
Setelah selesai melakukan fhiting baju pengantin Rangga langsung saja mengantarkan Ana ke kantor Brian. Jujur saja hatinya tidak rela membiarkan Ana ke sana seorang diri. Namun, dia harus melakukan oprasi sebentar lagi.
"Na" ucap Rangga mencoba memegang tangan Ana ketika Ana hendak keluar dari mobilnya.
"Hem?"
"Tidak apa apa"
"Oh, ya sudah. Aku turun ya" ucap Ana kembali membuka pintu.
"Na" ucap Rangga kembali.
"Apa, Nga?" ucap Ana mulai kesal.
"Kamu jaga jarak dengan Kak Brian ya"
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak mau saja kamu dekat dengan pria yang sudah menyakitimu"
"Hem. Kamu cemburu ya?" ucap Ana tersenyum mengejek Rangga.
"Ti...tidak. Siapa yang cemburu?" ucap Rangga berusaha menyembuyikan perasaannya.
"Bener? ya sudah kalau gak mau jujur" ucap Ana memayunkan bibirnya lalu kembali membuka pintunya.
"Jangan terus mengodaku, Na" ucap Rangga menatap bibir Ana dengan penuh hasrat.
"Siapa yang mengodamu?" ucap Ana polos.
Tidak ada jawaban dari Rangga, Dia langsung saja melahap bibir Ana yang telah lama mengoda imannya. Ana yang terkejut dengan sikap Rangga hanya mampu membulatkan matanya terkejut.
Rangga mencoba menghisap bibir Ana lalu mengigit kecil bibir bawah Ana lalu melepaskannya untuk mengambil napas kembali. Rangga langsung saja mengelap bibir Ana yang basah dengan jari jempolnya.Dia terus saja menatap bibir Ana dengan tatapan penuh hasrat tak lupa juga dengan napas memburunya.
"Ha...ha..bibirmu..ha..ha.." Ana tertawa terbahak bahak sambil memegang perutnya yang sakit.
"Memangnya bibirku kenapa? mau lagi?" ucap Rangga mengerutkan keningnya bingung.
"Nih, lihat" ucap Ana langsung saja mendekatkan wajah Rangga ke kaca spion depan.
__ADS_1
"Sial lisptickmu luntur, Na" ucap Rangga kesal ketika melihat bekas noda lisptick Ana di bibirnya.
"Kamu sih main nyosor saja" ucap Ana langsung saja mengambil tissu lalu membantu Rangga menghapus noda lisptick di bibir Rangga.
Melihat Ana yang begitu manis Rangga langsung saja tersenyum. Apa lagi melihat Ana yang tidak marah ketika dia mencium bibirnya membuat hati Rangga semakin lega. Dengan ciuman pertama mereka ini Rangga semakin yakin jika Ana mulai menerima dirinya.
"Kenapa kamu senyum senyum seperti itu?"
"Ti..tidak kenapa napa. Aku hanya terpesona dengan perhatian calon istriku yang begitu manis"
"Gombal. Sudah aku turun ya" ucap Ana langsung saja membuka pintunya.
Namun Rangga langsung saja memegang tangan Ana lalu mencium keningnya dengan lembut. "Kamu jangan terlalu lelah ya. Ingat tugasmu menjadi tulang rusuk bukan tulang punggung" ucap Rangga lalu mengacak acak rambut Ana.
Ana langsung saja tersipu malu dengan perlakuan manis Rangga. Dia langsung saja keluar dari mobil Rangga lalu melangkahkan kakinya menuju kantor Brian.
Namun, sesampainya di depan pintu Ana kembali menoleh ke belakang dan melihat Rangga masih menatapnya dari dalam mobil. Ana langsung saja tersenyum lalu melambaikan tangannya kepada Rangga.
Melihat itu Rangga langsung saja tersenyum lalu membalas lambaian tangan Ana. Setelah itu dia langsung saja melajukan mobilnya meninggalkan area kantor Brian. Setelah kepergian Rangga, Ana langsung saja kembali mengayunkan langkahnya dengan sangat gembira.
Namun Ana langsung saja terkejut ketika melihat Brian berdiri di depannya "Kak Brian sejak kapan di sini?"
