NERAKA DALAM PERNIKAHAN

NERAKA DALAM PERNIKAHAN
07# Alvian


__ADS_3

Hari demi hari terus saja berlalu hingga di suatu malam Ana merasakan kram pada perutnya yang sudah sangat besar. Ana mencoba untuk menahannya dan mencoba mengubah cara tidurnya agar kram di perutnya bisa mereda.


Karna kram di perutnya tidak kunjung menghilang Ana mencoba membangunkan Andreas yang tidur di sampingnya. "Mas, perutku sakit"


"Ada apa sih" ucap Andreas kesal karna mimpi indahnya di ganggu oleh Ana.


"Perutku sakit, Mas"


"Sakit kenapa?"


"Mungkin aku mau melahirkan"


"Apa? ya sudah kamu tunggu sini, biar aku bangunkan Mama dulu" ucap andreas langsung saja keluar lalu mencoba mengedor pintu kamar kedua orang tuanya. "Ma.. mama"


"Ada apa?" ucap bu Andar keluar dari kamarnya.


"Ana sepertinya mau melahirkan, Ma"


"Apa? dimana dia?"


"Itu di dalam kamar" ucap Andreas langsung menemui Ana.


"Ya sudah, kalian pergi ke puskesmas duluan. Jika ada apa apa hubungi Mama ya"


"Ia, Ma. Ana ayo" Andreas mencoba untuk memapah Ana menuju sepeda motornya.


Setelah memastikan Ana telah duduk kursi penumpang, Andreas langsung saja melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di puskesmas Andreas langsung saja memangil para perawat.


Melihat Ana yang kesakitan semua perawat langsung saja berlari sambil membawa kursi roda. Ana langsung saja duduk di kursi roda lalu di dorong oleh salah satu perawat sedangkan Andreas jalan dengan santainya mengikutinya dari belakang.


Perawat itu langsung saja meletakkan Ana ke ruang rawat lalu memanggil dokter untuk memeriksa keadaan kandungan Ana.


"Saya periksa dulu ya, Na" ucap dokter yang biasa memeriksa kandungan Ana.


Dokter itu langsung saja memeriksa keadaan kandungan Ana dan melihat pembukaan yang telah dilalui Ana.


"Pembukaannya telah sampai di pembukaan empat. Jadi tidak boleh pulang lagi ya tunggu saja di sini. Silahkan panggil anggota keluarga lainnya untuk membawa perlengkapan bayi dan juga ibunya" Jelas dokter itu ramah.


"Baik, Dok" ucap Andreas lalu mencoba menghubungi kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Na, silahkan jalan jalan dulu supaya pembukaannya semakin cepat. Saya mau periksa pasien yang lain terlebih dahulu" ucap Dokter itu pamit undur diri.


Ana langsung saja menganguk mengerti lalu mencoba untuk berjalan jalan di ruangannya. Sedangkan Andreas hanya duduk saja sambil memainkan ponselnya.


"Mas, perutku sakit sekali" ucap Ana karna perutnya terasa sangat sakit karna kontraksi yang begitu kuat.


"Sudah, seperti yang di bilang Dokter tadi kamu jalan jalan saja" ucap Andreas tak peduli.


Mendengar ucapan Andreas, tak terasa air mata Ana menetes. Dia tidak menyangka jika suaminya setega itu kepadanya. Ana sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka tapi Andreas malah sibuk memainkan ponselnya tanpa memperdulikan Ana.


Hingga akhirnya kedua orang tua Andreas tiba sambil membawa keperluan Ana dan juga calon bayinya " Sudah pembukaan berapa, Na?"


"Kata dokter tadi sudah pembukaan empat, Ma" ucap Ana sambil menahan sakitnya.


Mendengar ucapan Ana, bu Andar langsung saja duduk di sofa sambil meletakkan tas yang berisi keperluan Ana dan calon bayinya.


"Apa makin sakit, Na?" ucap Dokter sambil melirik ke arah Andreas dan bu Andar yang duduk di sofa.


"Sakit banget, Dok" ucap Ana mencoba duduk di atas bangsal.


"Coba kamu berbaring lagi biar saya periksa"


"Sudah pembukaan tujuh, sebentar lagi pembukaannya akan selesai" jelas Dokter itu mencoba memijit pinggang Ana dengan harapan sakit yang Ana alami bisa berkurang.


