NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
38# Kebahagian Anak Anakku


__ADS_3

Mendengar ucapan Rangga, Brian langsung saja membulatkan matanya terkejut. Dia tidak menyangka jika kasih sayang yang selalu Rangga berikan adalah kasih sayang karna cinta.


"Aku mencintainya! Aku sangat mencintainya! dulu aku rela mengalah karna aku lihat begitu banyak kebahagian yang terpancar di mata Ana karna kakak. Tapi, setelah aku tau kakak mencampakkannya seperti sampah saat kakak telah mendapatkan kesuciannya aku menyesal kak! Aku menyesal karna membiarkan pria berengsek seperti kakak menodai wanita yang paling aku cintai. Mulai sekarang jauhi Ana. Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi dari kakak. Jika kakak berani mendekati Ana maka jangan salahkan aku akan memberi pelajaran kepada kakak. Aku tidak peduli kita adalah saudara. Yang aku tau siapa yang menyakiti wanitaku maka akan berurusan denganku"


Mendengar semua perkataan Rangga, Brian hanya mampu terdiam. Dia tidak menyangka jika Rangga sangat mencintai Ana. Bahkan Rangga sudah tau jika Brian yang telah merengut kesuciaan Ana. Tapi, Rangga masih menerima itu. Sebesar itukah cinta Rangga kepada Ana?


Setelah meluapkan emosinya Rangga langsung saja meninggalkan Brian yang masih diam membisu dengan penuh kekesalan. Rangga langsung saja menemui Rayza lalu membawanya bersamanya untuk mencari keberadaan Ana.


"Kamu dimana, Na. Apa yang dilakukan bajingan itu sehingga kamu seperti ini?" gumam Rangga sambil terus mencoba menghubungi Ana.


Rangga menatap Rayza yang kini duduk di sampingnya. Rangga terus saja berpikir kenapa Ana bisa pergi dengan keadaan kacau seperti tadi. Bahkan Ana sampai melupakan Rayza.


Lalu Andreas langsung saja mengingat suatu tempat. Tempat yang selalu menjadi saksi kesedihan Ana. Rangga langsung saja melajukan mobilnya menuju ketempat itu.


******


Ana terus saja menangis dia tidak tau arah tujuannya. Sesampainya di luar kantor Ana melihat sebuah taksi. Dia langsung saja masuk ke taksi itu lalu mengatakan tempat tujuannya.


Sesampainya di tempat tujuannya Ana menatap keindahan danau yang begitu segar. Sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya lagi di danau itu. Terakhir kali dia kd sana saat kelulusan SMA di mana tempat itu menjadi saksi perpisahannya denga Rangga yang izin pergi ke melanjutkan pendidikannya ke luar kota.


Ana menatap taman yang begitu indah di tepi tepi danau dimana taman itu menjadi tempat pavoritnya dan juga mendiang orang tuanya saat liburan. Di sana juga Ana selalu meluapkan kesedihannya karna begitu banyak kenagan bersama kedua orang tuanya di sana.


"Mama... Papa... Ana rindu!" teriak Ana begitu keras lalu duduk lemas di atas hamparan rumput rumput kecil.


"Aahhh..... kenapa? kenapa kau bercayakan semua cobaan ini kepadaku? aku tidak kuat! aku tidak sekuat yang kau bayangkan! kenapa hidup ini tidak pernah adil kepadaku? aku juga ingin bahagia" teriak Ana dengan isak tangisnya


"Mama Papa kenapa kalian meninggalkanku. Aku sendiri! aku seorang diri di sini!" ucap Ana lemas di akhir tangisnya.


"Siapa bilang kau sendiri? kau tidak sendiri. Apa kau lupa kau sudah mempunyai dua pangeran bersamamu?" ucap Rangga mengelus bahu Ana.


"Ranga" ucap Ana lalu memeluk Rangga dengan erat sambil menangis di dalam dekapan Rangga.

__ADS_1


"Menangislah. Luaskan semua kepedihanmu. Maafkan aku karna pernah meninggalkanmu sendiri. Mulai sekarang aku akan selalu bersamamu selamanya" ucap Rangga membalas perukan Ana lalu menciumi puncak kepala Ana.


