
Rangga mencoba membuka matanya ketika aroma masakan yang begitu mengoda terhirup di indra penciumannya. Rangga langsung saja tersenyum lalu bangun dari kasur empuknya.
Rangga mulai berjalan menuruni anak tangga dan matanya langsung saja di sapa oleh pemandangan yang begitu mengoda. Ana sedang sibuk mengadon kue dengan mengunakan gaun warna silver walaupun tertutup tapi masih memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya.
Rangga langsung saja menelan ludahnya kasar ketika melihat leher jenjang Ana yang terlihat dengan jelas karna rambut Ana di ikat dengan cara di lekuk. Rangga langsung saja menepis pikiran pikiran kotornya ketika merasa pedang pusakanya yang telah lama bersemedi mencoba untuk bangun.
"Masak apa, Na?" ucap Rangga langsung saja mendekati Ana.
"Aku sudah masak ayam goreng kesukaanmu. Ini aku lagi buat kue untuk cemilan sambil menonton tv. Kamu tidak ke mana mana kan?" ucap Ana mengingat hari ini hari minggu maka kemungkinan besar Rangga akan berdiam di rumah seharian seperti biasanya.
"Kenapa? apa kau tidak ingin berjauhan denganku?" ucap Rangga tersenyum sambil menaik turunkan alisnya berusaha untuk mengoda Ana.
Melihat reaksi Rangga yang begitu genit di mata Ana, Ana langsung saja mengoleskan tepung di wajah Rangga.
"Na, kok aku di bedakin sih? aku sudah tampan, Na"
"Idih kepedean"
"Bukan kepedean tapi kenyataan. Kamu jujur saja aku tampan kan?"
"Tidak. Kamu tidak tampan sama sekali"
"Cius?"
"Seribu cius" ucap Ana tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.
Rangga yang gemas dengan sikap Ana langsung saja mengoleskan tangannya dengan tepuk lalu mengoleskannya di wajah Ana.
"Nga, aku sudah mandi" ucap Ana kesal.
"Biarin" ucap Rangga cuek lalu menjulurkan lidahnya kembali ke Ana.
"Rangga" ucap Ana kesal lalu menoleskan tepung ke wajah Rangga sehingga wajah tampan Rangga di penuhi dengan tepung dan siap untuk di goreng.
"Ana, awas kamu ya".
"Haa... coba saja" ucap Ana berlari sambil menjulurkan lidahnya ke Rangga.
Rangga yang gemas langsung saja mengejar Ana hingga acara kejar kejaran di dapur yang begitu luas terjadi.
__ADS_1
"Ana sini kamu"
"Kejar aku kalau bisa"
Ana tersus saja mengejek Rangga hingga kakinya tersadung kaki kursi. Melihat Ana yang mau jatuh Rangga langsung saja menangkapnya, Sedangkan Ana yang refleks langsung saja memeluk Rangga.
Rangga menatap wajah Ana yang begitu dekat. Wajah cantiknya terlihat begitu jelas dan bibir mungil Ana yang berwarna pink sangat mengoda. Rangga berlahan mendekatkan bibirnya dengan bibir Ana yang sudah lama ingin dia cicipi.
"Ehem" dehem Bu Wira mama Rangga yang sedari tadi memperhatikan kehebohan mereka bersama Pak Wira suaminya.
"Mama, Papa" ucap Rangga terkejut lalu melepaskan tangannya di pinggang Ana.
"Pa..paman, Bibi" ucap Ana gugup mencoba merapikan pakaiannya yang berantakan.
"Mama tunggu di depan" ucap Bu Wira dingin lalu melangkahkan kakinya lalu meninggalkan dapur di ikuti oleh Pak Wira yang melayangkan senyuman kecilnya kepada Rangga dan Ana.
"Kamu sih. Pasti Paman dan Bibi mengira kita melakukan yang tidak tidak" ucap Ana kesal lalu membersihkan dapur yang begitu berantakan.
"Kok aku? kamu yang mulai duluan" ucap Rangga tidak mau mengalah.
Mendengar ucapan Rangga yang tidak mau mengalah Ana langsung saja melemparkan tatapan tajamnya sehingga membuat nyali Rangga langsung menciut seketika.
"Tapi ini?"