"Ma, aku lapar. Aku makan dulu ya" ucap Andreas masih menggingat perutnya yang lapar tanpa memperdulikan Ana yang sedang kesakitan.


"Sana, tapi jangan lama lama. Istrimu sebentar lagi mau melahirkan" ucap bu Andar lalu menghampiri Ana yang sedang terbaring lemah di atas bangsal.


Andreas langsung saja menganguk lalu melirik sekilas ke arah Ana. Tanpa ada rasa bersalah sedikit pun Andreas langsung saja pergi keluar untuk mengisi perutnya.


Melihat sikap Andreas yang sama sekali tidak perduli ke Ana membuat Dokter itu langsung saja mengelengkan kepalanya pelan.


"Kasihan sekali nasibmu, Na. Punya suami tidak ada gunannya seperti dia" batin Dokter itu sambil menatap iba ke arah Ana yang sedang menahan sakit seorang diri.


Hingga akhirnya jalan keluar bayi di dalam kandungan Ana telah terbuka semuanya. Dokter langsung saja memangil perawat untuk membantunya.


"Ayo Na. Ikuti arahanku ya. Tarik napas, buang pelan pelan" ucap Dokter itu dengan penuh rasa kesabaran mencoba membimbing Ana.


Ana langsung saja mengikuti arahan dokter itu. Dengan sakit yang teramat sangat Ana terus saja berjuang untuk buah hatinya. Walaupun suaminya sama sekali tidak perduli dengannya Ana tidak mau ambil pusing. Yang ada di pikiran Ana hanyalah bagaimana caranya agar bayinya lahir dengan selamat.

__ADS_1


"Coba sekali lagi Na"


Ana langsung saja menarik napasnya dalam dalam lalu mencoba mengejan sekuat tenaganya. "Aarrrghhhh"


"Oe...oe..." tangisan bayi munggil langsung saja mengema di ruangan itu. Mendengar suara tangisan bayinya untuk pertama kalinya Ana langsung saja meneteskan air matanya.


"Tampan sekali" ucab Dokter itu lalu mencoba membersihkan bayi Ana.


Setelah selesai Dokter itu langsung saja memberikan bayi munggil itu ke Andreas untuk di adzan. Ana yang masih lemah hanya berbaring menatap putranya.


"Siapa namanya, Ndre?" ucap bu Andar mencoba mengendong cucu pertamanya.


"Alvian" ucap Andreas tersenyum lalu mengecup kening Ana dengan lembut.


*****


Setelah dua hari di rawat di puskesmas akhirnya Ana bisa pulang ke rumah bersama Alvian kecil. Andreas yang merasa sangat bahagia langsung saja membeli seluruh perlengkapan Alvian mulai dari susu, pempers dan seluruh kebutuhannya lainnya di lengkapi oleh Andreas.


Ana yang melihat perlakuan suaminya kepada putranya langsung saja mengucap syukur karna Andreas tidak perhitungan kepada putranya.


"Mas, aku mau beli jamu" ucap Ana karna mengingat dia harus meminum jamu untuk memperlanjar darah kotornya.


"Ini" ucap Andreas langsung saja memberikan uang dua puluh ribu ke Ana.


"Terima kasih, Mas" ucap Ana tersenyum lalu pergi ke warung untuk membeli jamu untuknya.


Setelah membeli jamu Ana langsung saja kembali ke rumahnya. Ana melihat Andreas sedang bermain dengan Alvian.


"Mas, Mama mana?" ucap Ana yang tidak melihat keadaan Mama mertuanya.


"Mama sedang menjemur pakaian Alvian" ucap Andreas datar.


Mendengar ucapan Andreas, Ana langsung saja tersenyum lalu pergi ke kamar untuk membereskan kamarnya. Ana melihat pakaian kotor yang telah menumpuk karna selama dua hari ini dia tidak mencuci pakaian.


Ana mengingat jika ibu yang baru melahirkan belum boleh berlama lama di air. Apalagi Ana yang baru empat hari melahirkan, dia langsung saja menghampiri Andreas dengan harapan Andreas mau mencuci pakaian mereka.


"Mas, pakaian kotor sudah banyak" ucap Ana pelan.


"Jika kau mengharapkan aku yang mencucinya, jujur aku lelah. Aku bekerja untuk mencari uang untukmu. Tugasku hanya mencari uang bukan menjadi tukang cuci"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2