
Mendengar ucapan Putri, Andreas langsung saja menatap Ana dengan penuh kemarahan. "Apa yang di katakan Putri itu benar?"
"Ia, aku memang bekerja sebagai buruh cuci. Tapi, itu semua karnamu. Karna kau tidak pernah memberi nafkah kepadaku. Bahkan untuk makan sehari hari saja kau tidak pernah mau peduli. Jadi semua salah siapa? aku atau keegoisanmu itu?" Ana menatap Andreas dengan penuh kebencian.
Pllakkkk...
Andreas langsung saja menampar wajah Ana dengan sangat keras sampai sedut bibirnya terkoyak dan mengeluarkan darah. Dengan cepat Ana menghapus darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan ibu jarinya.
"Beraninya kau melawan kepadaku. Apa kau lupa siapa dirimu, ha?"
Mendengar ucapan Andreas, Ana langsung saja menatap Andreas tajam. "Memangnya siapa diriku sebelum menikah denganmu? dan siapa diriku setelah menikah denganmu?"
Melihat Ana yang melawan Andreas langsung saja memukul Ana secara membabi buta. Bukannya menengahi Putri malah tersenyum sinis melihat Ana di pukuli oleh Andreas.
"Dia sudah mempermalukan keluarga kita kak, dia bilang jika kita hanya membabukan dia. Mama sama Papa pergi ke luar kota juga karna dia yang selalu tidak bersyukur atas apa yang kita berikan kepadanya"
"Kau permalukan keluarga ku, ha?" Teriak Andreas menjambak rambut Ana. Melihat kakak beradik itu menghakiminya seenaknya saja Ana hanya mampu menatap nanar kedua manusia yang tak punya hati itu.
Walaupun wajah dan tubuhnya sudah babak belur karna pukulan dari Andreas namun, tak ada setetespun air mata Ana yang menetes dari matanya. Yang ada hanya tatapan kebencian dan juga dendam yang membara akan perbuatan kedua manusia kejam itu.
"Kau harus sadar diri siapa dirimu. Kau itu hanyalah ***** sebelum menikah denganku. Jadi jangan terlalu sok suci. Dengar kau an**ing" bisik Andreas sambil mencengkram keras tangan Ana.
Mendengar ucapan hina itu keluar dari mulut Andreas yang dulu berjanji akan menerima kekurangannya Ana langsung saja menatap tajam Andreas. Ingin rasanya ia menjawab perkataan Andreas namun karna Ana melihat Putri masih berdiri menatap sinis ke arahnya Ana memilih untuk diam. Karna jika Putri tau keadaannya sebelum menikah dengan Andreas sudah pasti Putri akan ssmakin seenaknya saja kepadanya.
****
__ADS_1
Mendengar pertengkaran antara Putri dan Ana, Andar dan istrinya langsung saja kembali untuk memastikan keadaan yang sebenarnya. Namun sebelum masuk ke dalam rumah Putri langsung saja berlari ke arah mereka.
"Mama, Papa kenapa pulang gak bilang bilang?" ucap Putri pura pura bingung. Padahal dia yang menyuruh temannya yang kebetulan anak buk Rt untuk mengabari kedua orang tuanya tentang pertengkarannya dengan Ana.
"Mana kakak iparmu?" ucap bu Andar yang tidak melihat keberadaan Ana.
"Lagi tidur. Alvian sini sayang sama bibi" Putri langsung saya membawa Alvian kedalam gendongannya.
"Mama" ucap Alvian yang baru belajar bicara.
"Mamamu lagi tidur sayang. Ayo main sama bibi. Bibi punya makanan lho" Putri langsung saja membawa Alvian masuk dan mdndudukkannya di sofa lalu mdmberikan jajanannya.
Andar dan istrinya langsung saja masuk kedalam rumah lalu ikut bergabung dengan Putri dan Alvian.
"Mama sama Papa kok sudah pulang?" ucap Andreas yang baru keluar dari kamar.
"Mama bawa apa?" Andreas langsung saja duduk manja di samping Mamanya.
