " tanya luna dengan nada panik


ergi pun terdiam mendengar ucapan luna..


" ergi?? bagaimana hasil pemeriksaan nya?? luna kembali bertanya


" semuanya baik baik saja, aku hanya sakit migran biasa " ucap ergi sambil tersenyum


" syukurlah.. aku sangat takut terjadi hal yang buruk padamu" ucap luna yang langsung memeluk ergi..


Ergi pun semakin merasakan sesak di dada nya.. rasanya tak sanggup menceritakan semuanya pada luna..tak sanggup jika luna harus bersedih karena penyakit nya..


Sepanjang malam ergi hanya memikirkan tentang penyakit nya..


" ya tuhan.. kenapa aku bisa memiliki penyakit seperti ini.. bagaimana jika aku meninggal.. siapa yang akan menjaga luna??? dia sudah tidak memiliki siapa siapa lagi selain aku??? "


gumam ergi sambil memandangi wajah luna yang tengah tertidur di samping nya


" luna.. mungkin aku bukan yang terbaik untuk mu.. aku tidak akan tenang sebelum ada seseorang yang menggantikan ku untuk menjaga mu.. aku tidak ingin meninggalkan mu sendiri.. aku harus menemukan pria itu luna.. pria yang bisa menjaga mu seumur hidup.. sebelum penyakit ini merenggut nyawa ku " gumam ergi sambil meneteskan air mata


Siang itu ergi pun kembali ke rumah sakit untuk menemui revan dan kembali melakukan serangkaian pemeriksaan.. ergi berharap hasil pemeriksaan kemarin adalah salah..


setelah menunggu cukup lama revan pun kembali memanggil ergi ke ruangan nya..


" bagaimana?? " ucap ergi yang sudah tidak sabar ingin tau hasilnya


" hasilnya tetap sama " jawab revan sambil memberikan beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan tersebut


Ergi pun mengusap kasar wajah nya dengan mata yang sudah memerah.. ingin sekali rasanya dia menangis dan berteriak atas apa yang dia alami sekarang.

__ADS_1


" berapa persen gue bisa bertahan hidup?? " tanya ergi


" 40%.. karena penyakit ini sudah cukup lama bersarang di tubuh loe.. mungkin kalau dari awal loe periksa keadaan loe akan beda ceritanya " jawab revan


" mungkin sudah takdir gue harus meninggal di usia muda " ucap ergi sambil tersenyum kecut.


" loe udah kasih tau hal ini sama istri loe?? "


ergi pun hanya mengelengkan kepalanya..


" gie.. istri loe harus tau ini.. suport keluarga sangat penting untuk mempercepat kesembuhan loe "


ergi pun hanya terdiam mendengar ucapan revan..


" atau gini aja.. gimana kalau loe berobat ke luar negeri?? penanganan di sana jauh lebih bagus untuk penyakit serius seperti ini.. gue bisa bantu cari rumah sakit yang benar-benar bagus untuk loe " revan berusaha membujuk


" berapa persen gue hidup kalau ke luar negeri?? " ergi kembali bertanya


" mungkin 60%..gie gue itu bukan tuhan yang bisa tau umur loe.. kadang apa yang fi frediksi manusia jau berbeda dengan apa yang di rencanakan tuhan.. asal loe tetap semangat dan engga putus asa gie.. enggak ada yang engga mungkin "


" loe dokter kan?? tugas loe apa?? " ucap ergi


" tugas gue menyembuhkan penyakit pasien lah " jawab revan yang tidak mengerti dengan ucapan ergi


" mengobati pasien.. bukan mencampuri urusan pasien kan?? jadi tolong hargai keputusan gue.. gue engga ingin ada yang tau tentang penyakit gue " ucap ergi yang berdiri dari kursi nya dan langsung bergegas meninggalkan ruangan revan..


revan pun hanya diam mematung mendengar ucapan ergi.. dia merasa sangat iba dengan apa yang di alami temannya tersebut.. tapi revan tak mengerti dengan jalan fikiran ergi..


*********


Ergi pun kembali melakukan aktivitas nya seperti biasanya.. meskipun dia lebih sering merasakan sakit kepala yang sangat sakit.. tapi ergi hanya meminum obat pemberian revan secara diam-diam untuk sekedar menghilangkan rasa sakit nya


" gie.. kok di lihatin aja makan nya?? " ucap luna yang melihat ergi hanya memandang sarapan nya saja dari tadi..


" oia.. maaf " jawab ergi

__ADS_1


" kamu kenapa?? ada masalah?? " tanya luna yang merasa aneh dengan sikap ergi akhir akhir ini yang terlihat selalu melamun dan tak banyak bicara..


" tidak apa apa, aku hanya sedang banyak kerjaan saja.. aku pergi dulu ya.. " ucap ergi sambil tersenyum dan mencium kening luna.. dan langsung bergegas pergi ke kantor pagi itu..


**********


" pak, ini jadwal bapak hari ini.. " ucap nadia sekretaris ergi pagi itu.. sambil memberikan map berisi perkerjaan ergi hari ini


ergi pun melihat map tersebut..


" pak, hari ini juga akan ada karyawan baru.. dia sudah di interview sebelumnya, hari ini dia akan bertemu bapak untuk interview selanjutnya.. " ucap nadia


" boleh saya lihat CV nya?? "


" ini pak " ucap nadia sambil memberikan CV karyawan tersebut dan kemudian keluar dari ruangan ergi..


Ergi pun melihat dengan seksama CV karyawan baru tersebut..


" afif dwi wijaya??? afif?? afif?? seperti nya aku pernah mendengar nama itu.. wajah nya juga tidak begitu asing untuk ku " gumam ergi sambil terus memperhatikan foto pria tersebut..


" afif?? seperti nya aku mengenal orang ini.. dimana ya?? " ergi terus memijat kening nya sambil terus memutar otak nya..


" Seperti nya ini teman sekolah luna waktu kami di bandung??? iya benar aku ingat.. ini kan teman sekolah SMA luna.. yang dulu sangat menyukai luna.. " ucap ergi begitu mendapat jawaban atas pertanyaan nya..


" halo nadia, apa karyawan baru itu sudah datang?? " ucap ergi yang menelepon sekretaris nya


" sudah pak, baru saja datang " jawab nadia


" segera suruh masuk ke ruangan saya "


tak lama nadia pun mengetuk pintu ruangan ergi dan mempersilahkan afif masuk..


afif pun perlahan berjalan masuk ke ruangan ergi di lihat nya ergi yang tengah duduk di kursi nya.. seketika afif memicingkan mata nya seolah tidak percaya dengan sosok pria yang di lihat nya..


" seperti nya dia sangat terkejut melihat ku.. ternyata dia benar teman sekolah luna" gumam ergi sambil tersenyum tipis

__ADS_1


__ADS_2