
Seperti biasa di pagi hari buta Ana sudah sibuk berkutik dengan alat masaknya di dapur. Walaupun ada pembantu tapi Ana selalu turun tangan untuk mengurus rumah apalagi dalam urusan perut Rangga. Ana selalu memanjakan Rangga dengan masakannya hingga membuat Rangga hanya ingin makan masakan buatab Ana.
Karna terlalu sibuk memasak Ana sampai tidak sadar jika di belakannya sudah berdiri pria tampan berbada tegap. Pria itu tiba tiba menutup mata Ana dengan tangan kekarnya.
"Ini siapa?" ucap Ana terkejut.
"Kamu diam saja, ikut aku"
Mendengar ucapan pria itu Ana hanya menganguk patuh. Dia langsung saja melangkahkan kakinya mengikuti arahan pria itu. Setelah sampai di tempat tujuannya pria itu langsung saja melepaskan tangannya dari mata Ana.
"Sekarang buka matamu pelan pelan"
Ana mencoba untuk membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah sebuah mobil mewah yang dihiasi dengan pita yang indah.
"Selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun.....selamat ulang tahun Ana... selamat ulang tahun..." bik Inah dan pak Udin langsung saja datang bersama Rayza dengan membawa kue ulang tahun untuk Ana.
"Nga...ini?" ucap Ana tak percaya dengan mata yang berkaca kaca.
"Amat uang aun Ama" ucap Rayza memberikan kue ulang tahun untuk Ana.
Karna melihat Rayza kesusahan memegang kuenya, Rangga langsung saja mengambil kue dari tangan Rayza.
"Sini, biar papa yang pegang" ucap Rangga tersenyum. Rayza langsung saja tersenyum karna jujur tangan mungilnya juga sudah pegal memegang kue sedari tadi.
"Sebelum tiup lilin jangan lupa berdoa dulu" ucap Rangga menatap Ana dengan lekat.
Ana langsung saja menutup matanya lalu berdoa dalam hatinya. Setelah itu Ana langsung saja meniup lilin itu di barengi dengan tepuk tangan dan canda ria semua yang ada di sana.
"Kue pertama untuk putra kesayang, Mama" ucap Ana memberikan potongan kue pertamanya untuk Rayza.
Namun seketika air mata Ana mengalir dengan derasnya. Ana langsung saja mengingat putra pertamanya yang telah lama dia tinggalkan.
__ADS_1
"Ama apa angis?" ucap Rayza langsung saja menghapus air mata Ana.
"Kamu rindu dengan Alvian?" tebak Rangga langsung saja mengelus lembut rambut panjang Ana.
Ana langsung saja memeluk Rangga lalu menengelamkan wajahnya di dada bidang Rangga. Rangga langsung saja mengelus punggung Ana untuk memberikan kekuatan kepada Ana.
"Kamu tenang saja. Kita akan menemui Alvian" ucap Rangga langsung saja menghapus air mata Ana.
Melihat itu tak terasa bik Inah juga meneteskan air matanya lalu memeluk suaminya dengan erat. Walaupun dia tidak mempunyai anak. Tapi, dia tau bagaimana perasaan Ana saat ini.
"Tapi, Nga?" ucap Ana langsung saja menatap Rangga dengan lekat. Jujur walaupun dia terlihat kuat tapi, dia belum sanggup untuk menginjakkan kakinya lagi di kediaman mertuanya.
Karna Ana sudah bisa tau apa yang akan di katakan mertuanya kepadanya nantinya.Mama mertuanya sudah pasti akan menyalahkannya dan akan menghinanya di depan Rangga.
"Kamu tenang saja. Aku akan selalu bersamu. Aku juga sudah mengurus surat ceraimu dengan pria bajingan itu"
"Kamu sudah mengurusnya?" ucap Ana tidak percaya.
"Terima kasih ya, Nga. Kamu adalah sahabat terbaikku"
"Kamu juga sahabatku yang paling menjengkelkan. Tapi, sudah jangan bersedih lagi. Ini hadiah untukmu" ucap Rangga menyerahkan kunci mobil ke Ana.
Namun, saat Ana ingin mengambilnya Rangga langsung saja memengang kunci itu dengan erat.
"Apa kau tidak mau memberi potongan kue keduamu untuk sahabatmu ini?"
"He..he...maaf lupa" ucap Ana terkekeh lalu menagmbil potongan kue dan langsung menyuapi Rangga.
"He..he... idung apa ada ue a" ucap Rayza terkekeh melihat noda kue di hidung Rangga.
Rangga langsung saja memegang hidungnya lalu melihat noda kue di sana. Rangga langsung saja mengoles noda kue itu ke wajah Ana sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Nga, kamu" ucap Ana kesal lalu mencolek kue dan mengelapnya di wajah Rangga.
Tak tinggal diam Rangga langsung saja membalas Ana hingga aksi serang kue pun terjadi. Tak lupa Rangga juga mencoret wajah gembut Rayza dengan kue.
"Apa" ucap Rayza kesal lalu mengambil kue dan mencoba menyerang Rangga. Rangga langsung saja berlari dan berlindung di belakang Ana. Bi Inah dan pak Udin yang melihat kebahagian itu langsung saja tersenyum penuh kebahagiaan.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka penuh dengan kecemburuan.
"Kak Brian?" ucap Ana ketika melihat Brian diam mematung memerhatikan mereka.
"Selamat ulang tahun ya, Na" ucap Brian memberikan sebuket bungga dan juga sebuah kotak kecil untuk Ana.
Melihat itu Ana langsung saja menatap Rangga. Sadar dengan tatapan Ana, Rangga langsung menganguk kecil.
"Terima kasih, Kak" ucap Ana menerima bungga dan juga kotak perhiasan kecil yang di berikan Brian.
"Kalau begitu kakak permisi dulu" ucap Brian tersenyum kecil.
"Kakak gak masuk dulu. Ana sudah masak. Ayo kita sarapan bersama" tawar Rangga.
"Ti..tidak usah. Kakak ada rapat sebentar lagi. Jadi lain kali saja" ucap Brian lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Rangga.
"Kenapa hatiku sangat sakit melihatmu bahagia bersamanya" batin Brian sambil menoleh ke arah Ana dan Rangga.
Bersambung.....
Haii...semuanya. Author promosi lagia yaðŸ¤
jangan lupa mampir di karya sahabat author. Ceritanya sangat menarik dan sayang untuk di lewatkan🤗. Jangan lupa mampi ya😘😘🥰
__ADS_1