
Sesuai yang di perintahkan Rangga, Ana pergi ke rumah sakit untuk melakukan CT scan. Melihat luka di tubuh Ana, Rangga takut akan ada luka dalam yang mengakibatkan dampak buruk pada tubuh Ana.
"Hasil CT scan tidak menunjukkan ada luka dalam pada tubuhmu. Tapi luka luarnya cukup parah. Aku akan menyimpan hasilnya." ucap Rangga menjelaskan hasil CT scan Ana.
Ana hanya menganguk mendengarkan ucapan Rangga. Tak lupa denga Rayza yang seperti orang dewasa terus saja mendengarkan ucapan Rangga.
"Aman. Ama aik ja tan?" Rayza langsung saja menatap Rangga dengan lekat.
"Mama baik baik saja, sayang. Sebentar lagi luka pada tubuhnya akan sembuh" Rangga langsung saja mendekati Rayza lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Ama au ndak anji ama Ayza?"
"Janji apa, sayang?" ucap Rangga mengerutkan keningnya.
"Aman anji atan ahagiatan Ama. Ama elus aja angis aat elsama Apa. Apa elalu ukul ama Aman" uca0 Rayza bersedih mengingat perbuatan Papanya kepada Mamanya bahkan hal itu sering terjadi di depan matanya sendiri.
"Paman janji, akan bahagiakan kalian berdua sayang" Rangga langsung saja memeluk Rayza. Jujur saja hatinya sangat sakit mendengar ucapan Rayza. Dia pun bertekat akan menjadi sosok Papa yang baik untuk Rayza.
"Aman Ayza apal" ucap Rayza mulai merasakan cacing di perutnya sudah berdemo meminta makan.
"Jagoan Paman lapar ya? Ya sudah ayo kita cari makanan. Na, kamu tunggu di sini saja ya"
"Baiklah, kalian jangan lama ya"
"Kamu mau makan apa? biar aku belikan"
"Sup ayam saja"
"Baiklah" Rangga langsung saja membawa Rayza dan meninggalkan Ana seorang diri di ruang kerjanya.
Untuk menghilangkan jenuhnya Ana mencoba melihat lihat ruangan Rangga yang begitu rapi dan bersih. "Kamu tidak berubah ya, Nga! masih selalu bersih dan rapi" batin Ana tersenyum mengingat sahabatnya itu sangat suka kebersihan dan juga kerapian.
__ADS_1
Ana terus saja menatap ruangan Rangga dengan lekat. Hingga dia tidak sadar jika seorang pria berjas rapi sambil membawa koper membuka pintu ruangan Rangga yang awalnya tertutup rapat.
Pria itu terus saja menatap Ana yang membelakanginya. Pria itu menatap lekat tubuh kurus dan juga dibenuhi luka lembab di sekujur tubuhnya. Ana hanya mengunakan dress pink selutut sehingga luka di bagian lengan dan kakinya tak lupa dengan kakinya yang di perban terlihat dengan jelas.
"Ehem" dehem pria itu tiba tiba.
Mendengar suara deheman seorang pria, Ana langsung saja memutar tubuhnya. Alangkah terkejutnya dia melihat pria gagah yang berdiri tepat di depannya. Pria itu juga kaget melihat kondisi Ana yang banyak luka lembab di bagian wajahnya.
"Ana?" ucap pria itu syok melihat tubuh Ana yang sudah seperti bantalan tinju.
"Kak Brian" ucap Ana lirih tak terasa air matanya menetes dengan derasnya. Luka di hatinya lima tahun silam kembali terbuka.
Dia tak menyangka, jika pria yang telah merengut kesuciaannya. Setelah itu, pergi mengilang bagaikan di telan bumi kini hadir kembali tepat di depan matanya.
"Kamu kenapa bisa seperti ini, Na?" ucap Brian mencoba mendekati Ana sambil menatap seluruh luka di tubuh Ana dengan penuh rasa tidak percaya.
"Stop! jangan mendekat" teriak Ana tegas smbil berjalan mundur.
"Aku tidak akan melukaimu, Na." ucap Brian mencoba menenangkan Ana yang gemetar ketakutan.
"Ama..anga ukul Ama hiks..hiks.." Rayza langsung saja berlari ke arah Ana sambil menagis ketakutan.