"Mama sama Papa gak bawa apa apa. Kami juga berangkatnya buru buru jadi gak sempat beli oleh oleh"
"Mana Ana?" ucap Andar datar.
"Lagi tidur pa. Biar ku bangunin" ucap Andreas lalu masuk kedalam kamarnya.
"Na, ayo bangun Papa sama Mama sudah pulang" ucap Andreas tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Begitulah Andreas walaupun sudah menyakiti Ana tapi sikapnya biasa saja. Seperti tidak ada kejadian apapun antara dirinya dan juga Ana.
__ADS_1
"Hem" dehem Ana datar lalu bangkit dari tidurnya. Ana langsung saja masuk kedalam kamar mandi tanpa melihat Andreas yang berdiri di depannya. Melihat Ana telah bangun Andreas langsung saja kembali bergabung dengan kedua orang tuanya.
Andreas langsung saja mengajak Alvian untuk bermain. Melihat anak dan cucunya sedang bermain bersama bu. Andar langsung saja ikut bergabung tanpa memikirkan tujuannya kembali ke kota itu. Sedangkan Andar hanya menatap nanar kelakuan istrinya yang selalu memanjakan kedua anaknya.
Tak menunggu lama akhirnya Ana keluar dari kamarnya. Ana langsung saja duduk di sofa tanpa bergabung dengan anaknya yang sedang bermain dengan ketiga orang yang tak punya hati nurani itu. Ana langsung saja menarik napasnya dalam dalam mencoba untuk menguatkan hatinya karna sebentar lagi dia akan mendapat ceramah dari mama mertuanya.
Melihat Ana yang telah duduk di sofa bu, Andar langsung saja duduk di samping suaminya. Tak lupa wajah cerianya dan juga tawanya masih melingkar di wajahnya walaupun melihat tubuh Ana yang masih di penuhi tato karna ulah Andreas.
"Mama dengar kalian berantam. Memangnya ada masalah apa?" ucap bu Andar tersenyum ramah ke Ana. Melihat sikap mama mertuanya Ana hanya diam saja tanpa menjawab karna dia tau bagaimanapun caranya menjelaskan kepada mertuanya tetap saja dia yang akan di salahkan.
"Itu menantu kesayangan mama, Dia menjadi buruh cuci orang. Tapi, untuk mencuci pakaian putri dia tidak mau" Adu Putri menyalahkan Ana.
"Kenapa kamu jadi buruh cuci? Apa uang yang mama berikan tidak cukup."
"Tidak, Ma. Ana hanya ingin bekerja untuk kebutuhan Ana. Mama tau sendirikan jika mas Andreas tidak pernah memberikan uang ke Ana" ucap Ana mencoba membela diri walaupun yang di katakannya benar apa adanya.
"Ia mama tau. Tapi kamu tidak harus jadi buruh cuci. Kamu itu bersyukur karna keadaanmu hanya seperti itu. Kalau di bandingkan dengan Mama saat baru menikah dengan Papa mertuamu kamu masih sangat beruntung." ucap bu. Andar langsung saja membanding bandingkan dirinya dan juga Ana.
"Itu beda, Ma" Andar langsung saja angkat bicara.
"Bedanya apa pa? Apa papa lupa bagaimana papa dulu kepada mama. Papa suka berjudi tidak pulang pulang bahkan tidak pernah memberi uang kepada mama. Ingat, mendiang Mama dulu. Bagaimana sikapnya sama Mama? "
"Kamu tau Na, jika nenekmu dulu sangat kejam sama Mama. Dia tidak pernah memberikan Mama uang bahkan dia yang belanja untuk kebutuhan dapur. Mama hanya memasak apa yang ada. Bahkan Pamanmu dulu yang masih kecil kecik Mama yang ngurus semuanya. Sampai sampai baju Mama koyak sana sini tidak terganti"
"Dan apa kamu tau jika tubuh Mama dulu sangat kurus bagaikan lidi karna terlalu lelah dan jarang makan. Kamu masih hidup seperti ini harusnya kamu bersyukur."
__ADS_1
Bersambung....