"Sudah biarin Bik Inah yang beresin"
Ana langsung saja menurut lalu mengikuti langkah Rangga ke ruang tamu untuk menemui Papa dan Mamanya.
"Tadi katanya di suruh bersihin tubuhku. Tapi kok langsung di bawa bertemu Paman dan Bibi?" ucap Ana melihat Rangga langsung saja membawanya ke ruang tamu.
"Tidak ada waktu lagi. Nanti keburu mama marah" ucap Rangga terus saja melajutkan langkahnya.
Setibanya di ruang tamu Bu Wira dan Pak Wira sudah duduk menunggu kedatangan mereka berdua. Bu Wira langsung saja mengerakkan matanya menyuruh Ana dan Rangga untuk duduk.
Ana dan Rangga langsung saja duduk sambil menunduk. Dari espresi dan tatapan Bu Wira mereka langsung saja tau jika mereka sedang di sidang hari ini. Bu Wira terus saja diam sambil menatap Rangga dan Ana yang di penuhi dengan tepung di wajah mereka.
Ana memang sudah sangat kenal dengan kedua orang tua Rangga. Sebab dulu Rangga sering membawanya ke rumahnya dan dari situlah Brian dan Ana bisa dekat. Jadi Ana sudah kenal dekat dengan kedua orang tua Rangga dan juga Brian.
"Mama sama Papa kenapa tidak bilang jika ingin kemari?" ucap Rangga memberanikan diri.
__ADS_1
"Mama sengaja tidak bilang karna Mama ingin memastikan sendiri jika kamu memang tinggal satu rumah bersama Ana"
"Maafkan Ana, Bi." ucap Ana merasa tidak enak karna tinggal bersama Rangga tanpa sepengetahuan kedua orang tua Rangga.
"Kalian harus menikah" ucap Bu Wira tidak mau di bantah.
"Apa?" ucap Rangga dan Ana membulatkan matanya terkejut.
"Apa Mama harus mengulang kata kata Mama? Baiklah kalian harus menikah. Mama akan mengurus semuanya secepatnya. Mama tidak mau nama baik keluarga kita tercemar karna kalian tinggal dalam satu atap tanpa ada hubungan apapun"
"Ta..tapi, Bi"
"Tidak ada tapi tapian" ucap Bu Wira tegas tanpa ingin di bantah sedikitpun.
Mendengar ucapan Bu Wira, Ana langsung saja diam menundul. Ana tau betul bagaimana sifat Bu Wira. Dia tidak ingin ucapannya di bantah sedikitpun.
"Papa?" ucap Rayza bingung melihat Bu Wira dan Pak Wira ada di sana.
"Sayang, kamu sudah bangun?" ucap Rangga langsung saja mengendong Rayza yang berada di samping Bi Inah.
Rayza hanya terdiam sambil menatap kedua orang tua Rangga dengan bingung. "Papa eka iapa?"
"Kenalkan mereka kakek dan nenekmu. Mereka adalah Mama dan Papanya Papa" ucap Rangga memperkenalkan kedua orang tuanya.
"Ekum Kek, Nek atu Ayza" ucap Rayza langsung turun dari pangkuan Rangga lalu menyalim kedua orangtua Rangga.
"Kamu tampan sekali sayang" ucap Pak Wira mencubit gemas wajah gembul Rayza.
"Aci Tek. Akek uga ampan tali"
"Tentu dong. Ia kan Ma?" ucap Pak Wira dengan bangga.
"Ia dong suami Mama. Kamu tampan sekali sayang" ucap Bu Wira tersenyum lalu kembali menatap Rangga.
Rangga yang tau arti tatapan sang Mama langsung saja menarik napasnya pelan. "Rayza sudah mengangapku sebagai Papanya sendiri. Karna Papa kandungnya tidak pernah mengangapnya dan tidak mau menatapnya sedikitpun"
Mendengar ucapan Rangga, Bu Wira langsung saja menatap Ana dengan penuh rasa iba. Bu Wira memang mendengar masalah pernikahan Ana saat Rangga menagani persalinan Ana dahulu.
Rangga merasakan sakit ketika melihat keadaan Ana dahulu langsung saja menceritakan semuanya kepada sang Mama.
__ADS_1
Bersambung....