"A..aku tidak akan menyakiti Mamamu" ucap Brian binggung melihat reaksi Ana dan Rayza yang begitu ketakutan.
"Lebih baik kakak keluar dari sini" teriak Rangga langsung saja mendekati Ana dan Rayza.
"Tapi, mereka kenapa?" ucap Brian kebingungan melihat keadaan Ana. Ditambah lagi sosok melihat sosok Rayza yang terus menangis ketakutan sambil menatapnya dengan penuh amarah. Dari mata Rayza terlihat jelas kemarahan yang begitu mendalam. Walupun sedang ketakutan tapi Rayza berusaha melindungi Mamanya.
"Sudah, kakak keluar saja" teriak Rangga lalu mencoba menenangkan Rayza.
Tak banyak bertanya lagi, Brian langsung saja keluar sambil menatap iba Ana yang meringkuk ketakutan bersama Rayza.
__ADS_1
"Sayang, jangan takut! Ada paman disini. Tidak akan ada orang yang berani menyakiti mamamu" Rangga terus saja menenangkan Rayza yang menangis.
"Aman iapa olang itu? Apa ama angis?" Rayza yang mulai tenang langsung saja menayakan siapa Brian.
"Dia kakak sepupu, Paman. Jadi kamu tidak usah takut ya. Dia tidak akan menyakitimu dan juga mamamu"
Mendengar ucapan Rangga, Rayza langsung saja menganguk mengerti lalu mencoba untuk tidak menangis lagi. Rangga langsung saja mendudukkannya di sofa. Lalu memberikan cemilan untuknya.
"Kamu duduk dulu di sini ya." ucap Rangga lalu kembali menemui Ana yang terus gemetar ketakutan.
"Na," Rangga langsung saja berjongkok lalu membawa Ana kedalam pelukannya.
"Menangislah sepuasmu, Na. Keluarkan semua isi hatimu" Rangga langsung saja mengeratkan pelukannya lalu mencoba megelus lembut punggung Ana.
*****
Di luar ruangan Rangga, Brian terus saja berjalan mondar mandiri tepat di depan pintu ruangan Rangga. Dia terus saja berpikir keras apa yang terjadi kepada Ana semenjak dia menghilang.
"Kamu kenapa, Na? kenapa keadaanmu sampai seperti itu? maafkan aku karna telah meninggalkanmu, Na. Maafkan aku. Aku terlalu egois sehingga aku tidak perduli lagi denganmu." gumam Brian menyesali perbuatannya lima tahun lalu.
Dimana dia terbuai dengan rayuan wanita lain dan mulai melupakan Ana. Tanpa memikirkan resiko yang di alami Ana setelah apa yang pernah dia lakukan ke Ana. Hingga akhirnya Brian menghentikan langkahnya ketika melihat Rangga keluar dari ruangannya dengan keadaan yang sangat kacau.
"Untuk apa kau kembali?" ucap Rangga menatap tajam Brian. Dari sorot matanya terlihat amarah yang begitu mendalam kepada Brian.
"Kenapa, Ana? kenapa keadaanya bisa seperti itu?" Brian tak memperdulikan ucapan Rangga. Yang dia pikirkan hanyalah kenapa Ana bisa mengalami kekerasan sekejam itu.
"Itu semua karna kau! karna kau, telah merengut kesuciannya lalu meninggalkannya bagaikan sampah. Sehingga dia harus menikah dengan lelaki iblis seperti suaminya" teriak Rangga menunjuk ke wajah Brian dengan penuh amarah.
"Maksudmu?" ucap Brian bingung dengan ucapan Rangga.
"Setahun lalu aku yang menangani Ana melahirkan. Aku yang merawatnya selama di rumah sakit karna suaminya tidak peduli sama sekali padanya. Suaminya bilang jika dia tidak terima karna Ana telah tidak suci lagi saat menikah dengannya. Itu alasannya menyiksa Ana sampai seperti itu, dan itu semua karna mu. Karna kau telah merengut kesucian Ana"
__ADS_1
Mendendengar ucapan Rangga, Brian langsung saja merasakan sesak di dadanya. Brian tidak menyangka atas perbuatan mereka di masa lalu Ana akan mengalami penderitaan seperti itu.
Bersambung...