
Rangga terus saja melajukan mobilnya dengan ketegangan. Karna Ana hanya diam saja sambil menunjukkan wajah macannya karna masalah tadi. Melihat emosi Ana yang tidak menentu Rangga hanya mampu mengaru kepalanya yang tidak gatal.
Hingga akhirnya di perjalanan Ana melihat penjual cemilan yang sangat mengoda imannya. Dia langsung saja mengelap air liurnya sambil menatap Rangga dengan tatapan lugunya.
"Nga, aku mau cemilan itu?"
"Kamu mau? tunggu di sini ya biar aku belikan. Tapi kamu mau cemilan apa?" ucap Rangga lembut.
"Apa saja boleh. Nga sambil belikan jus ya" ucap Ana tersenyum manis seperti tidak ada masalah sama sekali.
"Baiklah" ucap Rangga tersenyum lalu mengacak acak rambut Ana pelan.
"Rangga" ucap Ana kesal melihat rambutnya yang berantakan karna ulah Rangga.
Melihat kemarahan Ana, Rangga langsung saja mengambil langkah aman yaitu langsung saja pergi membelikan apa yang Ana inginkan. Tak menunggu lama akhirnya Rangga datang membawa satu kantongan plastik besar yang berisi berbagai jenis cemilan dan juga jus pesanan Ana.
"Ini" ucap Rangga tersenyum.
"Terima kasih, Nga" ucap Ana tersenyum bahagia.
Matanya langsung saja berbinar melihat cemilan yang begitu banyak. Ana langsung saja mengambil satu bungus cemilan itu lalu melahapnya dengan begitu rakusnya.
"Kamu makannya pelan pelan, Na. Nanti kesedak"
"Siap, Bos" ucap Ana dengan mulutnya yang penuh dengan cemilan.
Melihat sikap Ana yang begitu mengemaskan Rangga langsung saja tersenyum. Tak ingin mengubah mot Ana lagi dia langsung saja melajukan mobilnya kembali. Rangga terus saja pokus dengan jalanan sambil sesekali melirik Ana yang terus saja memakan cemilannya.
"Kamu mau, Nga?" ucap Ana polos.
__ADS_1
"Sudah mau habis baru di tawarin" batin Rangga namun tidak berani mengungkapkannya karna takut kena semprot lagi oleh Ana.
Rangga hanya tersenyum menganguk. Melihat itu Ana langsung saja menyuapi Rangga dengan tangannya yang sudah di penuhi bumbu cemilan.
"Yah habis" ucap Ana memayunkan bibirnya melihat semua cemilannya sudah habis tanpa sisa.
Rangga yang melihat tanggan dan mulut Ana yang berselemotan langsung saja mengambil tissu lalu mengelap bibir indah Ana dengan lembut. Melihat perhatian dan juga kelembutan Rangga, Ana langsung saja tersenyum bahagia.
Dia tidak menyangka akan di perlakukan semanis dan selembut ini oleh lawan jenisnya. Sangat bebeda jauh dengan perlakuan Andreas dulu yang selalu menperlakukannya layaknya seorang binatang.
"Ayo turun. Kita sudah sampai"
Mendengar ucapan Rangga, Ana langsung saja menatap sekitarnya dan benar saja mereka sudah berada di parkiran butik terbesar di kota mereka. Mereka langsung saja turun dari mobil lalu berjalan memasuki butik itu sambil bergandengan tangan begitu mesra.
"Selamat datang Dokter Rangga dan nyonya Ana" ucap pemilik butik itu langsung saja menyambut kedatangan mereka ramah.
"Apa Mama sudah menyampaikan tujuan kami datang ke mari?"
Ana menatap keadaan butik itu dengan mata berbinar.Ana menatap baju baju mewah yang di pajang begitu rapi memenuhi ruangan yang mereka lewati. Melihat sikap Ana, Rangga langsung saja tersenyum manis.
