
"Maaf nona Julia, sekaran giliran anda" ucap suster yang membantu Rangga.
Mendengar ucapan suster itu Ana langsung saja menatao Julia lalu tersenyum sinis. Ana langsung saja berjalan mendekati Rangga.
"Kamu masih banyak pasien?" ucap Ana manja.
"Tidak sayang. Tinggal dia" ucap Ranga tersenyum karna tau maksud sikap Ana yang tiba tiba manja kepadanya.
"Ya sudah. Aku ikut masuk ya"
Mendengar ucapan Ana, Rangga langsung saja menganguk kecil lalu merangkul pinggang langsing Ana lalu berjalan memasuki ruangannya. Sesampainya di dalam ruangannya Rangga langsung saja mendudukkan Rayza di sofa lalu menenangkannya terlebih dahulu.
Rangga menatap haru wajah pucat Rayza yang ketakutan melihat Andreas. Tapi, Rangga dengan mudah menenangkan Rayza dan membuat Rayza kembali tersenyum. Setelah memastikan Rayza sudah baik baik saja Rangga langsung saja mencoba mengecek kondisi Julia.
Rangga mengontrol kandungan Julia dengan sangat baik. Walaupun Ana punya masalah dengan Julia tapi Rangga mencoba membedakan masalah pekerjaan dan masalah pribadinya.
Sedangkan Ana terus saja memperhatikan Julia. Ana melihat penampilan Julia yang sangat rapi dan mengunakan pakaian stelan kantoran. Dari sana Ana bisa menebak jika Julia adalah wanita karir. Jadi wajar saja Julia bisa kontrol di rumah sakit ternama seperti ini.
"Sepertinya anda sangat kelelahan. Jika di kondisi hamil muda seperti ini anda harus banyak banyak istirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran" ucap Rangga yang melihat kondisi kehamilan Julia yang lemah.
Sedangkan Julia hanya mampu menunduk dan mendengarkan ucapan Rangga sambil melirik ke arah Ana yang duduk manis sambil memainkan ponselnya di sofa.
"Ini ada resep obat untuk memperkuat kandungan anda. Karna, saya perhatikan kondisi kandungan anda sangat lemah" ucap Rangga memberikan resep obat kepada Julia.
"Baik, Dok. Terima kasih" ucap Julia langsung saja menerima resep obat yang di berikan Rangga lalu keluar dengan tergesa gesa.
__ADS_1
Setelah melihat Julia keluar dari ruangannya Rangga langsung saja menatap Ana yang kebetulan sedang mengambil minum. Rangga langsung saja mendekati Ana lalu merampas air mineral di tanggan Ana lalu meminumnya sampai habis.
"Rangga, itu minumanku" ucap Ana kesal.
"Hehe.. maaf habisnya haus karna udaranya sangat panas" ucap Rangga nyengir tanpa dosa.
"Udaranya pas kok. ACnya juga tidak mati" ucap Ana binggung mendengar ucapan Rangga.
Namun, Rangga terus saja menatap Ana dan mencoba mendekatti Ana. Melihat Rangga yang terus mencoba mendekatinya Ana mencoba untuk mundur. Tapi sayangnya bokong cantiknya terhalang oleh meja yang ada di belakangnya.
"Kamu bilang apa tadi sama istri kedua suamimu?" ucap Rangga tersenyum sambil mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Ana.
"A..aku bilang apa rupanya?" ucap Ana gugup sambil mencoba memalingkan wajahnya.
Rangga mencoba untuk menarik dagu Ana hingga akhirnya mereka saling bertatapan satu sama lain. Rangga terus saja menatap bibir Ana yang begitu mengoda. Jarang mereka yang cukup dekat sehingga mereka dapat merasakan deru napas mereka masimg masing.
"Apa perlu aku mengulangi perkataanmu?" ucap Rangga tersenyum.
"Silahkan"
"Baiklah. Ehem.. Aku berterima kasih kepadamu karna kau telah mengambil dia dariku. Karna! setelah kau mengambilnya aku mendapatkan yang jauh lebih baik darinya. Jauh dari segalanya. Jadi! selamat menikmati penderitaanmu"
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja terdiam. Dia mencoba menutup mulutnya rapat rapat karna tidak dapat berkata kata lagi.
"Memangnya aku jauh lebih baik ya dari dia. Dan jauh dari segalanya itu maksudnya apa?" ucap Rangga tersenyum lalu menatap Ana dengan genit.
__ADS_1
"Mesum" ucap Ana langsung saja mengerti maksud Rangga lalu mendorong tubuh Rangga kemudian berjalan mendekati Rayza yang duduk sendirian.
"Ana, aku jauh lebih tampan dan mengoda ya dari suamimu itu? atau aku jauh lebih hot dari ya" ucap Rangga terus saja mengoda Ana.
Ana hanya diam mendengarkan ocehan Rangga yang mesum menurutnya sambil membuka bekal yang di bawanya dari rumah. Karna kesal Rangga terus saja mengoceh tiada henti. Ana langsung saja mengambil sayuran yang ada di kotak bekal lalu memasukkannya kedalam mulut Rangga yang terus saja mengomel.
"Ana mau nyuapi kok gak beri kode dulu" ucap Rangga sambik berusaha mengunyah sayuran yang ada di mulutnya.
"Diam, kalau sekali lagi kamu ngomong yang tidak tidak lagi. Maka, jangan salahkan aku ikan gurami ini yang akan masuk kedalam mulutmu" ucap Ana kesal sambil memperlihatkan ikan gurami asam manis yang ukurannya cukup besar kepada Rangga.
Mendengar ancaman Ana, Rangga langsung saja menelan ludahnya kasar.
"Sudah, ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar. Lagian sebentar lagi aku aka melakukan pemotretan di kantor kak Brian"
"Jadi kamu siang ini mulai pemotretan di kantor Kak Brian?" ucap terkejut mendengar ucapan Ana.
"Ia, memangnya kenapa?" ucap Ana polos.
"Aku akan mengantarmu" ucap Rangga langsung saja menyantap makanannya.
Melihat sikap Rangga yang aneh, Ana hanya menatapnya binggung lalu kembali menyantap makanannya sambil menyuapi Rayza yang duduk di sampingnya.Setelah selesai mengahabiskan makanannya Ana langsung saja menyusun bekas makan mereka.
"Apa sudah selesai?" ucap Rangga mengambil kotak bekal mereka yang telah kosong.
"Sudah" ucap Ana. Melihat Ana yang telah selesai Rangga langsung saja mengandeng tangan Rayza lalu berjalan keluar ruangannya. Ana langsung saja mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Bersambung....