
"Maafkan aku. Maafkan aku, Na" ucap Brian frustasi.
"Kata maafmu tidak akan mengubah segalanya"
"Nga, tolong berikan aku kesempatan. Aku ingin bicara dengan Ana" Brian menatap Rangga dengan penuh permohonan.
"Apa kau tidak lihat reaksi Ana ketika melihatmu tadi. Jadi lebih baik sekarang kau pergi dari sini" Rangga langsung saja mengusir Brian tanpa memperdulikan Brian yang baru kembali dari luar kota.
Brian kembali ke kota kelahirannya dengan penuh kebanggaan. Dia mendengar jika Rangga telah sukses dan menjadi dokter terkenal. Karna itulah ketika baru menginjakkan kakinya kembali di kota kelahirannya orang yang pertama kali dia tuju adalah adik sepupunya Rangga yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Selain ingin memberi selamat atas kesuksesan Rangga. Brian juga ingin memamerkan perusahaannya yang kini telah berkembang pesat di tanggannya.
Tapi, setelah sampai kebahagian Brian yang sedari tadi terukir indah kini berubah menjadi kesedihan dan juga penyesalan melihat keadaan Ana yang begitu tragis. Bayangan wajah Ana yang dipenuhi luka memar selalu muncul di pikiran Brian.
Wajah yang dulunya sangat cantik dan selalu ceria kini berubah menjadi kurus dan dipenuhi penderitaan. Tidak ada lagi senyuman manis yang terukir di wajah Ana yang ada hanya kesedihan dan penderitaan saja.
Brian melangkahkan kakinya meninggalnkan area rumah sakit dengan sangat kacau. Tak terasa air matanya metes ketika bayangan wajah Ana yang begitu menyedihkan melintas di pikirannya.
"Maafkan aku, Na. Maafkan aku! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu" batin Brian menyesali perbuatannya lima tahun lalu.
*****
Di kediaman Andreas.
Andar yang mendengar Ana kabur dengan keadaan babak belur langsung saja disuluti emosi.
"Kenapa kau memukuli Ana sampai begitu, ha?" teriak Andar hingga suaranya mengema di rumah itu.
Sedangkan Andreas hanya duduk diam tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. "Ana juga! ngapain pakai kabur dari rumah? kan bisa dia diam saja sambil kita menunggu kita pulang" ucap bu Andar mencoba membela Andreas.
__ADS_1
"Kamu diam! coba kau pikirkan pakai otakmu sendiri. Apa kau akan diam saja menunggu saat aku memukulimu seperti apa yang dilakukan putramu kepada Ana?" ucap Andar penuh emosi.
Mendengar ucapan Andar, bu Andar langsung saja menghendus kesal sambil mengumpat kesal kepada Ana. Dia terus saja menyalahkan Ana atas apapun tanpa mau mecari tau peyebabnya terlebih dahulu.
"Sudahlah. Biarkan saja dia pergi, nanti juga dia bakal kembali lagi. Dia kan tidak punya siapa siapa lagi. Bahkan dia tidak memiliki tempat untuk tinggal" ucap Andreas santai lalu masuk ke kamarnya untuk tidur.
Sedangkan Alvian terus saja menagis. Dia terus saja mencari keberadaan adik dan mamanya. "Kek, Adik sama Mama kemana?"
"Sabar ya sayang! Adik dan Mamamu akan segera pulang" ucap Andar mencoba menenangkan Alvian.
*****
Seperti biasa Andreas akan bangun setelah matahari menjulang tinggi. Dia langsung saja membersihkan dirinya lalu bersiap siap untuk bertemu teman temannya. Namun, saat hendak keluar seorang tukang pos berjalan ke arah rumahnya.
"Permisi, apa pak Andreasnya ada?" ucap tukang pos itu kepada Putri yang sedang duduk di teras depan bersama Alvian.
"Siapa?" ucap Andreas langsung saja keluar dengan pakaian yang rapi.
"Ini, Pak. Ada surat dari rumah sakit" ucap tukang pos itu menyerahkan amplop yang berisi hasil tes DNAnya dengan Rayza.