"Ini, Dok. Gaun terbaik yang kami miliki. Gaun ini di lengkapi dengan butiran butiran berlian dan juga mutiara yang sangat indah sehingga membuat siapa saja yang memakainya akan terlihat cantik dan indah seindah mutiara dan berlian ini"
"Walaupun tidak memakai gaun itu calon istri saja sudah terlihat cantik bahkan jauh lebih indah dari berlian dan juga mutiara itu" ucap Rangga tersenyum sambil menatap kecantikan Ana yang sedari tadi terus saja celigukan kesana kemari menatap gaun gaun yang begitu indah.
"Nyonya Ana memang sangat cantik. Karna kecantikab dan kebaikannya dia menjadi bersinar di dunia model bahkan mengalahkan model model ternama lainnya" ucap pemilik toko itu yang juga mengagumi kecantikan Ana.
"Sayang. Ayo coba gaunnya" ucap Rangga melihat Ana terus saja celingukan kesana kemari.
"Wah... gaun ini indah sekali sayang" ucap Julia yang tiba tiba datang bersama Andreas.
__ADS_1
"Maaf nyonya silahkan cari gaun yang lain. Gaun ini milik Nyonya Ana" ucap Pemilik toko itu ramah.
Mendengar ucapan pemilik toko itu Julia langsung saja menatap Ana yang berdiri sambil mengandeng tangan Rangga begitu mesra.
"Baru beberapa minggu pisah dari suaminya langsung saja menikah dengan pria lain yang jauh lebih mapan dari mantan suaminya. Apa jangan jangan kamu meminta cerai dari Mas Adreas karna melihat Dokter tampan yang jauh lebih berwibawa dari Mas Andreas mantan suamimu?" ucap Julia sinis mencoba menjatuhkan nama baik Ana.
"Mending aku yang baru beberapa minggu pisah dari mantan suamiku langsung menikah dengan Dokter tampan seperti Rangga. Dari pada perut sudah besar tapi baru mau merencanakan pernikahan" ucap Ana tersenyum sinis sambil melirik perut Julia yang sudah membuncit.
Mendengar ucapan Ana, Julia langsung saja terdiam lalu menatap orang orang sekitar yang menertawainya sambil menatap perutnya yang sudah membesar tapi dia masih memilih gaun pernikahan.
Sedangkan Andreas hanya terdiam penuh penyesalan melihat keadaan Ana yang semakin lama semakin cantik saja. Andreas melirik sinis tangan Ana yang melingkar dengan mesranya di pergelangan tangan Rangga. Jujur saja selama mereka menikah mereka tidak pernah melakukan hal semesra itu di depan umum.
"Maaf nyonya coba anda lihat gaun yang di sana. Gaunnya juga tak kalah indah" ucap salah satu karyawan mencoba mengalihkan Julia karna takut akab menimbulkan keributan.
Julia yang sudah mati kutu akibat ucapan Ana yang langsung menjatuhkannya dengan sekali talak langsung saja memilih untuk pergi meninggalkan Ana dan memilih gaun yang lain.
"Ayo sayang kita kesana saja. Di sini udaranya tidak enak" ucap Julia langsung saja menarik tangan Andreas. Andreas langsung saja menurut lalu mengikuti langkah Julia.
Setelah kepergian Julia dan Andreas, Ana langsung saja mencoba gaun yang di berikan oleh pemilik toko itu. Namun ketika Ana mencoba berjalan Rangga langsung saja memeluknya dari belakang.
"Kamu kenapa seceroboh ini?" bisik Rangga begitu kesal.
"Kenapa? Memangnya aku melakukan kesalahan apa?" uvap Ana bingung.
"Iss...kamu ini" ucap Rangga langsung saja membuka kancing kemejanya di depan umum
Melihat aksi Rangga semua orang langsung saja menatapnya bingung. Tak kalah dengan Ana yang langsung saja salah tingkah ketika melihat Rangga mencoba membuka kemejanya di depan umum.
Namun, Ana langsung saja terkejut melihat Rangga mencoba mengikat kemejanya di pinggang Ana. Ana langsung saja menatap Rangga tak percaya. Rangga rela membuka bajunya di depan umum dan untuk melindunginya.
__ADS_1
Bersambung.....