"Sejak pertama kali Rangga menghentikan mobilnya di sana" ucap Brian dengan jujur. Karna sedari tadi dia memperhatikan kemesraan Ana dengan Rangga dengan perasaan sangat hancur.
"Rayza, mana?" ucap Brian yang tidak melihat keberadaan Rayza bersama Ana.
"Rayza di rumah sama Paman dan Bibi"
"Paman dan Bibi ada di sini?"
"Ia, Bukannya Paman dan Bibi kembali ke kota ini karna kelakuan Kakak" ucap Ana kesal mengingat jika Brian yang mengadu kepada kedua orang tua Rangga jika mereka tinggal satu atap.
"Bu..bukan, Bukan Kakak yang bilang" ucap Brian gugup melihat kekesalan Ana.
"Sudahlah, Kakak tidah usah bohong. Aku sudah tau semuanya. Sekarang Kakak puas kan?" ucap Ana melipat kedua tangannya di dadanya.
"Bu..bukan seperti itu, Na"
"Sudahlah. Aku malas denger alasan Kakak lebih baik aku ngerumpi bareng Miss Egi" ucap Ana langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan Brian.
__ADS_1
"Na" ucap Brian kembali.
"Apa lagi!" ucap Ana kesal.
"Tidak apa apa" ucap Brian langsung saja terdiam melihat ekspresi Ana.
"Ya, sudah" ucap Ana langsung saja mengayunkan langkahnya kembali. Brian mendengar Ana berjalan sambil bernyanyi bahagia.
"Pasti kamu lagi PMS ya, Na? Kelakuan kamu saat PMS tidak ada berubahnya sama sekali" gumam Brian tersenyum. Dia sudah hapal betul bagaimana sifat Ana. Brian langsung saja melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
"Hello Ana, sayang. Kamu akhirnya datang juga" ucap Miss Egi langsung saja menyambut kedatangan Ana.
"Miss hari ini aku mau make up ala barat ya. Tapi ingat jangan terlalu norak" ucap Ana langsung saja duduk di kursi rias.
"Siap, Bos" ucap Egi langsung saja merias Ana sesuai dengan permintaannya. Setelah itu Ana langsung saja melakukan pemotretan. Setelah selesai Ana langsung saja menghampaskan tubuhnya di sofa karna merasa sangat lelah.
"Na," ucap Brian datang membawa kantongan plastik
"Iya"
"Ini untukmu. Kamu pasti laperkan"
"Ini apa?"
"Kamu lihat saja. Ini teh hangat untukmu supaya segar"
"Terima kasih" ucap Ana langsung saja menerima teh dan kantongan plastik yang di berikan Brian.
"Wah... Bakso. Terima kasih ya kak" ucap Ana tersenyum semangat melihat dua bungkus bakso yang panas di berikan Brian.
"Sini biar kakak tuang ke mangkuknya" ucap Brian langsung saja membuka bungkusan bakso itu lalu menaruhnya di mangkuk yang telah dia sediakan lalu memberikannya kepada Ana.
Ana tanpa basa basi langsung saja menyantap bakso itu dengan lahapnya. Brian yang melihat Ana menikmati baksonya dengan lahap langsun saja tersenyum bahagia. Bukan hanya sifat Ana yang tidak berubah tapi makanan kesukaan Ana juga tidak berubah sama sekali.
"Kamu makannya pelan pelan, Na"
"Ia, Kak. Habisnya baksonya enak sekali. Rasanya sama seperti bakso di deket sekolahku dulu" ucap Ana mengingat rasa warung bakso yang sering dia kunjungi bersama Brian atau Rangga sewaktu sekolah dulu.
"Itu memang bakso dari sana, Na. Kakak tadi ada mitingdi luar dan kebetulan lewat. Jadi Kakak beli deh. Sebab, Kakak juga rindu rasa bakso ini" ucap Brian beralasan padahal dia sengaja pergi ke warung bakso itu untuk Ana.
__ADS_1
"Pantasan rasanya sama persis. Besok aku ajak Rangga dan Rayza ke sana" ucap Ana langsung saja mengingat Rangga dan juga Rayza. Namun mendengar ucapan Ana perasaan Brian bagaikan teriris. Dia merasa csmburu ketika Ana mengingat Ana saat bersamanya.
Bersambung....