"Terimakasih ya, Pak" ucap Andres langsung saja menerima amplop itu sambil tersenyum bahagia. Dia sudah tidak sabar melihat hasilnya. Karna, jika keluarganya tau jika Rayza bukan anaknya maka sudah pasti Andar akan marah besar dan menyuruhnya pisah dengan Ana.
"Itu apa, Ndre?" ucap bu Andar berjalan keluar rumah bersama Andar.
"Ini, Ma. Bukti jika Ana itu bukan wanita baik baik" ucap Andreas tersenyum.
"Maksud, Kakak apa?" ucap Putri langsung saya tidak percaya dengan ucapan Andreas.
"Kalian baca saja sendiri" ucap Andreas memberikan amplop itu kepada Mamanya.
__ADS_1
Bu Andar langsung saja mengambil amplop itu lalu membacayanya dengan seksama di ikuti oleh Andar. Melihat isi amplop itu Andar langsung saja menatap Andreas dengan penuh amarah
Bugghh....
Satu layangan tinju mendarat mulus di wajah mulus di wajah Andreas. "Kamu itu manusia apa binatang? teganya kamu melakukan ini kepada putramu sendiri. Aku menyesal punya putra sepertimu" teriak Andar penuh amarah lalu pergi meninggalkan Andreas yang tersungkur di lantai dengan luka robek di sudut bibirnya karna pukulan dari Andar.
Melihat amarah sang papa, Andreas langsung saja kebingungan. Andreas langsung saja melihat hasil tes DNA itu. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat hasilnya. Andreas mencoba mencoba membacanya berulang kali dan hasilnya tetap sama. Dimana di kertas itu tertulis dengan jelas jika Rayza adalah anak kandung dari Andreas.
"Ternyata Rayza adalah putraku. Ana tidak bernah berselingkuh di belakangku" ucap Andreas tidak percaya.
Para ibu ibu tetangga yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu langsung saja mendekati Andreas dengan penuh emosi.
"Kau itu tidak pantas di sebut sebagai manusia. Binatang saja bisa menyayangi anak anaknya. Sedanhkan, kau! kau yang bermain di belakang Ana. Kau pula yang menuduh Ana melakukan itu, sampai sampai kau tidak mengangap darah dagingmu sendiri" ucap seorang tetangga Andreas yang tau bagaimana kejamnya Andreas kepada Ana.
"Kau itu seharusnya bersyukur memiliki, Ana sebagai istrimu. Tapi, kamu malah menyiayiakan dia dan memperlakukannya seperti binatang. Aku yakin kau akan menyesal, karna kau tidak akan menemukan wanita sebaik Ana di luaran sana" ucap bu Rt di sulut emosi.
"Sudah, kalian pergi saja. Bukannya mencari jalan keluar kalian malah memperkeruh suasana" ucap bu Andar tidak terima anaknya di salahkan.
"Ibu dan anak sama saja. Sama sama berhati iblis! ayo lebih baik kita tinggalkan manusia iblis seperti mereka" ucap bu Rt langsung saja mengajak teman temannya untuk meninggalkan tempat itu.
Mendengar ucapan ibu ibu terangganya bu Rt langsung saja menggumpat menyalahkan Ana. Sedangkan Andreas langsung saja berdiri lalu menuju sepeda motornya.
Andreas langsung saja mencari keberadaan Ana dan Rayza dengan penuh penyesalan. "Rayza, maafkan papa, Nak. Papa menyesal karna telah meragukanmu. Kamu sekarang dimana?" batin Andreas mencoba mencari keberadaan Ana
Andreas mencoba bertanya kepada orang orang yang dia temui sambil menunjukkan foto pernikahannya bersama Ana dahulu. Karna Andreas tidak memiliki satu pun foto Ana yang tersimpan di ponselnya. Yang ada hanyalah foto pernikahan mereka dulu.
Sebegitu banyak orang yang Andreaa temui tapi, satupun yang tidak melihat keberadaan Ana. Andreas yang telah frustasi langsung saja duduk di pingir jalan sambil menyesali semua perbuatannya.
Bersambung.....
__ADS_1