Ada rasa penyesalan di hati Rangga karna telah membiarkan Ana menjalani hubungan dengan Brian. Rangga juga menyesal karna telah mrninggalkan Ana sendiri demi melanjutkan pendidikannya.


"Ayo kita pulang. Lihatlah Rayza sangat kebingungan melihatmu seperti ini" ucap Rangga menatap Rayza yang hanya diam membisu sambil menatap keadaan Ana yang begitu kacau.


Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja tersadar jika dia telah melupakan putranya. "Sayang, maafkan mama. Mama telah meningalkanmu tadi" ucap Ana langsung saja memeluk Rayza.


"Ndak papa, Ma. Eyza adi ama Papa Angga" ucap Rayza tersenyum sambil menghapus air mata Ana.


Melihat Ana sudah mulai tenang. Rangga langsung saja membawanya pulang. Rangga terus saja menatap keadaan Ana yang begitu kacau dengan penuh rasa kegagalan. Rangga merasa gagal melindungi Ana. Dia tidak bisa menjaga air mata Ana.


*****


Setelah kejadian itu Ana nampak lebih pendiam dari sebelumnya. Ana juga mulai mrnjaga jarak dengan Rangga. Dari kata kata Brian, Ana menjadi sadar jika Rangga dengannya sangat berbeda.


Tapi, itu membuat Rangga menjadi semakin cemas. Rangga tidak bisa berjauhan dari Ana. Tapi, Rangga juga tidak sanggup mengatakan isi hatinya karna takut Ana semakin menjauhinya.


"Kamu sudah selesai?" ucap Rangga menatap Ana sedang duduk di meja riasnya.


"Sudah, kamu tidak ke rumah sakit?" ucap Ana melihat jam yang sudah menunjuk ke pukul sembilan pagi.


"Tidak. Aku akan menemanimu"


"Tidak usah aku bisa sendiri"


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian" ucap Rangga tanpa ingin ada penolakan.


"Baiklah" ucap Ana patuh. Karna dia tau bagaimana keras kepalanya Rangga.


"Na?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kenapa kau menjauhiku?" ucap Rangga menatap lekat netra mata Ana.


"Sudah, ayo kita pergi. Nanti kita terlambat" ucap Ana mengalihkan pembicaraan.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Aku tidak bisa kamu jauhi seperti ini" ucap Rangga memelas.


"Maafkan aku" ucap Ana merasa bersalah.


"Apa aku melakukan kesalahan? jika aku melakukan kesalahan maka tolong katakan kepadaku. Jangan jauhi aku lagi" ucap Rangga mengengam tangan Ana sambil menatap wajah Ana dengan lekat.


"Maaf ,Nga. Kamu tidak ada salah apapun. Maafkan aku" ucap Ana merasa bersalah. Tapi, jujur saja dia juga merasasakan apa yang Rangga rasakan selama dia menjauhi Ranga. Dia juga tidak tau bagaimana perasaannya kepada Rangga.


Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja tersenyum. Rangga langsung saja merangkul pinggang langsing Ana lalu berjalan keluar menuju mobilnya.


Setelah sampai di mobilnya dan memastikan Ana dan Rayza telah duduk nyaman di sampingnya Rangga langsung saja melajukan mobilnya menuju pengadilan agama dengan kecepatan sedang.


Setelah sampai di pengadilan Ana langsung saja melihat kedua mertuanya dan juga Alvian bersama Andreas.


"Ma" ucap Ana tersenyum mrncoba mencium tanggan Bu Andar.


Melihat itu Bu Andar langsung saja menepis tangan Ana lalu menatap sinis ke Ana. "Apa kau punya otak, Na. Kau tega meninggalkan anakmu demi pria itu.Sekarang kau meminta cerai dengan Andreas, Apa kau tidak memikirkan kebahagiaan anak anakmu"


"Aku melakukan itu semua untuk kebahagiaan anak anakku. Lihatlah kedua anakku sangat bahagia bersama Papa baru mereka yang selalu memberikan kasih sayangnya. Bukan seperti Papa kandungnya yang tidak menganggap kehadirannya"


Bersambung....


Hai semuanya jangan lupa mampir di karya temanku ya😊. Karyanya sangat menarik dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian jika sudah mampir🥰🥰😚😘


__ADS_1


__ADS_2